(Arrahmah.id) -
اَللهُ أَكْبَرُ (9×) اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ الْفِطْرِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Hadirin Kaum Muslimin dan Muslimat yang Dirahmati Allah,
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd
ALHAMDULILLAH, segala ungkapan puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita semua. Pagi ini, lisan kita tak henti mengagungkan asma Allah, bukan karena kita telah hebat melewati ujian keimanan, melainkan karena kasih sayang Allah-lah yang menakdirkan kita berkumpul di sini, dengan wajah yang berseri dan hati yang bersih untuk menunaikan Shalat Idul Fitri.
Di hari yang fitri ini, mari kita buka lembaran baru, menyambung tali yang putus, dan memaafkan kesalahan yang lalu, demi meraih rida-Nya yang tak terhingga. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, yang telah menuntun kita dari kegelapan menuju cahaya iman yang terang benderang, melalui Al-Qur’an dan Sunnahnya.
Mari kita tingkatkan takwa sebagai wujud rasa syukur yang paling nyata, karena dengan taqwa kita akan menjadi manusia yang mulia dan dimuliakan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia, sungguh Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling memahami. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahaluas ilmu-Nya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd
Hari ini, 1 Syawal 1447 Hijriyah bertepatan dengan 20 Maret 2026 Masehi, gema takbir membumbung tinggi membelah angkasa, menggetarkan sanubari. Gema takbir yang memenuhi angkasa pagi ini bukanlah sekadar rangkaian kata. Ia adalah pengakuan atas kecilnya diri kita di hadapan Sang Maha Pencipta, dan besarnya harapan kita akan ampunan-Nya.
Kita bergembira ria, mengenakan pakaian terbaik, bersalaman, menyantap hidangan lezat, dan bersimpuh syukur karena telah melewati “madrasah” Ramadhan.
Namun, di balik kemeriahan baju baru dan hidangan yang lezat, ada setitik sesak di dada kita. Hari ini kita merayakan kemenangan, tapi kita juga sedang meratapi perpisahan dengan Ramadhan, tamu agung yang telah mendidik kita selama tiga puluh hari.
Gema takbir membahana dari menara-menara masjid. Namun, di balik kemegahan suara itu, mari kita jujur bertanya pada nurani kita masing-masing: Apakah kita sudah siap untuk benar-benar mengagungkan Allah dengan tindakan nyata, bukan hanya sekadar suara takbir?
Sudahkah kita membersihkan hati dari dosa dan siap memperbaiki diri? Mari kita introspeksi dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, agar Idul Fitri kita kali ini menjadi hari kemenangan yang hakiki.
Jamaah yang Berbahagia: Idul Fitri adalah momentum kembali ke kesucian, tapi kesucian itu takkan sempurna jika hubungan kita dengan sesama manusia masih terputus.
Mari kita manfaatkan momentum Idul Fitri ini untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang kita cintai, terutama orang tua kita.
Cobalah tatap wajah ayah dan ibu kita—jika beliau masih ada. Perhatikan kerutan di dahi mereka dan rambut yang memutih. Itulah saksi perjuangan mereka membesarkan kita.
Maka berbaktilah kepada orang tua dan perlakukan keduanya dengan penuh hormat, layani dia, terutama ketika beliau sudah berusia lanjut.
Allah SWT berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Wahai Muhammad, Tuhanmu telah menetapkan: "Janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak kamu. Jika ibu bapak kamu, salah satu atau keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaan kamu, janganlah kamu berkata 'ah' kepada mereka, dan janganlah membentak mereka. Akan tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang menyenangkan mereka. (QS. Al-Isra' [17]: 23)
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
Tundukkanlah dirimu kepada ibu bapakmu dengan sikap rendah hati lantaran rasa kasih sayang, dan berdo'alah: "Wahai Tuhanku, kasih sayangilah ibu bapakku sebagaimana mereka telah memeliharaku dengan kasih sayang sewaktu aku masih kecil." (QS. Al-Isra' [17]: 24)
Bagi Anda yang hari ini masih bisa mencium tangan orang tua, bersyukurlah. Karena di luar sana, banyak yang bersimpuh di pusara tanah yang masih basah, menangis merindukan suara ibunya yang takkan pernah terdengar lagi.
Jika engkau mencari surga, maka datanglah kepada ibumu. Cintailah dia, berbuat baiklah kepadanya, layani, taati, dan hormatilah dia, karena Rasulullah SAW bersabda, “surga di bawah telapak kaki ibu.”
