SANA'A (Arrahmah.id) - Pertempuran baru di Yaman menewaskan puluhan orang pada Kamis (17/9/2026), sementara Arab Saudi melaporkan korban jiwa pertamanya sejak bentrokan dengan kelompok Houtsi kembali meningkat.
Pertempuran berlangsung setelah perang saudara Yaman kembali memanas menyusul ofensif baru Houtsi yang didukung Iran. Kelompok tersebut dilaporkan berhasil menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman serta sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Seorang pejabat militer pemerintah Yaman mengatakan kepada AFP, sedikitnya 23 tentara pemerintah tewas dalam 24 jam terakhir akibat serangan rudal dan drone Houtsi di dua provinsi di barat daya Yaman.
Sementara itu, sumber militer Houtsi mengklaim 40 prajuritnya tewas akibat serangan udara Saudi dan pertempuran darat dalam periode yang sama.
Korban Pertama di Arab Saudi
Pertahanan Sipil Saudi pada Kamis (17/9) melaporkan kematian pertama di wilayah negaranya sejak Houtsi kembali melancarkan serangan terhadap Saudi.
Badan tersebut mengatakan pecahan drone yang berhasil ditembak jatuh jatuh di wilayah Taif dan menyebabkan satu orang tewas, dua orang terluka, serta merusak sejumlah bangunan dan kendaraan. Korban tewas disebut merupakan warga negara Yaman.
Media pemerintah Saudi memperlihatkan sejumlah mobil dan bagian depan toko mengalami kerusakan akibat pecahan proyektil.
Insiden tersebut terjadi sehari setelah Riyadh menuduh Houtsi melancarkan serangan drone yang disebut menargetkan Makkah. Houtsi membantah tuduhan tersebut.
Uni Eropa menyatakan solidaritas penuh kepada Saudi dan mengecam serangan Houtsi. Juru bicara urusan luar negeri Uni Eropa Anouar El Anouni menyerukan Houtsi menghentikan seluruh aksi militer serta mengatakan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak dapat diterima.
Saudi Tingkatkan Serangan Udara
Houtsi juga melaporkan serangkaian serangan udara Saudi di wilayah Yaman. Media Almasirah yang berafiliasi dengan Houtsi mengatakan pesawat Saudi menyerang tiga menara telekomunikasi di Provinsi Taiz.
Serangan di Kota Abs disebut menewaskan seorang warga sipil dan melukai satu orang lainnya. Almasirah kemudian melaporkan tiga anak tewas dalam serangan yang dilakukan pasukan yang didukung Saudi, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Houtsi sebelumnya melaporkan puluhan serangan udara Saudi setiap hari sejak melancarkan ofensif terbaru dan merebut sejumlah wilayah strategis yang menghadap Selat Bab al-Mandab.
Kemajuan Houtsi di pesisir Laut Merah dinilai semakin memperkuat posisi mereka terhadap salah satu jalur pelayaran utama bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Situasi tersebut juga terjadi ketika Iran memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz, sehingga penguasaan Houtsi atas wilayah sekitar Bab al-Mandab semakin memiliki arti strategis.
Bagi Saudi, Bab al-Mandab juga penting karena negara itu menggunakan jalur pipa untuk mengirim minyak menuju Laut Merah dan menghindari Selat Hormuz sebelum selanjutnya terhubung dengan pasar Eropa dan Asia melalui Terusan Suez.
Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada 2022 runtuh pada Juli setelah ketegangan antara Houtsi dan pemerintah Yaman kembali meningkat. Houthi kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap Saudi dan mulai menyerang kapal serta wilayah negara tersebut.
PBB memperkirakan konflik terbaru di Yaman telah memaksa lebih dari 100.000 orang meninggalkan rumah mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
