Memuat...

Iran Bersumpah Tak Buka Selat Hormuz sebelum Trump dan Netanyahu Lengser

Zarah Amala
Jumat, 18 September 2026 / 7 Rabiulakhir 1448 11:01
Iran Bersumpah Tak Buka Selat Hormuz sebelum Trump dan Netanyahu Lengser
Brigadir Jenderal Hassan Hassanzadeh, Komandan unit Teheran Raya dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) - (IRNA).

TEHERAN (Arrahmah.id) - Penasihat politik senior Iran, Mohammad-Bagher Zolghadr, mengatakan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu tidak lagi berkuasa.

Menurut Al Mayadeen, Zolghadr mengatakan penutupan Selat Hormuz merupakan tahap awal respons Iran terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas perang terhadap negaranya.

“Pasukan Iran tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Donald Trump dan Benjamin Netanyahu disingkirkan dari kekuasaan,” kata Zolghadr, seraya menyebut sikap tersebut sebagai tahap pertama dari “pembalasan” Iran.

Zolghadr mengatakan rakyat Iran telah bertahan menghadapi serangan yang menurutnya bertujuan mengalahkan Iran dalam hitungan hari. Ia menyebut target tersebut sebagai ilusi palsu dan menegaskan Iran akan terus meningkatkan perlawanan.

Ia juga mengatakan Iran bertekad membalas kematian sejumlah warga dan personel selama perang, termasuk pemimpin Iran Ali Khamenei serta korban dari Minab, Lamerd, Bampur, dan awak kapal perusak Dena.

Pernyataan Zolghadr disampaikan bersamaan dengan keterangan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Provinsi Tehran Raya, Brigadir Jenderal Hassan Hassanzadeh.

Hassanzadeh mengatakan Angkatan Bersenjata Iran kini berada pada tingkat kesiapan yang lebih tinggi untuk menghadapi kemungkinan serangan baru.

Menurutnya, Iran saat ini lebih siap dibandingkan sebelum apa yang disebut pejabat Iran sebagai Perang 12 Hari dan Perang Ramadhan.

Ia mengatakan produksi serta pengembangan rudal dan drone Iran terus berlangsung dengan kecepatan penuh. Sistem pertahanan udara dan kemampuan militer lainnya juga terus dikembangkan.

Hassanzadeh menyebut kekuatan rudal, teknologi drone, dan sistem pertahanan udara sebagai bagian utama dari upaya Iran mempertahankan kesiapan tempur.

Pejabat pertahanan Iran sebelumnya juga mengatakan negaranya akan memiliki kemampuan teknologi yang lebih maju jika perang kembali terjadi. (zarahamala/arrahmah.id)