Memuat...

Meski tak sependapat dengan bom Solo, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tetap doakan pelaku bom Solo

Rasul Arasy
Ahad, 9 Oktober 2011 / 12 Zulkaidah 1432 15:27
Meski tak sependapat dengan bom Solo, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tetap doakan pelaku bom Solo
Meski tak sependapat dengan bom Solo, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tetap doakan pelaku bom Solo

JAKARTA (Arrahmah.com) – Meskipun telah didzolimi dengan memvonis 15 tahun penjara, sepertinya para penebar fitnah belum puas melakukan kedzoliman terhadap Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Berbagai tuduhan sepihak terus dilancarkan tiada henti untuk menjelekkan nama beliau.

Salah satunya tudingan bahwa pelaku bomber Solo adalah anggota Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) yang dibaiat langsung oleh Abu Bakar Ba'asyir, seperti yang diungkapkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa Achmad Yosepa Hayat adalah anggota JAT dan pernah dibaiat.

"Bukan, itu yang bersangkutan pernah dibaiat. Apakah hingga saat ini yang bersangkutan masih menjadi anggota JAT, yang jelas dia pernah dibaiat," ujarnya seperti dikutip okezone.com di kantornya, Jakarta, Senin (3/10/2011).

Dari hasilwawancara voa-islam.com dengan Ustadz Abu, demikian biasa disapa di sel Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan, dengan tegas, Ustadz Abu menolak bila ia dan JAT dikait-kaitkan dengan berbagai aksi pemboman rumah ibadah. Menurutnya, Islam melarang mengganggu agama lain bila mereka tidak memusuhi Islam.

"Menurut aturan agama, tidak betul cara-cara seperti itu. Meskipun ideologinya kita tolak, tidak boleh diganggu selama dia tidak mengganggu Islam. Rumusannya terhadap orang kafir itu kita tidak boleh membantu upacara agamanya dan tidak boleh mengganggu," jelasnya, Jum'at (7/10).

"Membantu tidak boleh dan mengganggu pun tidak boleh kecuali ada bukti gereja itu ada musyawarah misalnya untuk menghancurkan Islam. Seperti masjid dhiror itu, ada bukti mereka membangun masjid untuk mengumpulkan tentara dari luar pura-pura Islam untuk menyerang Madinah, nah itu baru boleh dihancurkan."

Ustadz Abu menegaskan bahwa institusi JAT tidak pernah mengajarkan hal semacam itu, karena aksi tersebut menurutnya tidak sesuai sunnah. Ustadz Abu juga mengimbau agar para mujahidin mengimbangi semangat jihadnya dengan kajian syariat.

"Jamaah tidak mengajarkan macam itu, seperti di Cirebon dan di Solo. Saya sudah menyampaikan kritik, itu tidak betul menurut sunnah. Jadi itu urusan dia, kemungkinan dia ngaji pada orang lain. Keras itu boleh selama keras itu sesuai dengan syariat bukan sekedar semangat," imbaunya.

Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa menghancurkan suatu tempat ibadah, baru diperbolehkan bila ada bukti bahwa tempat tersebut dipakai sebagai markas untuk menyerang Islam.

"Sekarang adakah bukti bahwa gereja itu tempat musyawarah untuk menghancurkan Islam? Kalau tidak ada bukti tidak boleh, itu pandangan kita," ungkapnya.

Meskipun Ustadz Abu yang tidak sependapat dengan aksi bom Gereja di Solo, namun beliau tetap mendoakan pelaku bom jika tujuannya untuk istisyhad semoga amalnya diterima oleh Allah Ta'ala dan diampuni kesalahannya.

"Nah kalau tujuannya mau mati syahid itu mulia, mudah-mudahan diterima oleh Allah Ta'ala dan kesalahannya diampuni," ujarnya.

Dalam wawancara siang itu, Ustadz Abu juga membantah pemberitaan di media-media nasional yang memelintir pernyataannya mengutuk aksi bomber Solo. Ia mengimbau agar berhati-hati adanya upaya memecah belah mujahidin.

"Saya tidak pernah mengutuk atau mengucapkan kata-kata terkutuk," bantahnya. "Jadi hati-hati ada upaya memecah belah dengan memelintir pembicaraan saya," pungkasnya. (voaI/arrahmah.com)