BEIJING (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari di Beijing besok, Rabu (13/5/2026). Puncak kunjungan ini adalah pertemuan tingkat tinggi (summit) dengan Presiden Cina Xi Jinping guna membahas krisis yang menumpuk di antara kedua negara, mulai dari isu perdagangan hingga ketegangan militer di Taiwan dan Iran.
Kunjungan ini sempat tertunda akibat perang AS-'Israel' melawan Iran yang meletus pada 28 Februari lalu. Pertemuan ini merupakan yang pertama bagi kedua pemimpin sejak kesepakatan gencatan senjata dagang yang dicapai di sela-sela KTT APEC Korea Selatan, Oktober tahun lalu.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan optimisme bahwa "hal-hal besar akan tercapai bagi kedua negara." Ia didampingi oleh delegasi pengusaha kelas kakap, termasuk Elon Musk (Tesla) dan Tim Cook (Apple), serta para petinggi dari perusahaan raksasa seperti Boeing, GE, Goldman Sachs, Meta, dan Cisco.
Misi ekonomi ini bertujuan untuk membahas perpanjangan gencatan senjata perang dagang agar terhindar dari pengenaan tarif bea masuk tambahan yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Salah satu poin paling krusial adalah masalah Taiwan. Beijing menyatakan kekecewaannya atas dukungan militer berkelanjutan Washington terhadap pulau tersebut, terutama setelah Trump menyetujui kesepakatan senjata senilai lebih dari 11 miliar dolar AS pada Desember lalu. "Saya akan mendiskusikan hal ini dengan Presiden Xi pada Kamis. Dia tidak menginginkan hal itu (penjualan senjata), dan saya akan membicarakannya," ujar Trump di Gedung Putih.
Krisis Iran dan Keamanan Energi
Terkait isu Iran, Trump diperkirakan akan menekan Cina untuk menggunakan pengaruhnya guna mendorong Teheran menuju kesepakatan nuklir baru. Cina diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran sebagai importir utama minyak mentah Teheran.
Trump menekankan pentingnya stabilitas di Selat Hormuz bagi ekonomi Cina. Saat ini, Angkatan Laut AS masih melakukan blokade di selat tersebut dan mencegat kapal-kapal tanker minyak yang menuju Cina. "Cina membutuhkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, isu ini pasti masuk dalam pembahasan," tegas Trump.
Kedua pemimpin juga dijadwalkan membahas aliran logam mulia (mineral kritis) dari Cina ke Amerika Serikat. Washington sangat membutuhkan mineral ini untuk industri teknologi tingkat tinggi, namun Beijing hingga kini masih memberlakukan pembatasan ekspor yang ketat sebagai bagian dari instrumen posisi tawar mereka.
Kunjungan ini dipandang sebagai ujian besar bagi hubungan AS-Cina di tengah pergeseran geopolitik global yang semakin kompleks pasca-konflik Iran. (zarahamala/arrahmah.id)
