JAKARTA (Arrahmah.id) - Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), para pembimbing ibadah dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mengingatkan jemaah Indonesia agar tidak terlalu memaksakan diri mengejar ibadah sunnah hingga mengorbankan kondisi fisik.
Imbauan itu menjadi perhatian penting di tengah tingginya antusiasme jemaah Indonesia dalam memperbanyak amalan selama berada di Madinah dan Makkah.
Banyak jemaah berusaha memaksimalkan ibadah sejak awal kedatangan, mulai dari mengejar salat Arbain di Masjid Nabawi hingga berkali-kali melaksanakan umrah sunnah di Masjidil Haram.
Namun di balik semangat tersebut, para Musyrif Diny mengingatkan bahwa kelelahan fisik justru dapat mengganggu pelaksanaan rukun haji pada fase Armuzna yang menjadi inti ibadah haji.
Anggota Musyrif Diny, Muhammad Cholil Nafis, menegaskan bahwa menjaga stamina sebelum puncak haji jauh lebih penting dibanding memaksakan diri melakukan ibadah sunnah secara berlebihan.
“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji. Yang paling utama adalah kesiapan untuk menjalani Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Kiai Cholil di Madinah, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, Islam memberikan kemudahan bagi umat yang memiliki keterbatasan fisik maupun kesehatan. Karena itu, jemaah lanjut usia dan kelompok risiko tinggi tidak perlu memaksakan diri terus-menerus beribadah di masjid apabila kondisi tubuh tidak memungkinkan.
“Kalau sudah punya niat baik untuk shalat di masjid lalu terhalang karena kondisi kesehatan atau demi menjaga stamina, insyaAllah tetap mendapatkan pahala,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bagi ribuan jemaah Indonesia yang sering merasa harus selalu berada di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram demi memperoleh pahala berlipat.
Padahal, menurut Kiai Cholil, ibadah yang dilakukan di hotel atau pemondokan tetap bernilai di sisi Allah SWT apabila dilakukan dengan ikhlas dan mempertimbangkan kondisi kesehatan.
Ia menilai sebagian jemaah terkadang terlalu bersemangat mengejar ibadah sunnah hingga lupa bahwa tantangan terbesar justru berada pada fase Armuzna.
Cuaca panas ekstrem, mobilitas tinggi, dan kepadatan jutaan manusia di Arafah, Muzdalifah, serta Mina membutuhkan kesiapan fisik yang tidak ringan.
Pandangan serupa disampaikan Asrorun Ni'am Sholeh. Ia mengingatkan agar jemaah tidak terjebak pola pikir “aji mumpung” selama berada di Tanah Suci.
Menurutnya, ibadah sunnah seperti umrah berulang kali maupun thawaf tambahan sebaiknya dilakukan secara proporsional sesuai kemampuan tubuh masing-masing.
“Umrah sewajarnya saja, thawaf juga secukupnya. Jangan sampai memforsir tenaga hanya karena ingin sebanyak-banyaknya ibadah sunnah, sementara tenaga itu sangat dibutuhkan saat Armuzna,” ujar Ni’am.
Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ibadah. Dalam konteks haji, kemampuan menjaga kondisi tubuh menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalankan seluruh rukun dan wajib haji secara sempurna.
Peringatan itu bukan tanpa alasan. Setiap musim haji, kelelahan dan dehidrasi menjadi salah satu persoalan utama yang dialami jemaah, terutama lansia.
Kondisi cuaca Arab Saudi yang panas ekstrem membuat risiko gangguan kesehatan meningkat apabila aktivitas fisik dilakukan secara berlebihan.
Sementara itu, Abdullah Kafabihi Mahrus menegaskan bahwa inti ibadah haji sejatinya berada di Arafah. Sebanyak 32 pembimbing ibadah yang tergabung dalam Musyrif Diny nantinya akan ditempatkan di berbagai sektor layanan haji di Makkah untuk menjadi rujukan konsultasi fikih bagi petugas dan jemaah.
Karena itu, seluruh persiapan jemaah seharusnya difokuskan untuk menghadapi momentum wukuf.
“Jadi kita harus ada persiapan matang, baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah Arafah, Al-Hajju Arafah,” kata Kiai Kafabihi.
Menurutnya, pengaturan energi sejak awal menjadi kunci penting agar jemaah mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah wajib dengan baik. Tidak sedikit jemaah yang mengalami penurunan kondisi akibat terlalu padat beraktivitas sebelum fase Armuzna dimulai.
Imbauan para Musyrif Diny tersebut menjadi refleksi bahwa ibadah haji bukan sekadar memperbanyak ritual sunnah, tetapi juga tentang kebijaksanaan menjaga amanah tubuh. Dalam ajaran Islam, menjaga kesehatan dan keselamatan merupakan bagian penting dari ikhtiar spiritual.
Dengan kondisi fisik yang tetap prima, jemaah diharapkan dapat menjalani seluruh rangkaian Armuzna dengan lancar, aman, dan khusyuk.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan haji tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah sunnah yang dilakukan, tetapi juga kemampuan menuntaskan seluruh rukun haji secara sempurna.
(ameera/arrahmah.id)
