Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober kembali menjadi momentum untuk meneguhkan peran santri bagi masa depan bangsa dan umat. Berdasarkan pemberitaan Radio Republik Indonesia (RRI) pada 18 Oktober 2026, tema resmi Hari Santri tahun ini adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut menekankan kontribusi santri dalam pembangunan sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemandirian ekonomi. Santri diharapkan tidak hanya mewarisi tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mampu berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Harapan tersebut tentu tidak keliru. Santri perlu memiliki wawasan luas, menguasai ilmu pengetahuan, dan memahami persoalan masyarakat. Namun, ada hal mendasar yang patut direnungkan: apakah orientasi pembangunan yang semakin ditekankan telah sejalan dengan fungsi utama pesantren dalam mencetak kader ulama? Jangan sampai santri semakin terampil memenuhi kebutuhan zaman, tetapi justru kehilangan kedalaman ilmu yang menjadi identitas dan kekuatan utamanya.
Ketika Peran Santri Bergeser
Pesantren memiliki kedudukan penting dalam pendidikan Islam, terutama dalam membentuk generasi yang memahami agama secara mendalam. Tujuan ini dikenal dengan istilah tafaqquh fiddin, yakni memperdalam pemahaman terhadap agama. Allah Swt. berfirman dalam QS At-Taubah ayat 122:
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?”
Ayat tersebut menegaskan pentingnya keberadaan orang-orang yang mendalami agama dan membimbing masyarakat. Karena itu, mencetak kader ulama semestinya tetap menjadi orientasi mendasar pendidikan pesantren. Ulama tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu menjelaskan hukum-hukum Islam, membimbing umat, serta memberikan jawaban atas persoalan kehidupan berdasarkan syariat.
Ketika keberhasilan santri lebih banyak diukur melalui produktivitas ekonomi, keterampilan teknis, kreativitas, atau prestasi dalam berbagai kompetisi, muncul risiko bergesernya prioritas pendidikan. Berbagai keterampilan tersebut memang bermanfaat, tetapi tidak seharusnya menggeser pendalaman ilmu syariat dan pembentukan kepribadian Islam.
Persoalannya bukan mempertentangkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum, melainkan memastikan bahwa pengembangan berbagai kemampuan tetap berpijak pada tujuan pendidikan Islam. Santri boleh menjadi ahli teknologi, pengusaha, ilmuwan, maupun profesional. Namun, mereka juga perlu dibekali pemahaman Islam yang mendalam agar mampu menilai dan mengarahkan pemanfaatan keahlian tersebut sesuai tuntunan Allah Swt.
Jangan Terjebak dalam Seremoni
Peringatan Hari Santri juga perlu menjadi ruang evaluasi terhadap arah pendidikan pesantren. Beragam kegiatan, seperti perlombaan seni, olahraga, dan keterampilan, dapat menjadi sarana mempererat kebersamaan serta mengembangkan potensi santri. Akan tetapi, kegiatan tersebut tidak boleh menjadi pusat peringatan hingga substansi pembentukan kader ulama justru terlupakan.
Hari Santri semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara dan simbol penghargaan terhadap santri. Momentum ini perlu menghidupkan kembali kesadaran tentang pentingnya ilmu, tanggung jawab dakwah, dan peran ulama dalam membimbing umat. Ukuran keberhasilan pendidikan santri tidak cukup dilihat dari banyaknya kegiatan atau prestasi yang diraih, tetapi juga dari kedalaman pemahaman agama, keteguhan kepribadian Islam, dan kemampuannya memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
Di sisi lain, penguatan nilai agama dalam bingkai pembangunan nasional perlu ditempatkan secara proporsional. Islam memang mengajarkan tanggung jawab sosial, menjaga persatuan, dan berbuat baik kepada sesama. Namun, cakupan ajaran Islam tidak terbatas pada kepentingan kebangsaan atau batas geografis suatu negara. Islam merupakan risalah yang ditujukan bagi seluruh manusia.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Anbiya ayat 107, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Ayat tersebut menunjukkan keluasan risalah Islam. Oleh karena itu, kecintaan terhadap tanah air dan kontribusi bagi masyarakat tidak semestinya mempersempit orientasi perjuangan seorang muslim. Kepedulian santri perlu mencakup persoalan umat Islam di berbagai belahan dunia, sekaligus persoalan kemanusiaan secara luas. Dengan demikian, nilai agama tidak sekadar menjadi pelengkap pembangunan, melainkan menjadi landasan dalam menilai arah kehidupan.