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd
Idul Fitri bukanlah sekadar perayaan kemenangan pribadi, melainkan momentum kemanusiaan universal. Di saat kita duduk tenang di atas sajadah yang empuk, mari sejenak kita menoleh ke arah jendela dunia dan tetangga kita sendiri.
Arahkan batin kita ke negeri-negeri yang sedang menangis. Di Palestina, Idul Fitri datang tanpa tawa anak-anak. Di sana, seorang bocah berdiri di atas reruntuhan yang dulu ia sebut "rumah". Ia tidak mencari baju baru, tapi mencari sisa-sisa jemari ibunya di balik puing bangunan.
Ribuan anak-anak di Gaza kini menjadi yatim piatu dalam semalam, kehilangan pelukan hangat yang biasanya mereka rasakan di pagi Ied. Di sana, Idul Fitri bukan tentang baju baru, melainkan tentang kain kafan yang baru.
Mereka tidak berkumpul di masjid yang megah, melainkan di atas puing-puing rumah yang hancur. Suara takbir mereka bersahutan dengan dentuman bom.
Ibu-ibu di sana tidak memasak ketupat; mereka sedang memeluk jasad anak-anaknya yang dingin, sembari berbisik, "Tunggu kami di surga, Nak." Saat kita bisa berbuka dengan air dingin dan makanan hangat, saudara-saudara kita di Gaza, Palestina, merayakan Idulfitri di bawah reruntuhan. Mereka tidak lagi bertanya "makan apa hari ini?", melainkan "apakah kita masih hidup esok hari?"
Puasa seharusnya melahirkan al-furqan—kemampuan membedakan yang haq dan yang bathil. Namun, Idulfitri kali ini terasa getir. Kita merayakan kemenangan di atas piring-piring yang penuh makanan, sementara di belahan bumi lain, saudara-saudara kita sedang mengunyah rumput dan pakan ternak hanya untuk bertahan hidup.
Kita menangis bukan hanya karena mereka Muslim, tapi karena mereka adalah manusia yang hak hidupnya dirampas penjajah durjana.
Di tengah kesedihan itu, kita mendengar Masjid Al-Aqsha, di Palestina, ditutup total oleh Israel sejak awal Ramadhan 1447 H. Masjid Al-Aqsha bukan hanya simbol identitas dan spiritualitas umat Islam, tapi juga kiblat pertama umat Islam. Penutupan ini bertepatan dengan serangan Israel dan AS ke Iran, yang membuat fokus perhatian umat teralihkan.
Penutupan dan pembatasan Masjid Al-Aqsha di bulan suci Ramadhan, bukan sekadar isolasi fisik, melainkan penghinaan terhadap kedaulatan iman kita. Ribuan orang kehilangan kesempatan melaksanakan ibadah Shalat Tarawih dan I’tikaf di dalamnya. Hal ini menyisakan luka kolektif yang sangat berat.
Namun demikian, jangan pula kita menutup mata terhadap nasib saudara-saudara kita di negeri Sudan, di mana konflik berkepanjangan melahirkan kelaparan hebat yang merenggut nyawa anak-anak tak berdosa. Kelaparan mencekik leher-leher mereka. Anak-anak yang seharusnya tertawa di hari raya, justru layu karena busung lapar. Mereka berpuasa bukan semata-mata karena perintah agama, tapi karena memang tidak ada satu butir gandum pun yang bisa dikunyah.
Seringkali mata dunia tertuju pada satu titik dan melupakan titik lainnya. Di Sudan, jutaan saudara kita sedang berjuang melawan hantu kelaparan. Tubuh-tubuh mungil yang tinggal tulang berbalut kulit adalah saksi bisu betapa pedihnya konflik yang tak berkesudahan.
Di saat kita mungkin membuang sisa makanan hari ini, ada seorang ibu di sana yang hanya bisa memasak air agar anak-anaknya tertidur karena mengira makanan sedang disiapkan. Kelaparan mengancam, dan kedamaian terasa mahal. Mengabaikan Sudan adalah kegagalan kemanusiaan kita.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman: "Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu namun engkau tidak memberi-Ku makan." Hamba bertanya: "Bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?" Allah menjawab: "Tidakkah engkau tahu hamba-Ku si fulan meminta makan padamu namun tidak kau beri? Ketahuilah, jika kau memberinya makan, niscaya kau dapati Aku di sisinya." (HR. Muslim).
Islam mengajarkan, bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas geografis. Membantu Gaza dan peduli pada Sudan adalah manifestasi dari takwa yang sesungguhnya. Jangan biarkan perayaan ini hanya menjadi ritual makan-makan, tapi jadikan sebagai gerakan kepedulian global.
