Memuat...

Aber Kawas, Perempuan Palestina-AS Pertama di Senat New York

Hanoum
Jumat, 6 November 2026 / 27 Jumadilawal 1448 04:49
Aber Kawas, Perempuan Palestina-AS Pertama di Senat New York
Aber Kawas. [Foto: X]

NEW YORK (Arrahmah.id) -- Aber Kawas, politikus Partai Demokrat dan anggota Democratic Socialists of America (DSA), memenangi kursi Distrik 12 Senat Negara Bagian New York dalam pemilu Selasa (3/11/2026). Ia menjadi warga Amerika Serikat (AS) keturunan Palestina pertama yang terpilih di badan legislatif negara bagian itu, dan perempuan berhijab pertama di sana. Kursi Kawas berada di Albany, ibu kota negara bagian, bukan di Senat federal AS di Washington.

Dilansir Palestinian Information Center (5/11), Kawas, perempuan kelahiran Brooklyn dari keluarga Palestina yang datang dari Yordania, menggabungkan isu pembiayaan perang dan krisis perumahan dalam kampanyenya. Ia menolak menyembunyikan identitas Palestina atau melunakkan penolakannya terhadap perang di Gaza.

Kampanyenya mengusung slogan “Fund Dignity, Fight Destruction” dan mencakup layanan kesehatan, perumahan terjangkau, transportasi publik, perlindungan imigran, dan penolakan pendanaan perang. PIC menilai kemenangan itu tidak otomatis membuktikan sikapnya soal Gaza menentukan pilihan pemilih, karena kampanyenya juga menyoroti isu ekonomi dan imigrasi.

Menurut Siasat, Kawas meraih sekitar 75 persen suara saat 90 persen surat suara terhitung dan The New York Times menetapkan pemenang pada Selasa. Ia mengalahkan kandidat Republik Han-Khon To di distrik yang sangat condong ke Demokrat, yang mencakup Astoria, Long Island City, Sunnyside, Woodside, dan Jackson Heights di Queens, menurut Newsy Today. Setelah menang, Kawas menulis di X bahwa ia dan pendukungnya “membuat sejarah”.

Kawas menang pemilihan pendahuluan Demokrat pada 23 Juni dengan mengalahkan anggota Majelis Negara Bagian Steven Raga. Ia didukung Wali Kota New York Zohran Mamdani, Senator Bernie Sanders, dan anggota DPR Rashida Tlaib. Ia ikut merancang inisiatif “Not On Our Dime” bersama Mamdani, yakni rancangan undang-undang agar organisasi nirlaba New York tidak mendanai kekerasan pemukim 'Israel' terhadap warga Palestina. Rancangan itu mengizinkan gugatan sanksi perdata oleh Jaksa Agung negara bagian.

Kemenangan Kawas juga memicu kritik. Daily Caller dan RedState menyoroti unggahan kemenangannya yang memakai emoji bendera Palestina tanpa bendera Amerika, dan menyebutnya kritikus keras 'Israel'. Kawas pernah bercerita kepada majalah Jacobin bahwa ayahnya ditahan selama tiga tahun sebelum dideportasi saat ia duduk di kelas tujuh, dan pengalaman itu membentuk pandangan politiknya. Sebagai informasi, kemenangan itu terjadi pada pemilu sela yang juga mengantar sedikitnya 36 kandidat Muslim menang atau unggul di seluruh AS, menurut penghitungan Muslim Network TV. (hanoum/arrahmah.id)