(Arrahmah.id) -
Khutbah Pertama
Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Salah satu pertanyaan penting bagi seorang Muslim adalah: bagaimana mengetahui bahwa iman kita benar?
Apakah cukup dengan pengakuan?
Apakah cukup dengan identitas?
Apakah cukup dengan mengatakan, “Saya orang beriman”?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat jelas.
Allah Swt berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat [49]: 15)
Perhatikan akhir ayat ini:
أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Allah tidak hanya menyebut mereka sebagai orang yang mengaku beriman.
Allah menyebut mereka ash-shādiqūn—orang-orang yang benar.
Mengapa? Karena keimanan mereka memiliki pembuktian.
Mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka tidak membiarkan keraguan menggoyahkan iman.
Dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.
Jamaah Jum'at rahimakumullah,
Kata jihad dalam ayat ini jangan dipersempit hanya menjadi peperangan.
Jihad berarti mengerahkan kesungguhan dan kemampuan untuk menegakkan kebaikan yang diridai Allah. Bentuknya dapat berbeda sesuai keadaan, kemampuan, kewajiban, dan ketentuan syariat.
Karena itu, ayat ini menyebut dua modal besar:
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ
dengan harta dan jiwa mereka.
Harta digunakan untuk kebaikan.
Jiwa digunakan untuk pengabdian.
Tenaga digunakan untuk kemanfaatan.
Ilmu digunakan untuk mencerdaskan.
Waktu digunakan untuk melayani.
Keberanian digunakan untuk membela kebenaran.
Dan seluruh kemampuan digunakan untuk mencari ridha Allah.
Inilah yang membuat iman menjadi nyata.
Jama'ah Jum'at yang dimuliakan Allah,
Ada satu hal menarik yang disampaikan Umar bin Khaththab Ra tentang karakter orang beriman. Diriwayatkan sebuah ungkapan:
خصلتان لا تفترقان من المؤمن: السماحة والشجاعة
“Dua sifat yang tidak terpisah dari orang beriman: kemurahan hati dan keberanian.”
Kemurahan hati dan keberanian merupakan dua sifat yang sangat penting.
Orang yang beriman tidak hanya memiliki keyakinan di dalam hati.
Ia memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran.
Dan ia memiliki kemurahan hati untuk memberikan manfaat.
Berani, tetapi tidak zalim.
Kuat, tetapi tidak kasar.
Tegas, tetapi tidak sewenang-wenang.
Dermawan, tetapi tidak mencari pujian.
Beramal, tetapi tidak merasa dirinya paling suci.
Inilah keseimbangan yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita.
Imam adz-Dzahabi memberikan perhatian pada pentingnya pendidikan sifat-sifat tersebut. Anak-anak perlu dididik agar memiliki sakhāwah—kemurahan hati—dan syajā‘ah—keberanian.
Jama'ah rahimakumullah,
Maka jangan hanya bertanya apakah anak kita pintar.
Tanyakan pula:
Apakah ia berani berkata benar?
Apakah ia berani mengakui kesalahan?
Apakah ia berani menolak keburukan?
Apakah ia berani membela orang yang lemah?
Apakah ia mau berbagi?
Apakah ia peduli kepada tetangga?
Apakah ia rela menggunakan hartanya untuk membantu orang lain?
Apakah ia mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kebaikan?
Sebab pendidikan iman bukan sekadar membuat anak tahu agama.
Pendidikan iman harus membuat anak hidup dengan agama.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah kemudian berfirman pada ayat berikutnya:
قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Katakanlah: Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu? Padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Hujurat [49]: 16)
Ayat 15 berbicara tentang bukti iman. Ayat 16 mengingatkan tentang hakikat iman yang diketahui Allah.
Manusia boleh mengatakan dirinya beriman.
Tetapi Allah mengetahui apakah pengakuan itu benar-benar sesuai dengan kenyataan.
Manusia dapat berbicara tentang keshalihan.
