Memuat...

Konflik Timur Tengah dan Urgensinya Persatuan Umat

Oleh SriyantiPegiat Literasi
Rabu, 22 April 2026 / 5 Zulkaidah 1447 15:20
Konflik Timur Tengah dan Urgensinya Persatuan Umat
Ilustrasi. (Foto: Cover Topik/ Perang AS-Israel VS Iran/ Aristya Rahadian/CNBC Indonesia)

Iran mengumumkan kemenangannya atas AS-Israel, setelah Presiden Amerika Donald Trump menangguhkan serangannya selama 2 pekan terhadap Iran. Dewan keamanan tertinggi Iran mengklaim telah memaksa AS, untuk menerima 10 poin yang diajukan Iran. Pada dasarnya AS telah menyetujui pencabutan sanksi terhadap Iran, menarik pasukan tempurnya dari  semua pangkalan  kawasan tersebut, menerima pengayaan nuklir Iran dan mengakui kendali Iran atas Selat Hormuz. Meski demikian Iran akan tetap bersikap siaga terhadap AS, dan siap membalas  dengan kekuatan penuh jika AS melakukan pelanggaran sekecil apapun. Sementara itu, sebelumnya diberitakan bahwa Trump menangguhkan serangannya ke Iran dengan syarat Iran harus membuka Selat Hormuz dan Iran menyetujuinya. (Detiknews.com, Rabu 8/4/2026)

Kemelut perang di Timur Tengah berimbas pada kondisi umat di seluruh dunia terutama kaum muslimin. Sampai saat ini Zionis laknatullah yang merupakan sekutu AS, tetap melancarkan serangannya terhadap saudara muslim di Palestina. Namun setidaknya perang ini telah membuktikan, bahwa Amerika tak sekuat yang selama ini dunia bayangkan. Amerika nampak kewalahan menghadapi Iran, dan hingga sekarang belum mampu menaklukkannya. Meski dari perang ini Iran hanya sebatas mempertahankan negaranya bukan karena dorongan membela Palestina yang terus dibombardir Zionis.

Di tengah kondisi yang semakin memanas, Trump mencoba mencari sekutu dengan memobilisasi negara-negara Eropa dan Arab,  yang turut terdampak perang untuk menghadapi Iran. Tidak dimungkiri perang AS-Iran memang berpengaruh pada tatanan kehidupan secara global,  terutama dalam aspek ekonomi.   Namun tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali ada kepentingan setiap negara di dalamnya. Negara-negara tersebut lebih memilih memelihara keamanan regional, dan berupaya mencegah agar perang tidak meluas.

Buktinya para pemimpin negeri muslim masih menjalin hubungan dan kerjasama dengan AS ataupun Israel yang jelas-jelas memerangi Islam dan kaum muslimin. Inilah yang menyebabkan lemahnya persatuan umat Islam, mereka terpecah dikekang oleh para penguasa-penguasa pengkhianat. Seandainya para penguasa muslim tidak menggadaikan negeri-negeri mereka pada pada kafir Barat, umat akan mudah bersatu hingga mampu mengalahkan hegemoni Barat dan sekutunya.

Di tengah kondisi yang mendera umat Islam khususnya di wilayah Timur Tengah, seharusnya menjadi pemantik bagi seluruh dunia Islam untuk bersatu. Kecaman, kutukan, dan berbagai perundingan tidak akan mampu menghentikan penindasan dan penjajahan terhadap negeri-negeri muslim. Dibutuhkan kesatuan negeri muslim agar bisa menjadi kekuatan global baru, karena tanpa persatuan perlawanannya hanya bersifat lokal.

Saatnya kaum muslimin menyadari bahwa persatuan negeri-negeri muslim merupakan urgensitas. Kesatuan ini akan menjadi kekuatan global, yang mampu menghentikan hegemoni kafir Barat. Persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang diikat oleh ideologi sempurna, menyatukan segala perbedaan dan menghapus sekat bangsa.

Dengan persatuan kaum muslimin di bawah naungan sistem pemerintahan Islam Khilafah Islamiah, umat akan mendapatkan perlindungan baik jiwa, kehormatan, harta, dan sebagainya. Seorang Khalifah akan hadir sebagai menjadi pemimpin seluruh umat Islam di dunia, ia akan dicintai karena keadilannya dan ditaati visinya yang membawa umat pada kemuliaan. Negeri-negeri muslim yang terjajah akan dibebaskan, dengan dakwah dan jihad Islam pun akan semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.

Kejayaan Islam di masa lampau bukanlah omong kosong belaka,  sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia selama kurang lebih 13 abad lamanya. Ketika Khilafah tegak ia menjadi mercusuar dunia. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, umat hidup dalam kesejahteraan,  kekuatan militernya disegani hingga tak ada satupun kekuatan asing yang berani menodai kehormatan kaum muslimin.

Seharusnya perang Iran-AS-Israel menjadi momen mewujudkan persatuan umat di dunia, sekaligus saat yang tepat menghilangkan hegemoni kafir Barat agar hengkang dari negeri-negeri muslim. Dimulai dengan memutus semua bentuk kerjasama, menutup akses bantuan, dan berhenti menjadi negara pengekor yang terus bergantung pada kekuatan rapuh. Karena hakikatnya AS yang mengklaim dirinya adidaya sebenarnya tidak berdaya. Penjajahan yang dilakukannya atas negeri muslim semata untuk penopang bangunan yang sudah keropos.

Wallahu a'lam bis shawwab.