Memuat...

Tepi Barat Membara, Umat Islam Wajib Membela

Oleh Ine WulansariPendidik Generasi
Senin, 24 Agustus 2026 / 12 Rabiulawal 1448 19:46
Tepi Barat Membara, Umat Islam Wajib Membela
Gaza. (Foto: ispionline.it)

Palestina, negeri indah dengan sejuta pesona, kini tak lagi dapat dirasakan kedamaiannya oleh rakyatnya sendiri. Sejak serangan awal di tanggal 07 Oktober 2025 hingga saat ini, serangan demi serangan terus dilancarkan Zionis Israel terhadap Palestina, terutama diarahkan pada penduduk sipil termasuk anak-anak di dalamnya. Setiap jengkal wilayah Palestina terus tergerus dan dikuasai hingga hanya menyisakan sebagian kecil wilayahnya. Hingga saat ini, genosida di Tepi Barat oleh pemukim Yahudi masih terus membara. Serangan masif dan brutal ini tercatat hingga 10 Agustus 2026 telah menewaskan 76 warga Palestina termasuk 18 anak di bawah umur. Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan dalam pidatonya, pada tahun 2026 saja 3.800 warga Palestina yang sebagian besarnya adalah anak-anak telah kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan oleh pemukim. (Republika.co.id, 12 Agustus 2026)

Menurut Otoritas Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh menilai eskalasi serangan yang dilakukan tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat semakin memperburuk situasi dan mengancam prospek perdamaian di kawasan. Eskalasi tersebut sangat berbahaya dan menyasar warga Palestina dan tanah mereka. Ia mendesak masyarakat internasional terutama Dewan PBB untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan menekan Israel agar menghentikan agresi.

Sejumlah sumber Palestina melaporkan, pasukan Israel berupaya mendekati tiga rumah warga Palestina di wilayah Ras al-Ain, Qursa, dan sebelah selatan Harus. Ketiga rumah tersebut telah dikepung selama sepekan. Ada sekitar 15 warga Palestina termasuk dua anak-anak yang masih tinggal di rumah-rumah tersebut yang menyebabkan mereka kesulitan mengakses kebutuhan pokok. Juru Bicara Partai Fatah, Maher al-Namoura, mengecam pengepungan tersebut, ia mengatakan hal ini adalah bentuk serangan terang-terangan terhadap rakyat Palestina, hak-hak mereka dirampas, serta pelanggaran hukum dan konvensi internasional. (riau.antaranews.com, 15 Agustus 2026)

Kekerasan terhadap rakyat Palestina tidak hanya terjadi di Jalur Gaza. Di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, anak-anak Palestina terus menjadi korban kekerasan dan tindakan represif Israel. Dalam periode Januari 2024 dan Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur. Angka tersebut menunjukkan bahwa rata-rata lebih dari satu anak Palestina meninggal setiap minggunya. Bukan hanya korban jiwa, lebih dari 1.500 anak-anak mengalami luka-luka dan 355 anak Palestina dari Tepi Barat berada dalam penahanan militer Israel.

Deretan fakta tersebut memperlihatkan bahwa penderitaan rakyat Palestina juga anak-anak  bukan sekadar persoalan angka. Melainkan ada banyak nyawa anak-anak Palestina yang harus terenggut dengan paksa, mengalami luka, kehilangan kebebasan, serta keluarga yang harus menanggung trauma akibat kehilangan. Kejahatan yang dilakukan Zionis terhadap anak-anak Palestina terbukti menjijikkan dan biadab. Kekerasan tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka fisik, lebih dari itu penderitaan dan kerusakan nyata dalam kehidupan anak-anak Palestina menyebabkan mereka kehilangan rasa aman, orang-orang yang dicintai, dan harus menjalankan masa kanak-kanak di tengah ancaman kekerasan.

Tidak berhenti di situ, Zionis dengan sengaja meningkatkan berbagai macam bentuk tekanan dan kekerasan di Tepi Barat melalui serangkaian serangan, pengusiran, perampasan rumah dan tanah, serta tindakan keji lainnya. Kekerasan ini terus berlangsung sehingga penderitaan rakyat Palestina kerap luput dari perhatian dunia. Hal ini membuat Zionis mampu menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza. Berbagai serangan dan tindakan kejam yang dialami rakyat Palestina beserta anak-anak tak berdosa menunjukkan adanya upaya sistematis untuk mempersempit ruang hidup mereka dan dengan sengaja mengubah kondisi demografis serta penguasaan wilayah Tepi Barat secara perlahan namun pasti.

Kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina harus dilawan dan dihentikan. Tragedi kemanusiaan yang menimpa anak-anak di Palestina seharusnya mampu mengetuk hati nurani masyarakat dunia, begitu juga dengan para pemimpinnya. Mereka memiliki hak hidup, berhak memperoleh keamanan dan perlindungan, mendapatkan pendidikan yang layak, dan tumbuh tanpa dibayang-bayangi rasa takut. Sayangnya, ketika kekerasan terus-menerus berlangsung di depan mata, dunia internasional justru menutup mata. Mereka dengan sengaja mempertontonkan sikap lemah dan bungkam terhadap aksi kejam yang nyata dilakukan Zionis Israel. Jika hanya berbagai kecaman tanpa ada tindakan untuk menghentikannya, maka penderitaan akan terus dialami.

Islam mengharamkan pembiaran terhadap kejahatan dan kezaliman, termasuk yang menimpa anak-anak dan umat manusia seluruhnya. Dalam Islam, ada kewajiban untuk membela pihak yang terzalimi dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan. Bukan hanya sekadar memboikot produk-produk fisik Zionis, tetapi wajib membela dengan berbagai upaya yang bisa dilakukan. Rasulullah saw. bersabda: “Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi. Para sahabat bertanya bagaimana menolong orang yang zalim. Beliau menjawab bahwa menolongnya adalah dengan mencegahnya dari kezaliman,” (HR. Bukhari).

Untuk merealisasikan kemerdekaan dan kebebasan bagi Palestina dan umat seluruhnya, harus ada upaya nyata dari umat, yaitu dengan menguatkan kembali ukhuwah Islam melalui persatuan negeri-negeri muslim dan kepemimpinan Islam yang kuat dalam rangka membela rakyat Palestina dan menghadapi berbagai bentuk kezaliman dari Zionis Israel. Persatuan umat tidak cukup dilakukan melalui kecaman dan solidaritas sesaat, akan tetapi harus mampu melahirkan langkah politik yang terkoordinasi dan konsisten sebagai langkah melawan Israel.

Perjuangan dalam membela Palestina juga perlu terus disuarakan melalui dakwah dan seruan jihad dengan mengirimkan tentara Islam untuk pembebasan Palestina. Hal ini bisa diwujudkan apabila ada persatuan dan kekuatan politik yang terarah untuk mendorong para penguasa negeri-negeri muslim mengambil langkah konkret. Umat Islam dan para penguasa negeri-negeri muslim memiliki tanggung jawab untuk melindungi seluruh rakyat Palestina dan menghentikan berbagai macam penindasan yang terjadi. Sehingga, saat seluruh elemen umat bersinergi mengerahkan segenap kemampuan dan dukungannya terhadap Palestina, perjuangan bisa terus dilakukan hingga kemerdekaan hakiki bisa terealisasi. Rakyat Palestina memperoleh kembali hak-haknya, keamanan, dan keadilan.

 Wallahua'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya