Memuat...

Houtsi Ancam Serang Bandara dan Fasilitas Minyak Arab Saudi Usai Serangan di Sana'a

Zarah Amala
Rabu, 14 Oktober 2026 / 4 Jumadilawal 1448 11:50
Houtsi Ancam Serang Bandara dan Fasilitas Minyak Arab Saudi Usai Serangan di Sana'a
Houtsi mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap bandara dan fasilitas minyak Saudi setelah menuduh Riyadh menyerang lokasi pengeboran minyak di ibu kota Yaman, Sana'a [Getty]

SANA'A (Arrahmah.id) - Houtsi Yaman mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap sejumlah bandara dan fasilitas energi Arab Saudi setelah menuduh Riyadh menyerang fasilitas minyak di ibu kota Yaman, Sanaa, pada Selasa (13/10/2026).

Menurut laporan The New Arab, ancaman tersebut muncul setelah koalisi pimpinan Arab Saudi meminta warga meninggalkan area di sekitar fasilitas milik Perusahaan Minyak Yaman di Al-Sabaha, pinggiran barat Sanaa, sebelum serangan dilaporkan terjadi.

Koresponden AFP di Sanaa melaporkan terdengar ledakan di lokasi tersebut. Sementara itu, stasiun televisi Al-Masirah yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan bahwa serangan Saudi menargetkan fasilitas perusahaan minyak di Al-Sabaha.

Sebelum serangan tersebut dilaporkan terjadi, Houtsi mengancam akan menargetkan Bandara Internasional Riyadh, sebuah kilang minyak, serta fasilitas perusahaan minyak Aramco di Dammam jika Arab Saudi melanjutkan serangannya.

Juru bicara militer Houtsi, Yahya Saree, melalui platform X meminta warga menjauhi lokasi-lokasi yang disebut akan menjadi sasaran serangan balasan apabila Arab Saudi menyerang Yaman.

Ancaman itu muncul setelah serangan terhadap bandara dan fasilitas energi Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir meningkatkan ketegangan antara kedua pihak.

Pada Selasa (13/10), koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat tiga pesawat nirawak di sebelah utara Riyadh.

Serangan terhadap bandara Riyadh pada Sabtu (10/10) sebelumnya dilaporkan menewaskan 13 orang dan menyebabkan operasional bandara dihentikan. Insiden tersebut memperburuk situasi keamanan di Arab Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam konflik melawan Houtsi.

Sementara itu, sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya di Arab Saudi. Prancis, misalnya, pada Selasa (13/10) meminta warganya menghindari bandara di Riyadh, Jeddah, dan Dammam.

Arab Saudi telah mendukung pemerintah Yaman secara militer dalam perang melawan Houthi sejak 2015. Konflik berkepanjangan tersebut memicu krisis kemanusiaan di negara itu.

Menurut laporan tersebut, konflik yang kembali memanas sejak Juli turut meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi, yang sebelumnya juga menghadapi gangguan perdagangan energi akibat blokade Iran di Selat Hormuz sejak perang Timur Tengah dimulai pada Februari.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (13/10) memperkirakan produk domestik bruto Arab Saudi akan menyusut 3,3 persen tahun ini. IMF mengaitkan prospek penurunan ekonomi regional dengan gangguan di Selat Hormuz.

Di Yaman, pertempuran yang kembali berkobar juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa memperingatkan bahwa dugaan kasus kolera meningkat tiga kali lipat dalam tiga pekan terakhir, sehingga menambah beban rumah sakit yang telah menangani korban perang.

Houtsi Peringatkan AS agar Tidak Ikut Campur

Ketegangan turut melibatkan Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houtsi menyusul serangan di Bandara Riyadh.

Anggota biro politik Houtsi, Mohammed Al-Bukhaiti, memperingatkan Washington agar tidak melakukan intervensi. Ia mengatakan kepada AFP bahwa kelompoknya akan menargetkan kepentingan Amerika Serikat di kawasan jika Washington ikut campur.

Menurut Al-Bukhaiti, serangan terhadap sasaran-sasaran Saudi dimaksudkan untuk mengirimkan pesan kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahwa Arab Saudi tidak bisa lagi melancarkan serangan terhadap Yaman tanpa menghadapi risiko di wilayahnya sendiri. (zarahamala/arrahmah.id)