GAZA (Arrahmah.id) - Dalam pencapaian luar biasa bagi jurnalisme Arab dan Palestina, fotografer Saher al-Ghorra berhasil meraih penghargaan jurnalistik paling bergengsi di dunia, Pulitzer Prize 2026, untuk kategori Fotografi Berita Terpilih (Breaking News Photography).
Al-Ghorra, yang bekerja untuk surat kabar Amerika Serikat The New York Times, mengabadikan detail dua tahun perang destruktif di Jalur Gaza. Melalui lensa kameranya, ia mengubah penderitaan manusia menjadi kesaksian visual yang menggetarkan hati nurani dunia.
Foto-foto karya Al-Ghorra bukan sekadar dokumentasi biasa, melainkan alat politik dan hukum yang kuat. Karyanya yang mendokumentasikan bencana kelaparan di Gaza sempat memicu kemarahan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu.
Netanyahu dilaporkan mencoba membantah keberadaan kelaparan tersebut dan berupaya menuntut The New York Times, namun gagal. Kekuatan kebenaran visual yang dihadirkan Al-Ghorra justru membuat upaya disinformasi 'Israel' menjadi bumerang, sekaligus memperkuat akurasi pendokumentasian pihak Palestina di mata internasional.
Di tengah kebijakan 'Israel' yang melarang jurnalis asing memasuki Jalur Gaza, Al-Ghorra (29) memandang tanggung jawab fotografer lokal menjadi berlipat ganda.
"Kami tidak lagi memiliki kemewahan untuk memilih antara mengungsi atau tetap tinggal di rumah. Kami terpaksa terus melakukan peliputan untuk menyampaikan kebenaran tentang apa yang terjadi meski menjadi target langsung," ujar Al-Ghorra.
Kisah di Balik Foto: Potret Yazan
Perjalanan karier Al-Ghorra dimulai pada 2018 melalui peliputan Great March of Return. Sejak saat itu, ia bekerja untuk agensi internasional seperti Zuma Press hingga akhirnya bergabung dengan The New York Times.
Salah satu foto paling berpengaruh dalam rangkaian kemenangannya adalah potret bocah bernama Yazan Abu al-Foul pada puncak kelaparan bulan Juli 2025. "Yazan sangat kurus, dia tidak bersuara dan tidak merespons. Dia hanya menatap mataku sambil bersandar pada ibunya. Saat itu, saya memutuskan untuk tidak mengajaknya bermain seperti anak-anak lain, saya hanya mengambil potret yang mencerminkan kondisinya saat itu, dan itu sudah cukup," kenang Al-Ghorra.
Momen Kemenangan di Tengah Krisis
Mencerminkan realitas pahit kehidupan di Gaza, Al-Ghorra menerima kabar kemenangannya dari Universitas Columbia di New York saat ia sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan (mall) untuk membeli kebutuhan pokok keluarganya. Ia menggambarkan momen tersebut sebagai rasa bangga yang luar biasa, serta pengakuan internasional terhadap narasi Palestina dan upaya para fotografer yang mendokumentasikan perang di bawah dentuman meriam. (zarahamala/arrahmah.id)
