Memuat...

Gelombang Protes dan Krisis Utang AS: Bukti Rapuhnya Hegemoni Kapitalisme

Oleh Riska B.Dosen
Jumat, 10 April 2026 / 22 Syawal 1447 14:40
Gelombang Protes dan Krisis Utang AS: Bukti Rapuhnya Hegemoni Kapitalisme
Ilustrasi. (Foto: Getty Images)

Potret ‘No Kings’

Gelombang unjuk rasa besar terjadi di Amerika Serikat pada akhir Maret 2026. Jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” yang berlangsung di berbagai kota sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Donald Trump. Demonstrasi ini meluas di banyak negara bagian dan menunjukkan ketidakpuasan publik yang semakin besar terhadap pemerintah. (CNN Indonesia, Antara, Kompas)

Di sisi lain, kondisi ekonomi Amerika Serikat juga menunjukkan tekanan serius. Utang nasional AS telah menembus US$39 triliun pada Maret 2026. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya pengeluaran negara, termasuk akibat keterlibatan dalam konflik internasional. Dampaknya, beban utang per individu menjadi sangat besar dan mengindikasikan potensi krisis ekonomi yang semakin nyata. (CNBC Indonesia)

Membaca dibalik Peristiwa

Realitas ini menunjukkan bahwa ambisi global Amerika Serikat, khususnya di bawah kepemimpinan Donald Trump, membawa konsekuensi besar yang tidak bisa ditutupi lagi. Kebijakan luar negeri yang agresif, keterlibatan dalam konflik, serta dukungan terhadap sekutu strategis seperti Israel telah mendorong pengeluaran negara secara besar-besaran. Akibatnya, utang negara melonjak tajam hingga mencapai titik yang mengkhawatirkan.

Di saat yang sama, rakyat Amerika sendiri mulai merasakan dampaknya. Aksi “No Kings” menjadi bukti bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah semakin meluas. Ini menunjukkan bahwa hegemoni yang selama ini dibangun oleh Amerika Serikat tidak hanya menimbulkan masalah bagi dunia, tetapi juga bagi rakyatnya sendiri.

Lebih jauh, dukungan Amerika Serikat terhadap berbagai agenda geopolitik di Timur Tengah, termasuk keberpihakan pada Israel dan konfrontasi dengan Iran, semakin membuka mata dunia tentang bagaimana kekuatan besar menggunakan pengaruhnya untuk mempertahankan dominasi. Kebijakan ini tidak hanya memperpanjang konflik, tetapi juga memperlihatkan wajah sistem kapitalisme global yang sarat kepentingan dan eksploitasi.

Dalam konteks ini, hubungan sebagian negara Muslim dengan Amerika Serikat juga patut dipertanyakan. Ketika ada penguasa yang justru bersekutu atau bergantung pada kekuatan besar tersebut, muncul kekhawatiran bahwa kepentingan umat tidak lagi menjadi prioritas utama.

Jalan Perubahan Hakiki

Kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin sadar bahwa dominasi Amerika Serikat beserta sistem kapitalisme dan politik globalnya telah membawa banyak kerusakan, baik dalam hubungan antarnegara maupun dalam kehidupan manusia secara luas. Konflik yang terus terjadi, ketidakadilan, serta eksploitasi sumber daya menjadi bukti nyata dari dampak sistem tersebut.

Oleh karena itu, upaya penyadaran politik umat tidak boleh berhenti. Umat Islam perlu memahami realitas politik global secara lebih mendalam, termasuk bagaimana kekuatan besar memainkan perannya. Edukasi tentang konsep politik Islam, sistem kehidupan Islam, serta kepemimpinan dalam Islam menjadi hal yang penting untuk terus disebarkan.

Selain itu, persatuan umat Islam juga menjadi kunci penting. Tanpa persatuan, umat akan terus berada dalam posisi lemah dan mudah dipengaruhi oleh kepentingan pihak luar. Sebaliknya, dengan persatuan yang kuat, umat memiliki potensi besar untuk menentukan arah masa depannya sendiri.

Pada akhirnya, berbagai kalangan menyerukan pentingnya perubahan mendasar dalam tatanan dunia. Sebuah sistem yang dianggap mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan secara menyeluruh diyakini perlu diperjuangkan, sehingga dunia tidak lagi didominasi oleh kekuatan yang hanya mengedepankan kepentingan sempit dan merugikan banyak pihak.

Editor: Hanin Mazaya