Guru Sebagai Pilar Peradaban
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd
Jangan jauh-jauh memandang ke seberang lautan, di tanah air kita sendiri, luka itu nyata. Kita mendengar berita memilukan tentang anak yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku sekolah. Ini tamparan keras bagi kita. Bagaimana mungkin di negeri yang kaya ini, pendidikan menjadi beban yang mematikan? Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!
Di manakah kita saat anak itu merasa dunia begitu sempit? Di mana pemerintah saat ia merasa masa depannya tertutup karena lembaran kertas yang tak terbeli? Idul Fitri adalah simbol kepedulian. Jika ada tetangga kita yang putus asa karena kemiskinan, sementara kita asyik dengan kemewahan, maka ada yang salah dengan puasa kita, ada yang salah dengan ibadah kita.
Puasa seharusnya melembutkan hati, bukan mengeraskannya seperti batu cadas. Kepedihan itu ternyata tidak hanya yang jauh di sana. Ia ada di dekat kita, di tanah air kita sendiri.
Mari kita ingat sosok guru honorer yang mengabdi puluhan tahun demi mencerdaskan bangsa, namun upahnya seringkali tak cukup untuk sekadar membeli beras. Padahal, mereka adalah pilar peradaban. Islam sangat menghargai mereka yang berilmu dan mengajarkannya.
Di saat kita sibuk berbelanja kue lebaran, mereka mungkin sedang termenung di sudut rumahnya, menghitung sisa recehan yang tak cukup untuk membayar cicilan atau sekadar membeli daging untuk keluarganya.
Mereka adalah pahlawan yang kita lupakan, yang wajahnya nampak tegar, namun hatinya menjerit karena kesejahteraan yang tak kunjung datang.
Ketidakadilan ini nyata pada para guru honorer. Mereka adalah pilar peradaban yang dipaksa hidup di bawah garis kemiskinan.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan keberkahan pada generasi mendatang, jika tangan-tangan yang mengajarkan "Alif, Ba, Ta" dibiarkan gemetar menahan lapar karena upah yang tidak manusiawi? Ini bukan sekadar masalah ekonomi, ini adalah masalah ketidak adilan ideologis dan politis.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd
Idul Fitri tahun ini juga dirayakan dengan keprihatinan mendalam oleh saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera yang menjadi korban banjir bandang.
Harta benda mereka hanyut, rumah mereka terendam lumpur. Mereka membutuhkan uluran tangan kita, bukan sekadar ucapan belasungkawa di media sosial.
Kita harus sadar bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang merayakan kemenangan pribadi, tapi juga tentang berbagi kebahagiaan dan membantu mereka yang membutuhkan.
Mari kita bantu mereka dengan donasi, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya. Setiap bantuan kita dapat meringankan beban mereka dan membawa harapan di tengah kesulitan.
Idul Fitri bukan hanya tentang kita, tapi tentang mengulurkan tangan bagi mereka yang tak lagi punya siapa-siapa.
Kita harus peduli dengan saudara-saudara yang membutuhkan, seperti anak yang tak mampu membeli buku sekolah dan guru honorer yang upahnya tak cukup. Mereka adalah pilar peradaban yang harus kita hargai.
Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk saling mencintai dan peduli, seperti satu tubuh yang jika satu bagian sakit, maka seluruh bagian lainnya juga akan merasakan sakit. Mari kita wujudkan kepedulian kita dengan tindakan nyata, bukan hanya ucapan.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR Al-Bukhari).
Kita bisa mulai dari hal kecil, seperti berbagi makanan dengan tetangga yang membutuhkan, atau membantu anak-anak yang tak mampu membeli buku sekolah. Setiap tindakan kecil kita dapat membuat perbedaan besar bagi mereka.
Dengarlah Suara Rakyat
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd
Idul Fitri adalah momentum untuk reformasi diri dan sosial. Pemerintah dan pejabat negara harus diingatkan bahwa: kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pastikan perut rakyat tidak lapar, pendidikan bisa diakses oleh si miskin, dan muliakanlah para guru yang telah berkorban.
Keadilan sosial bukanlah slogan, melainkan kewajiban agama dan perintah konstitusi. Dengarlah suara rakyat, mereka memiliki hak untuk didengar dan diperhatikan. Pemerintah harus responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Kritik terhadap kebijakan publik adalah upaya memastikan keadilan dan transparansi. Pertanyaan kritis tentang program pemerintah harus dijawab dengan jujur dan terbuka.
Mendengar suara rakyat bukan hanya tentang mendengar, tapi juga tentang menindaklanjuti dengan aksi nyata. Pemerintah harus membuktikan, bahwa mereka serius melayani masyarakat dan memperhatikan kebutuhan mereka.
