RIYADH (Arrahmah.id) -- Milisi Syiah Houtsi di Yaman dikabarkan menuntut kompensasi 51 miliar dollar AS dan pengakuan sebagai penguasa sah Yaman dari Arab Saudi sebagai syarat menghentikan serangan, menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (5/11/2026). Seorang jurnalis yang dekat dengan Houtsi membantah laporan itu. Riyadh belum menerima atau mengonfirmasi tuntutan tersebut.
Dilansir Gulf News (05/11/2026), tuntutan itu muncul setelah Arab Saudi menghubungi Houtsi untuk menjajaki akhir konflik. Pendekatan itu dilakukan setelah serangan terhadap kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah dan perebutan wilayah strategis yang menghadap Selat Bab al-Mandab oleh Houtsi.
The Media Line menyebut wilayah itu Mokha. Houtsi menyebut dana itu kompensasi atas bertahun-tahun serangan udara pimpinan Saudi dan blokade berkepanjangan terhadap Yaman. Angka lain sempat dibahas, tetapi semuanya dalam puluhan miliar dollar. Belum ada kesepakatan yang diumumkan.
Tuntutan pengakuan menjadi dilema tersendiri. Pengakuan Houtsi sebagai penguasa sah akan melemahkan pemerintah Yaman yang diakui internasional dan didukung Riyadh, dan berpotensi menguatkan gerakan yang berpihak ke Iran di perbatasan selatan Saudi.
Analis menilai taruhannya besar. Maged Al Madhaji dari Sana’a Center for Strategic Studies mengatakan kepada WSJ bahwa bahayanya adalah preseden yang membuat Houtsi memakai eskalasi militer untuk memeras konsesi tambahan. Kristian Coates Ulrichsen dari Baker Institute, Rice University, menyebut risiko Saudi kini lebih besar dibanding periode 2015–2022, karena serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi merusak kepercayaan investor.
Houtsi membantah laporan itu. Menurut The New Arab, jurnalis yang berpihak pada Houtsi, Albukhaiti, menolak angka 51 miliar dollar dan menyatakan kelompok itu tidak menunggu pengakuan dari pihak mana pun. Sumber yang dekat dengan gerakan itu menyebut kerugian perang mencapai 1,13 triliun dollar. Dua versi itu belum menjawab apakah angka tersebut tuntutan resmi, posisi awal perundingan, atau salah satu dari beberapa angka yang dibahas.
Tekanan militer terhadap Saudi meningkat. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan mencegat dan menghancurkan rudal Houtsi yang ditembakkan ke arah wilayah Madinah pada Kamis. Menurut WSJ, pasukan Houthi berada sekitar 80 kilometer dari Aden, kedudukan pemerintah Yaman. Mesir menyetujui peran bantuan militer untuk Saudi, Turki bergerak meratifikasi pakta pertahanan dengan Saudi dan Pakistan, dan Pakistan menolak terlibat operasi ofensif di Yaman.
Amerika Serikat menolak ikut serta langsung dalam kampanye Saudi baru. Sebagai informasi, Israel Hayom melaporkan akhir Oktober bahwa Saudi menawarkan 1 miliar dollar lewat Iran kepada 'Houtsi', klaim yang belum dikonfirmasi dan berbeda dengan laporan WSJ ini. (hanoum/arrahmah.id)
