AMMAN (Arrahmah.id) – Pemerintah Yaman mengumumkan penandatanganan kesepakatan pertukaran tahanan terbesar dalam sejarah konflik dengan kelompok “Houthi”, Kamis (14/5/2026), lansir Al Jazeera.
Kesepakatan yang dicapai dalam perundingan di ibu kota Yordania itu mencakup pembebasan sekitar 1.728 tahanan dari kedua belah pihak, terdiri dari personel militer, aparat keamanan, hingga kalangan sipil seperti politisi dan jurnalis.
Wakil ketua delegasi pemerintah Yaman, Yahya Kazman, menyebut kesepakatan ini sebagai langkah kemanusiaan penting dalam mengakhiri penderitaan para tahanan dan keluarga mereka.
Ia menegaskan, pemerintah akan terus mengupayakan pembebasan seluruh tahanan yang masih tersisa hingga persoalan ini selesai secara menyeluruh.
Dalam kesepakatan tersebut, turut dibahas nasib tokoh politik Muhammad Qahtan. Pemerintah menyatakan akan dibentuk komite bersama dengan melibatkan keluarganya untuk menuju Sana’a guna memastikan kondisinya, dengan pendampingan Komite Palang Merah Internasional sebagai mediator netral.
Selain itu, kedua pihak juga menyepakati kunjungan timbal balik ke penjara dan lokasi penahanan pada tahap selanjutnya setelah proses pembebasan dilaksanakan.
Dari pihak “Houthi”, ketua delegasi Abdul Qadir al-Murtadha menyatakan bahwa jumlah tahanan yang akan dibebaskan mencapai 1.680 orang, terdiri dari 1.100 dari pihak mereka dan 580 dari pihak lawan, termasuk tahanan asal Saudi dan Sudan.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan pertukaran akan dimulai setelah seluruh prosedur teknis bersama Palang Merah Internasional rampung.
Sementara itu, utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai momen yang telah lama dinantikan oleh ribuan keluarga di Yaman.
Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa dialog yang serius dapat menghasilkan kemajuan nyata, sekaligus membuka jalan bagi upaya perdamaian yang lebih luas.
Sebelumnya, kesepakatan awal juga telah dicapai di Muscat pada akhir Desember lalu untuk membebaskan sekitar 3.000 tahanan. Adapun pertukaran terakhir terjadi pada April 2023 dengan pembebasan sekitar 900 tahanan melalui mediasi PBB setelah perundingan di Swiss.
Kesepakatan terbaru ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penyelesaian konflik berkepanjangan di Yaman yang telah memicu krisis kemanusiaan selama bertahun-tahun.
(Samirmusa/arrahmah.id)
