RIYADH (Arrahmah.id) -- Suriah membantu Arab Saudi dengan saran dan pelatihan militer di tengah serangan milisi Syiah Houtsi Yaman, dan telah mengirim sejumlah terbatas personel militer ke kerajaan itu, menurut Reuters pada Jumat (6/11/2026). Pengiriman itu menyusul perjanjian kerja sama pertahanan Suriah-Saudi yang ditandatangani di Riyadh pada Rabu (4/11).
Dilansir Reuters (6/11), penasihat dan tim pelatih dari Suriah, yang pasukannya terlatih lewat bertahun-tahun perang, datang ke Arab Saudi untuk melatih unit Saudi dan Yaman di dalam kerajaan agar lebih efektif dalam pertempuran. Dua sumber militer Suriah yang mengetahui langsung hal itu mengatakan puluhan personel berangkat ke Saudi dalam beberapa pekan terakhir.
Seorang diplomat menyebut perjanjian pertahanan yang ditandatangani Rabu mencakup dukungan penasihat, pelatihan, dan pertukaran keahlian. Sumber militer menyebut mandat mereka bisa lebih luas, sedangkan diplomat senior Suriah menyatakan penempatan pasukan pada tahap ini “prematur” karena Suriah fokus pada keamanan dalam negeri, perbatasan, dan rekonstruksi.
Seorang pejabat senior Saudi mengatakan kepada Reuters bahwa pertukaran keahlian dengan Suriah pada dasarnya untuk merestrukturisasi pasukan Suriah. Namun menurutnya itu tidak berarti mitra Suriah tidak membantu Riyadh dengan pengalaman tempur mereka melawan kelompok milisi.
Ia menambahkan latihan bersama sedang berlangsung dan lebih banyak latihan keamanan dan pertahanan direncanakan. Pemerintah Saudi, Kementerian Pertahanan Suriah, Departemen Luar Negeri AS, pemerintah Yaman yang didukung Saudi, dan Houtsi tidak menanggapi permintaan komentar Reuters.
Sebelumnya, Houtsi menembakkan rudal ke bandara dan fasilitas minyak Saudi, sedangkan Arab Saudi melancarkan serangan udara untuk mendukung sekutu Yamannya. Pada Kamis (5/11), Turki meratifikasi pakta pertahanan yang ditandatangani di Mekkah pada Agustus bersama Pakistan dan Arab Saudi, sehingga membuka jalan bagi Ankara mengirim dukungan militer ke Riyadh. (hanoum/arrahmah.id)
