Memuat...

Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Oposisi dan Partai Arab Raih 67 Kursi

Zarah Amala
Kamis, 29 Oktober 2026 / 19 Jumadilawal 1448 10:00
Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Oposisi dan Partai Arab Raih 67 Kursi
Gadi Eisenkot bersama para pendukungnya (Foto: tangkapan video)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu gagal meraih mayoritas parlemen dalam pemilu yang digelar Selasa (27/10/2026). Hasil sementara menunjukkan blok oposisi dan partai-partai Arab menguasai total 67 kursi, meski peluang mereka membentuk pemerintahan koalisi yang solid masih belum jelas.

Dilansir AFP dan dikutip Arab News, lebih dari 85 persen surat suara telah dihitung hingga Rabu (28/10). Blok sayap kanan Netanyahu diproyeksikan memperoleh 53 dari total 120 kursi parlemen, sedangkan blok oposisi yang dipimpin mantan kepala militer Gadi Eisenkot diperkirakan meraih 48 kursi.

Kedua blok tersebut belum mencapai ambang batas 61 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai mayoritas parlemen. Sementara itu, partai-partai Arab 'Israel' diproyeksikan meraih total 19 kursi, meningkat signifikan dibandingkan pemilu sebelumnya.

Presiden 'Israel' Isaac Herzog berharap para politisi dapat menghindari pemilu ulang. Ia meminta seluruh partai melakukan segala upaya untuk membentuk pemerintahan baru dan tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan kerja sama.

“Kita harus melakukan segala yang kita bisa, terutama setelah pemilu kemarin, untuk menghindari putaran pemilu berikutnya,” kata Herzog pada Rabu (28/10).

Herzog bertugas menentukan kandidat yang akan diberi mandat untuk membentuk pemerintahan.

Kenaikan perolehan kursi partai-partai Arab menjadi salah satu perkembangan utama dalam pemilu kali ini. Namun, kemampuan mereka memengaruhi pembentukan pemerintahan masih bergantung pada kesediaan blok oposisi untuk bekerja sama.

Yousef Jabareen, pemimpin Daftar Gabungan (Joint List) yang didominasi warga Arab, mengatakan hasil pemilu menunjukkan masyarakat 'Israel' menginginkan kepemimpinan baru.

“Siapa pun yang ingin menawarkan alternatif yang substantif dan sungguh-sungguh terhadap pemerintahan Netanyahu yang berlumuran darah harus berbicara dengan kami,” kata Jabareen.

Yair Golan, pemimpin partai sayap kiri utama 'Israel' yang tergabung dalam kubu Eisenkot, menjadi tokoh pertama di blok tersebut yang secara terbuka menyerukan aliansi dengan daftar partai Arab.

“Kita tidak boleh lagi menerima pembelahan rasis Netanyahu antara suara Yahudi dan suara Arab,” tulis Golan di media sosial.

Namun, blok Eisenkot juga mencakup politisi sayap kanan yang memiliki pandangan keras serupa dengan Netanyahu dan menolak bekerja sama dengan anggota parlemen Arab.

Anggota parlemen Arab masih berpeluang mendukung Eisenkot dalam pemungutan suara tertentu tanpa harus bergabung secara resmi ke dalam koalisi. Skema tersebut dapat memungkinkan pemerintahan minoritas bertahan, meski sejumlah pengamat meragukan keberlanjutannya.

Netanyahu, yang telah menjabat sebagai perdana menteri selama lebih dari 19 tahun secara tidak berturut-turut, menghadapi perpecahan politik yang mendalam di masyarakat 'Israel'. Ia juga menghadapi sejumlah dakwaan korupsi yang dibantahnya serta berupaya merombak sistem peradilan.

Ia menjalin aliansi dengan kelompok sayap kanan ekstrem yang mendukung gerakan pemukim 'Israel'. Para pemukim tersebut kerap menyerang warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

Netanyahu juga menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait perang 'Israel' di Jalur Gaza.

Di Gaza, warga Palestina yang mengungsi menyatakan ketidakpastian mengenai dampak hasil pemilu 'Israel' terhadap kehidupan mereka.

“Kami khawatir pemilu ini justru menghasilkan pemimpin yang lebih buruk lagi, serta orang-orang yang lebih kejam dan haus darah,” kata Huda Al-Houli, seorang warga Gaza yang mengungsi, kepada AFP. (zarahamala/arrahmah.id)