Memuat...

Dua Miliar Umat, Satu Al-Aqsa Tak Terjaga

Oleh KH. Bachtiar Nasir
Senin, 30 Maret 2026 / 11 Syawal 1447 17:50
Dua Miliar Umat, Satu Al-Aqsa Tak Terjaga
Dua Miliar Umat, Satu Al-Aqsa Tak Terjaga

(Arrahmah.id) - Lebih dari dua puluh delapan hari Al-Aqsa ditutup. Pertanyaannya, di mana kita wahai umat?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 21, “Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

Hari ini, Masjid Al-Aqsa telah ditutup selama lebih 28 hari. Bukan sehari, bukan dua hari. Penutupan itu bahkan diperpanjang hingga 15 April, dan situasinya masih belum jelas.

Ini menjadi penutupan terpanjang sejak peristiwa Perang Enam Hari tahun 1967, tanpa kepastian kapan akan kembali dibuka.

Kondisi Umat Dua Miliar

Masjid suci dikunci, tempat sujud dibatasi, tanah para nabi dikuasai. Di saat yang sama, umat Islam berjumlah lebih dari dua miliar manusia. Namun satu masjid tidak mampu kita jaga.

Dua miliar, tetapi satu tanah suci tidak mampu kita lindungi.

Dua miliar, tetapi kita hanya menjadi penonton. Ada apa dengan umat ini? Ada apa dengan iman kita hari ini?

Masjid Al-Aqsa adalah simbol kehormatan kita, simbol cahaya spiritual kita, dan bagian dari tanah suci umat Islam.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ini bukan sekadar penutupan masjid. Ini adalah penyingkapan kondisi umat. Kita banyak, tetapi tercerai-berai.

Kita kuat, tetapi tidak bersatu. Kita beriman, tetapi diam. Kita shalat, tetapi tidak bergerak.

Kita berjamaah, tetapi hati tidak berjamaah. Yang tertutup hari ini bukan hanya pintu Masjid Al-Aqsa, tetapi juga hati kita sendiri.

Kiblat Pertama dan Tanah Isra Mi’raj

Wahai kaum muslimin, Al-Aqsa adalah kiblat pertama kita. Tempat di mana umat Islam dahulu menghadap dalam sujudnya. Namun hari ini, mengapa hati kita tidak lagi menghadap ke sana?

Al-Aqsa adalah bumi Isra Mi'raj, tempat Rasulullah SAW naik ke langit. Namun hari ini, ketika ia ditutup dan kita tidak bisa memasukinya, hati kita justru terasa biasa saja.

Bani Israil pernah diharamkan memasuki tanah suci selama 40 tahun. Namun umat Islam hari ini hampir 80 tahun tidak bisa memasukinya.

Bahkan jika pun bisa masuk, harus dengan izin penjajah dan dalam keadaan tidak mulia. Ada apa dengan iman kita? Ada apa dengan shalat dan syahadat kita?

Al-Aqsa adalah amanah. Amanah dari Rasulullah SAW, para sahabat, dan para pejuang seperti Salahuddin Al-Ayyubi. Amanah yang diwariskan dengan darah dan pengorbanan.

Namun hari ini, kita diam. Ketika amanah itu diinjak, kita tidak bangkit. Ketika kehormatan itu dilukai, kita tidak bergerak.

Rasulullah SAW bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah adalah orang yang hatinya terpaut pada masjid. Lalu, benarkah hati kita terpaut pada masjid, jika Al-Aqsa ditutup dan kita tidak merasakan apa-apa?

Masalahnya bukan pada Al-Aqsa. Masalahnya bukan semata pada pihak luar. Masalahnya ada pada hati kita sendiri.

Kita memiliki banyak nikmat, kemerdekaan, negara, dan masjid yang berdiri megah. Namun harga diri kolektif umat Islam justru hilang.

Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 20–26, dikisahkan bagaimana Bani Israil menolak perintah untuk memasuki tanah suci karena rasa takut. Akibatnya, mereka diharamkan memasukinya selama 40 tahun.

Hari ini, apakah kita sedang mengulang sejarah yang sama? Ketakutan, ketergantungan, dan sikap menunggu membuat umat kehilangan keberanian.

Banyak yang menyerahkan tanggung jawab kepada pemimpin, seolah perubahan hanya bergantung pada mereka. Padahal kemenangan tidak datang dari logika semata, tetapi dari iman dan keberanian.

Seruan untuk Umat

Ingat, ini untuk para ulama, wahai yang merasa dipanggil sebagai ulama, bangkitlah! Jangan diam, karena kalian adalah pewaris para nabi.

Kepada para pemimpin, ingat, kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.

Termasuk para suami dan ayah, yang akan ditanya oleh Allah tentang amanahnya, ketika agama dinistakan dan masjid suci ditindas sementara mereka diam. Wahai para pemuda, wahai para lelaki: kalian adalah penentu perubahan.

Jangan menjadi generasi yang hanya diam. Ambil peran dalam kebaikan, berkontribusi dengan cara yang nyata, dan jangan hanya berhenti pada kata-kata.

Kepada para wanita, wahai penerus generasi mulia, didiklah anak-anak menjadi pribadi yang berani, beriman, dan berakhlak kuat.

Kepada para lelaki, jadilah ksatria karena ketaatan kepada Allah, bukan karena emosi atau hawa nafsu.

Kepada para jurnalis, tulisan adalah kekuatan. Gunakan untuk menyuarakan kebenaran.

Kepada para pengguna media sosial dan influencer, narasi yang kalian bangun memiliki dampak besar. Gunakan untuk menyebarkan kepedulian dan kesadaran.

Kepada umat Islam Indonesia, bersatulah dalam kebaikan dan kepedulian. Perkuat ukhuwah, mulai dari yang dekat, untuk membangun kesadaran yang lebih luas.

Kepada seluruh dunia Islam, jadilah satu tubuh, saling menguatkan dan saling peduli.

Mulai dari sekarang, gunakan setiap sarana yang ada, termasuk teknologi, untuk menyebarkan kebaikan, kepedulian, dan doa. Karena Allah telah menjanjikan pertolongan bagi mereka yang menolong agama-Nya.

Persoalan Al-Aqsa bukan sekadar konflik politik. Ini adalah krisis iman dan krisis kepedulian.

Jika kita tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka kita kehilangan makna sebagai satu umat. Maka pertanyaannya kembali, di mana kita, wahai umat?

Jawabannya tidak cukup dengan kata-kata. Ia harus hadir dalam kesadaran, kepedulian, dan perubahan nyata dalam diri kita masing-masing.

(ameera/arrahmah.id)