Memuat...

Gaza Hadapi Ancaman Bencana saat Musim Dingin, Ribuan Keluarga Tinggal di Tenda Rusak

Zarah Amala
Sabtu, 7 November 2026 / 28 Jumadilawal 1448 10:16
Gaza Hadapi Ancaman Bencana saat Musim Dingin, Ribuan Keluarga Tinggal di Tenda Rusak
Jalur Gaza menghadapi pencemaran lingkungan yang semakin meluas akibat penumpukan air limbah dan sampah. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan wabah di tengah warga. (Getty Images)

KHAN YUNIS (Arrahmah.id) - Komite Darurat Musim Dingin di Khan Yunis, Gaza selatan, menyerukan intervensi segera dan serius untuk memasukkan alat berat serta perlengkapan penanganan darurat musim dingin ke Jalur Gaza. Peralatan tersebut dibutuhkan untuk membantu warga menghadapi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat dan badai yang diperkirakan melanda saat musim dingin tiba.

Wali Kota Khan Yunis memperingatkan bahwa kondisi yang akan dihadapi warga selama musim dingin berpotensi memicu bencana kemanusiaan berskala luas di Jalur Gaza.

Komite tersebut menyatakan kebutuhan mendesak terhadap truk penyedot air hujan. Namun, masuknya kendaraan itu terhambat oleh 'Israel'. Sekitar 10 truk penyedot air dilaporkan telah tertahan di perlintasan selama setahun, sementara jumlah kendaraan serupa yang tersedia di dalam Gaza sangat terbatas dan tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk.

Komite juga meminta jaminan pasokan bahan bakar dalam jumlah lebih besar agar pemerintah kota dapat menyingkirkan puing-puing bangunan dan mempersiapkan wilayah menghadapi kemungkinan keadaan darurat akibat perubahan cuaca.

Menurut komite, sekitar 17 juta ton puing menumpuk di jalan-jalan Khan Yunis akibat kehancuran infrastruktur dan rumah-rumah warga. Pemerintah kota tidak mampu membersihkannya karena kekurangan solar, kerusakan alat berat, serta ketergantungan pada sektor swasta yang juga menghadapi keterbatasan serupa.

Tenda Pengungsi Tak Layak Hadapi Musim Dingin

Komite Darurat juga memperingatkan ancaman sistem tekanan rendah yang diperkirakan melanda dalam beberapa hari mendatang. Cuaca tersebut berisiko membahayakan ribuan keluarga, terutama karena sekitar 85 persen tenda pengungsi berada di sepanjang pesisir Gaza.

Tenda-tenda itu membutuhkan penggantian segera karena kondisinya sudah rusak dan tidak layak untuk menghadapi musim dingin.

Pada awal November, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Basal menyatakan sekitar 200 ribu tenda yang telah usang masih menjadi tempat tinggal ratusan ribu pengungsi. Tenda-tenda tersebut tidak lagi memberikan perlindungan minimum bagi penghuninya.

Basal juga memperingatkan keberadaan sekitar 7.800 tenda di lokasi berbahaya yang harus segera dikosongkan. Lokasi tersebut berada dekat aliran banjir, lembah, dan garis pantai.

Dalam kunjungan lapangan pada akhir Oktober, sejumlah pengungsi mengatakan air hujan mulai merembes ke tempat tinggal mereka dan merusak perlengkapan tidur. Pada saat yang sama, harga terpal plastik pelindung melonjak dari sekitar 50 shekel atau 13 dolar AS menjadi 300 shekel atau sekitar 80 dolar AS. Harga tersebut jauh di luar kemampuan banyak keluarga pengungsi.

Komite juga menyoroti tekanan berlebihan terhadap generator listrik yang terus beroperasi tanpa henti. Kondisi itu menyebabkan gangguan setiap hari, sementara perbaikan generator berkapasitas besar berjalan sangat lambat akibat kekurangan suku cadang.

Sejumlah generator utama bahkan dilaporkan berhenti beroperasi sepenuhnya karena krisis pasokan oli mesin dan lonjakan harga yang sangat tinggi. Harga minyak pelumas disebut telah mencapai 1.000 dolar AS per liter. Akibatnya, biaya penggantian oli untuk satu generator setara dengan harga pembelian generator tersebut sebelum perang.

Komite Darurat turut memperingatkan memburuknya krisis sanitasi akibat rusaknya generator dan minimnya fasilitas pendukung.

Karena tidak memiliki alternatif, pemerintah kota terpaksa memompa lebih dari 15 ribu meter kubik air limbah setiap hari ke laut melalui generator yang sudah usang.

Kondisi tersebut dinilai mengancam terjadinya bencana lingkungan dan kesehatan serius yang membahayakan para pengungsi maupun warga lainnya. (zarahamala/arrahmah.id)