Menyiapkan Santri sebagai Kader Ulama dan Pemimpin Umat
Jika pesantren ingin berperan besar dalam membangun masa depan umat, pendidikan santri perlu diarahkan pada pembentukan generasi yang berilmu, berkepribadian Islam, dan memiliki visi peradaban. Hal ini dapat diwujudkan melalui penguatan beberapa aspek.
Pertama, mengokohkan pendidikan tafaqquh fiddin. Santri perlu memperoleh kesempatan yang memadai untuk mendalami Al-Qur’an, hadis, fikih, usul fikih, akidah, serta khazanah pemikiran Islam. Pembelajaran hendaknya tidak berhenti pada hafalan, tetapi membangun kemampuan memahami dalil, menyusun argumentasi, dan menerapkan hukum Islam dalam menjawab persoalan kontemporer. Dengan bekal tersebut, pesantren dapat melahirkan kader ulama yang mampu membimbing umat berdasarkan ilmu, bukan sekadar mengikuti arus perubahan.
Kedua, membangun kesadaran kepemimpinan dan tanggung jawab peradaban. Santri perlu memahami persoalan politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan hubungan internasional melalui perspektif Islam. Tujuannya agar mereka tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan individual, tetapi juga memahami sebab-sebab struktural yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Kedalaman ilmu agama yang disertai pemahaman terhadap realitas akan membentuk generasi yang mampu memberikan pandangan dan solusi secara komprehensif.
Ketiga, meneguhkan Islam sebagai landasan kehidupan yang menyeluruh. Islam bukan hanya mengatur ibadah individual dan akhlak, melainkan juga memberikan pedoman bagi kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Karena itu, perjuangan membangun peradaban Islam perlu bertumpu pada pemahaman syariat yang utuh, dakwah, pendidikan, serta pembinaan umat secara berkelanjutan.
Dalam politik Islam, gagasan tentang persatuan umat dan kepemimpinan Khilafah juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai tata kelola kehidupan umat. Gagasan ini perlu dikaji melalui dalil, khazanah fikih siyasah, dan pemikiran para ulama secara mendalam. Pembicaraan mengenai masa depan umat tidak cukup berhenti pada slogan persatuan, tetapi memerlukan pemahaman yang bertanggung jawab mengenai prinsip, tujuan, dan penerapannya.
Keempat, mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan tanpa kehilangan orientasi Islam. Penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi, dan kemampuan profesional tetap penting. Namun, semua itu perlu ditempatkan sebagai kemampuan pendukung bagi kemaslahatan umat, bukan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan santri. Dengan orientasi yang tepat, santri dapat berkontribusi dalam berbagai bidang sekaligus tetap menjaga identitasnya sebagai penuntut ilmu dan pengemban dakwah Islam.
Mengembalikan Orientasi Pendidikan Santri
Hari Santri Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi arah pendidikan pesantren. Besarnya jumlah santri merupakan potensi yang penting, tetapi potensi tersebut perlu disertai kualitas pendidikan yang mampu melahirkan ulama berilmu mendalam dan generasi yang memahami tantangan peradaban.
Pembangunan tidak cukup dimaknai sebagai pertumbuhan ekonomi, peningkatan keterampilan, atau pencapaian target nasional. Pembangunan juga harus mempertimbangkan nilai, arah, dan tujuan kehidupan manusia. Dalam pandangan Islam, kemajuan tidak semata-mata diukur dari capaian material, melainkan juga dari kesesuaiannya dengan ketentuan Allah Swt. dan kemampuannya mewujudkan kemaslahatan.
Karena itu, pesantren perlu terus memperkuat jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan kader ulama. Santri harus dipersiapkan untuk memahami Islam secara mendalam, membimbing umat, dan berkontribusi dalam membangun kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Santri bukan sekadar generasi yang dipersiapkan untuk mengikuti arah zaman, melainkan generasi berilmu yang mampu menilai perubahan dan memberikan arah berdasarkan Islam. Dari pesantren diharapkan lahir ulama dan pemimpin yang memiliki keluasan pandangan, keteguhan prinsip, serta tanggung jawab membangun peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Inilah makna penting Hari Santri: bukan hanya merayakan keberadaan santri, tetapi meneguhkan kembali tujuan besar pendidikan mereka—menjadi generasi berilmu yang membimbing umat dan berkontribusi bagi tegaknya kehidupan yang diridai Allah Swt.
