SANA'A (Arrahmah.id) - Kelompok Houtsi menyatakan serangan udara Arab Saudi terhadap sebuah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) dan pasar di Yaman menewaskan sedikitnya 14 orang pada Rabu (28/10/2026). Sementara itu, serangan rudal yang dilancarkan Houtsi menyasar Bandara Aden, basis pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, dan melukai sejumlah warga sipil.
Dilansir The New Arab, stasiun televisi yang berafiliasi dengan Houtsi, Almasirah, melaporkan sedikitnya 14 orang tewas dan 15 lainnya terluka, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam serangan di Provinsi Al-Jawf, Yaman barat laut. Jumlah tersebut masih bersifat sementara.
Houtsi menyalahkan Arab Saudi atas serangan yang dilaporkan menghantam pasar dan sebuah SPBU tersebut.
Di Aden, dua rudal balistik menghantam area sekitar Bandara Aden dan menyebabkan kerusakan serta melukai sejumlah warga sipil, menurut juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Majed Abdullah Al-Nazili, melalui platform X.
Al-Nazili menuduh Houtsi berada di balik serangan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan keenam terhadap bandara itu.
Seorang sumber kepolisian setempat mengatakan kepada AFP bahwa salah satu rudal jatuh di dalam area bandara sesaat sebelum Houtsi mengeluarkan peringatan agar orang-orang mengevakuasi kawasan tersebut.
Juru bicara militer Houtsi, Yahya Saree, mengatakan pihaknya meminta semua orang yang berada di Bandara Aden segera meninggalkan lokasi karena terdapat pesawat kargo militer yang menurutnya milik Arab Saudi dan membawa senjata untuk membunuh rakyat Yaman.
Serangan pertama terjadi ketika sebuah pesawat militer Saudi berada di bandara. Namun, menurut sumber kepolisian pertama, pesawat tersebut tidak terkena serangan dan segera lepas landas.
Serangan kedua dilaporkan menyasar area di dalam kompleks bandara yang berada di bawah kendali pasukan Saudi, menurut pejabat kepolisian Aden lainnya. Kedua sumber tersebut berbicara dengan syarat anonim karena alasan keamanan.
Bulan lalu, Houtsi melancarkan serangan cepat di Yaman yang kembali memicu perang saudara setelah konflik tersebut lama berada dalam keadaan relatif beku. Kelompok itu berhadapan dengan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi.
Houtsi juga terus melancarkan serangan terhadap wilayah Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia. Serangan tersebut turut mengguncang pasar global yang sebelumnya sudah bergejolak akibat perang yang lebih luas di Timur Tengah. (zarahamala/arrahmah.id)
