PALANGKA RAYA (Arrahmah.id) – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Tengah selama lebih dari tiga bulan semakin mengkhawatirkan.
Kabut asap tebal menyebabkan kualitas udara di Kota Palangka Raya memburuk drastis, bahkan indeks pencemaran udara dilaporkan jauh melampaui ambang batas berbahaya.
Salah seorang warga Kalimantan Tengah, Akhmad Dhani, mengungkapkan bahwa kabut asap menyelimuti wilayahnya sepanjang hari, mulai pagi hingga malam. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan beraktivitas di luar ruangan karena harus menghirup udara yang pekat dan menyesakkan.
“Di mana kita melihat dari indikator ISPU atau Indeks Standar Pencemar Udara itu 1.000 ke atas, bahkan bisa menyentuh 4 ribu ketika asap sedang pekat-pekatnya, di mana indikator berbahaya itu 300, ini sudah jauh sekali melampaui 300 itu. Dan kami warga itu sangat merasakan asap yang pekat dan menyesakkan dada kami,” tutur Akhmad Dhani dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Selasa (13/10/2026).
Sekolah Diliburkan, Ribuan Warga Terdampak ISPA
Buruknya kualitas udara akibat karhutla berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Pemerintah daerah telah menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA selama kurang lebih tiga bulan terakhir.
Namun, kebijakan tersebut belum sepenuhnya melindungi masyarakat dari paparan kabut asap. Warga usia produktif tetap harus bekerja di luar ruangan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Paparan asap yang berlangsung terus-menerus juga memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang ribuan warga di Kalimantan Tengah.
Sejumlah warga mengeluhkan berbagai gejala, seperti sesak napas, pusing, sakit tenggorokan, hingga batuk kering. Meski mengalami gangguan kesehatan, sebagian warga memilih menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan karena harus tetap bekerja.
Untuk membantu masyarakat, pemerintah daerah membagikan masker. Relawan juga menyalurkan bantuan medis berupa obat-obatan, oksigen, dan nebulizer bagi warga yang membutuhkan.
Pemadaman Karhutla Terkendala Bara Api di Lahan Gambut
Selain menjadi warga terdampak, Akhmad Dhani aktif sebagai relawan logistik yang membantu penanganan karhutla. Ia menceritakan bahwa upaya pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala.
Salah satu tantangan utama adalah kebakaran di lahan gambut. Api dapat membakar lapisan bawah permukaan tanah dan menyisakan bara yang terus mengeluarkan asap meskipun titik api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Di sisi lain, titik-titik kebakaran baru terus bermunculan. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman semakin berat karena jumlah personel yang tersedia tidak sebanding dengan luas wilayah terdampak dan banyaknya titik api.
Upaya pemadaman melalui jalur udara atau water bombing serta teknologi modifikasi cuaca juga belum dapat direalisasikan. Kabut asap yang pekat membatasi jarak pandang di langit Kalimantan Tengah sehingga berisiko mengancam keselamatan penerbangan.
Berbagai kendala tersebut memperpanjang penanganan karhutla sekaligus meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kesehatan dan keselamatan yang ditimbulkan.
Warga Desak Evakuasi Anak-anak hingga Lansia
Menghadapi situasi yang semakin mengkhawatirkan, warga mendesak pemerintah agar meningkatkan respons penanganan bencana, tidak hanya melalui pemadaman, tetapi juga pencegahan dan mitigasi yang konkret.
Akhmad Dhani secara khusus meminta pemerintah segera mengevakuasi kelompok rentan yang berisiko tinggi terdampak kabut asap, terutama anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Harapan kami ke depan pihak pemerintah lebih responsif lagi, tidak hanya dalam hal penanganan tapi juga pencegahan, mitigasi bencana yang sangat konkret. Dan kami berharap untuk pemerintah segera mengevakuasi warga-warga yang rentan akibat kabut asap seperti ini, terutama di pusat kota dan lain-lain, yang di mana di sana ada kelompok seperti anak-anak bayi, anak-anak kecil, lansia, ibu-ibu hamil, ibu menyusui,” tegasnya.
Menurutnya, perlindungan terhadap kelompok rentan perlu menjadi prioritas mengingat paparan kabut asap berlangsung dalam waktu lama dan telah mengganggu kehidupan masyarakat.
Selain ancaman kesehatan, warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran juga menghadapi risiko keselamatan akibat api yang dapat menjalar sewaktu-waktu. Mereka harus hidup dalam kecemasan karena khawatir rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka ikut terbakar.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah darurat, termasuk menyiapkan evakuasi bagi masyarakat yang berada di garis depan kebakaran. Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi keselamatan jiwa sekaligus mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap berkepanjangan.
Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah kini tidak hanya menjadi persoalan pemadaman api, tetapi juga menyangkut perlindungan kesehatan, keselamatan warga, serta kebutuhan akan langkah mitigasi bencana yang cepat dan terkoordinasi.
(ameera/arrahmah,id)
