Memuat...

Bitcoin untuk Bom: Bagaimana Kripto Mendanai Militer Iran di Tengah Sanksi Berat

Zarah Amala
Selasa, 31 Maret 2026 / 12 Syawal 1447 11:38
Bitcoin untuk Bom: Bagaimana Kripto Mendanai Militer Iran di Tengah Sanksi Berat
Kelompok-kelompok yang terkait dengan Rusia dan Iran menggunakan mata uang kripto untuk membiayai pembelian drone murah dan komponen militer (Getty)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Di tengah konfrontasi militer terbuka antara AS-'Israel' melawan Iran, sebuah laporan investigasi mengungkap adanya ekosistem perang "tak kasat mata" yang memungkinkan Iran dan Rusia mempertahankan pasokan senjata mereka. Laporan dari perusahaan analisis blockchain Chainalysis dan Atlantic Council menyoroti penggunaan mata uang kripto dan jalur pasokan hibrida sebagai jantung dari perlawanan finansial dan militer mereka terhadap sanksi internasional.

Aliansi yang dijuluki sebagai Poros Penghindar (melibatkan Tiongkok, Rusia, dan Iran) telah berhasil membangun sistem mandiri yang menggabungkan pendanaan digital anonim dengan teknologi manufaktur militer terdistribusi.

Kelompok yang berafiliasi dengan Rusia dan Iran menggunakan aset kripto untuk membeli komponen drone komersial di platform e-commerce global. Sejak 2022, kelompok pro-Rusia saja telah menerima lebih dari US$8,3 juta dalam bentuk kripto untuk kebutuhan militer.

Investigasi menemukan dompet digital yang terhubung dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) melakukan transaksi pembelian suku cadang drone dari vendor di Hong Kong. Meski volumenya kecil dibanding anggaran militer total, teknologi blockchain menyulitkan otoritas tradisional untuk memblokir transaksi ini secara real-time.

Meskipun ada sanksi ketat, komponen elektronik dari AS, Eropa, dan Jepang tetap mengalir ke drone Iran melalui perusahaan cangkang dan distributor di Tiongkok serta Hong Kong.

Tiongkok dilaporkan memberikan akses sistem satelit Beidou kepada Iran. Hal ini meningkatkan akurasi serangan drone Iran dan memungkinkan penggunaan sinyal tipuan (spoofing) untuk mengelabui sistem pertahanan udara AS dan 'Israel'.

Pada 2025, sekitar 90% perakitan drone Shahed telah pindah ke dalam wilayah Rusia (Zona Ekonomi Alabuga). Dengan bantuan ahli Tiongkok, Rusia bahkan mengembangkan versi baru seperti Garpiya-3.

Laporan terbaru menyebutkan Rusia kini mulai memasok balik drone Shahed buatan Rusia kepada Iran untuk digunakan dalam serangan melawan target-target AS dan 'Israel' di Timur Tengah.

Iran mengandalkan perusahaan kimia Tiongkok untuk mengamankan bahan baku (prekursor) bahan bakar roket padat dan bahan peledak. Bahan-bahan ini diangkut oleh Armada Bayangan (Shadow Fleet), kapal-kapal tanker dengan identitas yang disamarkan, yang berlayar dari pelabuhan-pelabuhan Tiongkok untuk menghindari deteksi regulator global.

Apa yang kita lihat di 2026 ini bukan lagi sekadar upaya pelarian dari sanksi, melainkan pembentukan jaringan produksi mandiri. Integrasi antara komponen Barat, saluran pengadaan Tiongkok, dan kapasitas manufaktur Rusia telah menciptakan arsenal militer yang sangat tahan terhadap tekanan internasional. Perang digital dan logistik ini membuktikan bahwa memutus aliran dolar saja tidak lagi cukup untuk menghentikan laju mesin perang di era modern. (zarahamala/arrahmah.id)