Memuat...

Jembatan B1 jadi Sasaran, Upaya Terakhir AS Paksa Iran ke Meja Perundingan?

Zarah Amala
Jumat, 3 April 2026 / 15 Syawal 1447 10:31
Jembatan B1 jadi Sasaran, Upaya Terakhir AS Paksa Iran ke Meja Perundingan?
Dibalik runtuhnya Jembatan B1, pesan apa yang ingin disampaikan Washington kepada Teheran?

TEHERAN (Arrahmah.id) - Amerika Serikat secara resmi memasukkan infrastruktur sipil ke dalam daftar target utama dalam perang melawan Iran. Hal ini ditegaskan setelah serangan udara menghancurkan Jembatan "B1", proyek infrastruktur paling ambisius di wilayah Karaj, sebelah barat Teheran, pada Kamis (02/04).

Langkah ini dinilai para pengamat sebagai pergeseran strategi Washington dari sekadar melumpuhkan kekuatan militer menjadi tekanan total terhadap stabilitas negara.

Melalui platform Truth Social, Presiden Donald Trump mengonfirmasi kehancuran jembatan tersebut. "Jembatan terbesar di Iran telah runtuh dan tidak akan pernah digunakan lagi," tulis Trump. Ia juga melampirkan video reruntuhan jembatan yang diselimuti asap tebal dan memperingatkan bahwa "akan ada lebih banyak lagi yang menyusul."

Trump memberikan ultimatum kepada Teheran untuk segera menyepakati perjanjian damai dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Jika tidak, ia mengancam akan meluncurkan serangan dengan kekuatan ekstrem yang mampu mengembalikan Iran ke zaman batu.

Koresponden Al Jazeera di Gedung Putih, Fadi Mansour, melaporkan bahwa penghancuran jembatan ini merupakan taktik AS untuk memperluas tekanan setelah kapasitas militer dasar Iran, termasuk rudal balistik dan pertahanan laut, dianggap telah terkuras. Serangan ini bertujuan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz guna menenangkan pasar global.

Sementara itu, koresponden di Teheran, Amer Lafi, menjelaskan bahwa jembatan tersebut merupakan ikon teknik sipil tertinggi dan paling kompleks di Iran yang dirancang untuk mengatasi kemacetan kronis antara Provinsi Alborz dan ibu kota.

Stasiun televisi resmi Iran melaporkan bahwa serangan dilakukan dalam dua tahap (Double Tap) dengan selang waktu satu jam. Serangan awal bertujuan untuk merusak struktur. Serangan kedua, dilancarkan saat proses evakuasi sedang berlangsung, yang mengakibatkan dua orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka. Serangan ini juga sempat menyebabkan pemadaman listrik di wilayah sekitar sebelum akhirnya dipulihkan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons keras tindakan tersebut. Ia menegaskan bahwa penargetan infrastruktur sipil dan jembatan tidak akan pernah membuat rakyat Iran bertekuk lutut atau menyerah pada tuntutan Amerika Serikat.

Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu ini telah melumpuhkan kepemimpinan tinggi Iran, termasuk laporan tewasnya Pemimpin Agung Ali Khamenei dan sejumlah menteri kunci, sementara Iran terus membalas dengan serangan rudal dan drone ke arah aset-aset AS di kawasan tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)