Peringatan keras bagi para menteri untuk tidak mengancam rakyat dengan UU ITE hanya karena menyebarkan informasi tentang kesalahan pelayanan program MBG. Rakyat berhak mendapatkan pelayanan yang baik dan transparan. Mari kita dengarkan aspirasi rakyat dan perbaiki sistem yang ada.
Kondisi rakyat Indonesia kini berada pada fase “putus harapan” menyikapi berbagai kebijakan pemerintah yang meresahkan. Mereka seolah-olah tuli, bisu, dan buta terhadap kebutuhan rakyat.
Seperti frasa dalam QS. Al-Baqarah [2]:18, “Shummun bukmun 'umyun fahum laa yarji'un.”
- Shummun (Tuli): Sikap pemerintah tidak lagi mendengar aspirasi, kritik, atau jeritan ekonomi rakyat. Kebijakan seringkali tetap berjalan meski gelombang protes besar terjadi.
Bukmun (Bisu): Ketidakmampuan atau keengganan pembuat kebijakan untuk memberikan penjelasan yang jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan publik.
3.'Umyun (Buta): Menutup mata terhadap realitas kemiskinan, ketimpangan, dan rusaknya etika bernegara demi kepentingan segelintir kelompok elite atau dinasti. 4. Laa Yarji'un (Tidak Kembali ke jalan yang benar): Ini adalah fase yang paling mengkhawatirkan—ketika kekuasaan sudah merasa paling benar sehingga kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi diri (self-correction).
Rakyat merasa suaranya tidak diperhatikan, yang bisa berujung pada apatisme dan ledakan sosial. Rakyat memiliki peran penting dalam mengontrol pemerintah. Mari kita dukung pemerintah yang responsif, jujur, dan transparan!
Kepada Kita Semua: Zakat fitrah yang kita bayarkan adalah simbol bahwa dalam harta kita ada hak orang lain. Jangan biarkan tetangga kita lapar saat kita berpesta. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un [107] ayat 1-3:
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ
Wahai Muhammad, apakah engkau tahu tentang orang yang mengingkari hari perhitungan amal di akhirat?
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ
Mereka itu adalah orang-orang yang mencurangi hak anak yatim.
وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ
Mereka tidak mau mengajak orang lain untuk memberi makan orang miskin.
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa agama bukan hanya tentang ritual, tapi juga tentang kepedulian sosial. Orang yang mendustakan agama adalah mereka yang tidak peduli dengan anak yatim dan orang miskin.
Mari kita buktikan keimanan kita dengan berbagi dan membantu mereka yang membutuhkan.
MUNAJAT
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd.
Idul Fitri tahun ini adalah panggilan untuk bergerak. Kemenangan sejati bukan saat kita berhasil menahan lapar, tapi saat kita berhasil menjadi "tangan" bagi mereka yang jatuh, menjadi "suara" bagi mereka yang dibungkam, dan menjadi "harapan" bagi anak-anak yang hampir menyerah pada hidup.
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai titik balik untuk lebih peduli. Do’akan Gaza, bantu Sudan, suarakan nasib guru honorer, dan bantu korban bencana. Kemenangan sejati adalah saat kita mampu mengangkat derajat sesama manusia.
Mari kita akhiri rangkaian ibadah ini dengan do’a yang tulus, bukan sekadar do’a untuk diri sendiri, tapi do’a yang menembus langit untuk mereka yang sedang menderita.
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.
Ya Allah, sayangi kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil. Jika mereka masih hidup, berikanlah kesehatan yang berkah. Jika mereka telah tiada, lapangkanlah kuburnya dengan cahaya-Mu.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina. Berikanlah mereka kekuatan, kesabaran, dan kemerdekaan. Ya Allah, angkatlah kelaparan dari saudara-saudara kami di Sudan. Berikanlah mereka keamanan dan kecukupan.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, Sudan, dan para korban bencana di tanah air. Lapangkanlah rezeki para guru kami, dan bimbinglah para pemimpin kami untuk mencintai rakyatnya.
Ya Allah, Ya Mujibassailin...
Jangan biarkan ada lagi anak-anak kami yang putus asa karena kemiskinan. Gerakkanlah hati kami untuk menjadi perpanjangan tangan-Mu dalam menolong sesama. Jadikanlah Idul Fitri ini sebagai awal bagi kami untuk lebih peduli, lebih berbagi, dan lebih mencintai.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Yogyakarta, 1 Syawal 1447 H/20 Maret 2026 M
IRFAN S. AWWAS
