Memuat...

Kasus Asma dan ISPA Melonjak di Malaysia Imbas Kabut Asap Karhutla Indonesia

Ameera
Senin, 24 Agustus 2026 / 12 Rabiulawal 1448 19:23
Kasus Asma dan ISPA Melonjak di Malaysia Imbas Kabut Asap Karhutla Indonesia
Kasus Asma dan ISPA Melonjak di Malaysia Imbas Kabut Asap Karhutla Indonesia

KUALA LUMPUR (Arrahmah.id) — Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan tajam kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di tengah kabut asap yang melanda sejumlah wilayah negara tersebut.

Kondisi ini terjadi di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia memburuk.

Menteri Kesehatan Malaysia, Dr Dzulkefly Ahmad, mengatakan sistem pemantauan sentinel Kementerian Kesehatan pada pekan epidemiologi terbaru mendeteksi peningkatan signifikan pada kasus gangguan pernapasan.

Kasus asma melonjak 259 persen, dari sebelumnya 61 kasus menjadi 219 kasus. Sementara itu, kasus ISPA meningkat 124 persen, dari 1.637 kasus menjadi 3.674 kasus.

"Kasus ISPA mencatat angka tertinggi sebanyak 3.674 kasus, meningkat dari 1.637 kasus, sedangkan kasus asma mencapai 219 kasus dibandingkan 61 kasus sebelumnya," kata Dzulkefly dalam pernyataan pada Ahad (23/8/2026), seperti dilansir The Star.

Di sisi lain, tidak semua penyakit yang dipantau mengalami peningkatan. Kasus konjungtivitis atau peradangan pada selaput lendir kelopak mata justru turun sebesar 7 persen.

"Sementara itu, kasus konjungtivitis turun menjadi 146 kasus dari 157 kasus," ujar Dzulkefly.

Tujuh Wilayah Malaysia Catat Kualitas Udara Tidak Sehat 

Memburuknya kondisi kesehatan tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan polusi udara di sejumlah wilayah Malaysia.

Hingga Ahad (23/8) pagi waktu setempat, tujuh wilayah dilaporkan mencatat Indeks Polutan Udara (API) pada kategori tidak sehat.

Lima wilayah di antaranya berada di Sarawak, yakni:

Serian dengan API 197.

Kuching dengan API 185.

Sri Aman dengan API 178.

Samarahan dengan API 176.

Sarikei dengan API 128.

Sementara itu, dua wilayah lainnya berada di Semenanjung Malaysia, yakni Sungai Petani di Kedah dan Taiping di Perak. Keduanya mencatat API masing-masing sebesar 126.

Dalam klasifikasi API Malaysia, angka 101-200 masuk kategori tidak sehat, 201-300 tergolong sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.

Warga Diminta Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Menyikapi kondisi tersebut, Dzulkefly mengimbau masyarakat, terutama penderita asma dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah terdampak.

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan pelindung pernapasan yang memadai.

"Pastikan asupan cairan mencukupi, hindari paparan yang tidak perlu, dan patuhi pedoman yang dirilis oleh kementerian," kata Dzulkefly.

Ia juga meminta masyarakat segera mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami gejala gangguan kesehatan.

"Jika Anda mengalami gejala apa pun, segera periksakan diri dan cari pengobatan," tegasnya.

Lonjakan kasus asma dan ISPA tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap lintas batas yang kembali berdampak pada kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia.

Pemerintah Malaysia pun terus memantau kondisi udara dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

(ameera/arrahmah.id)