Allah mengetahui amalnya.
Manusia dapat berbicara tentang keberanian.
Allah mengetahui apakah ia benar-benar berani ketika kebenaran menuntut pengorbanan.
Manusia dapat berbicara tentang kedermawanan.
Allah mengetahui apakah tangannya benar-benar terbuka ketika saudaranya membutuhkan.
Maka jangan terlalu sibuk membuktikan kesalehan kita kepada manusia.
Buktikanlah kepada Allah melalui amal.
Sebab yang Allah kehendaki bukan sekadar klaim.
Allah menghendaki ash-shidq—kebenaran dan ketulusan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di sinilah kita perlu memahami makna “orang-orang yang benar” dalam QS. al-Hujurat ayat 15.
Orang yang benar imannya bukan orang yang paling banyak mengaku.
Bukan pula orang yang paling keras berbicara tentang agama.
Bukan orang yang paling mudah menilai iman orang lain.
Tetapi orang yang antara iman, ucapan, dan amalnya terdapat kesesuaian.
Imannya melahirkan keteguhan.
Keteguhannya melahirkan pengorbanan.
Pengorbanannya melahirkan manfaat.
Dan manfaat itu diberikan karena Allah.
Deklarasi iman adalah awal. Pembuktian iman adalah perjalanan. Amal saleh adalah kesaksiannya.
Mudah mengatakan “Saya beriman.”
Yang berat adalah mempertahankan iman ketika menghadapi godaan.
Mudah berbicara tentang kebenaran.
Yang berat adalah tetap jujur ketika kejujuran merugikan diri sendiri.
Mudah berbicara tentang keberanian.
Yang berat adalah berani mengatakan yang benar ketika menghadapi tekanan.
Mudah berbicara tentang kedermawanan.
Yang berat adalah memberikan sesuatu yang kita cintai kepada orang yang membutuhkan.
Itulah sebabnya Allah menutup ayat dengan:
أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk di dalamnya.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita membawa pulang tiga pelajaran dari QS. al-Hujurat ayat 15 dan 16.
Pertama, iman bukan sekadar pengakuan.
Iman harus memiliki tanda dan pembuktian.
Kedua, orang beriman harus memiliki keberanian dan kemurahan hati.
Berani dalam kebenaran dan dermawan dalam kebaikan.
Ketiga, jangan merasa diri paling mengetahui kualitas iman sendiri.
Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati dan apa yang kita kerjakan.
Karena itu, marilah kita mendidik diri dan keluarga kita menjadi generasi yang kuat imannya, luas manfaatnya, berani dalam kebenaran, dan ringan tangan dalam kebaikan.
Jangan mendidik anak hanya agar sukses mencari kehidupan.
Didiklah mereka agar mampu memberikan kehidupan yang baik kepada orang lain.
Jangan hanya ajarkan mereka bagaimana mendapatkan.
Ajarkan pula bagaimana memberi.
Jangan hanya ajarkan bagaimana menang.
Ajarkan pula bagaimana berbuat benar.
Jangan hanya ajarkan keberanian menghadapi manusia.
Ajarkan keberanian menghadapi hawa nafsu sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita ash-shādiqūn, orang-orang yang benar dalam iman, benar dalam ucapan, dan benar dalam amal.
اللهم أصلح قلوبنا وأصلح أعمالنا وأصلح أخلاقنا.
اللهم ارزقنا الإيمان الصادق، والقول الصادق، والعمل الصالح.
اللهم اجعلنا شجعانًا في الحق، أسخياء في الخير، رحماء بعبادك.
اللهم أصلح أبناءنا وبناتنا، وبارك في أسرنا، واجعل بيوتنا بيوتًا للإيمان والعلم والأخلاق.
اللهم علمنا ما ينفعنا، وانفعنا بما علمتنا، وزدنا علمًا.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
Yogyakarta, 18 September 2026
(ameera/arrahmah.id)
