Memuat...

Gideon Levy: 'Israel' Kini Dipandang Lebih Berbahaya Bagi Perdamaian Dunia Ketimbang Iran

Zarah Amala
Senin, 13 April 2026 / 25 Syawal 1447 11:22
Gideon Levy: 'Israel' Kini Dipandang Lebih Berbahaya Bagi Perdamaian Dunia Ketimbang Iran
Tindakan 'Israel' dalam perang pemusnahan di Gaza, termasuk pembunuhan, penghancuran, dan kelaparan, telah membuat opini publik global berbalik melawannya (Reuters).

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Penulis terkemuka 'Israel', Gideon Levy, meluncurkan kritik tajam melalui kolomnya di surat kabar Haaretz pada Ahad (12/4/2026). Levy secara terbuka menyatakan bahwa sudah saatnya dunia membicarakan kegagalan "eksperimen Zionisme," mengingat besarnya pertumpahan darah, penindasan, dan citra buruk 'Israel' yang kini memicu rasa muak di tingkat global.

Levy meragukan apakah masyarakat 'Israel' menyadari betapa luasnya kampanye pengucilan dan stigmatisasi terhadap negara mereka di seluruh dunia saat ini. Ia mengaku belum pernah menyaksikan kondisi pengucilan sedalam ini sepanjang kariernya.

Dalam tulisannya yang provokatif, Levy membandingkan persepsi dunia terhadap warga 'Israel' dan Iran. Ia menyebut bahwa saat ini, warga 'Israel' dipandang secara global sebagai sosok yang lebih menjijikkan daripada warga Iran. Menurutnya, banyak orang di dunia sekarang menganggap 'Israel' sebagai ancaman yang lebih besar bagi perdamaian dunia dibandingkan dengan Iran.

Levy menjelaskan perbedaan mendasar dalam persepsi tersebut. Terhadap warga Iran, dunia cenderung memisahkan antara rakyat dan rezimnya. Rakyat Iran sering dipandang sebagai penentang rezim yang tidak bertanggung jawab atas kebijakan pemerintah mereka.

Sementara itu, setiap orang Yahudi 'Israel' dipandang sebagai mitra atau kaki tangan sistem. Hal ini dikarenakan mayoritas dari mereka mendukung setiap serangan militer brutal dan hampir tidak ada oposisi nyata terhadap tindakan tersebut.

Levy menolak keras jika kebencian global terhadap 'Israel' saat ini dikaitkan dengan sentimen antisemitisme. Ia berargumen bahwa kehancuran yang ditimbulkan 'Israel' terhadap jutaan pengungsi di Timur Tengah secara logis membuat dunia melimpahkan kesalahan kepada negara tersebut.

"Israel adalah pihak yang paling membenci dirinya sendiri lebih dari siapa pun," tulis Levy, merujuk pada konsekuensi moral dari kebijakan penindasan yang dijalankan.

Penulis ini juga menanggapi perdebatan internal di kalangan intelektual Yahudi. Ia mengkritik generasi Yahudi, terutama di Amerika Serikat, yang selama ini dilatih untuk memberikan dukungan mutlak terhadap setiap langkah kebijakan Israel tanpa celah untuk kritik. Baginya, gelombang kebencian saat ini adalah reaksi alami dari pengekangan kritik selama bertahun-tahun.

"Apakah diperbolehkan untuk percaya bahwa eksperimen Zionisme telah gagal? Terkadang, hal itu memang perlu (dipertanyakan)," tegas Levy. Ia menutup kolomnya dengan menyatakan bahwa merasa malu terhadap negara yang telah menjadi kekuatan penindas regional adalah sebuah perasaan yang sangat manusiawi saat ini. (zarahamala/arrahmah.id)