Perang Iran-AS-Israel telah berefek signifikan pada percaturan stabilitas harga minyak bumi dunia hingga memicu fenomena panic buying BBM di sejumlah negara di dunia. Dilansir oleh CNN Indonesia (5/3/2026), beberapa negara seperti Korea Selatan, Australia, Inggris, Bangladesh, Myanmar, Filipina, serta Indonesia melaporkan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar. Masyarakat berbondong-bondong mengisi penuh tangki kendaraannya, karena khawatir eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas akan membuat harga BBM melonjak atau pasokan terganggu disebabkan penutupan panjang Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Di Indonesia sendiri sejak awal Maret antrean panjang terlihat mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai daerah seperti Jawa Timur (Jember, Bondowoso, Situbondo) dan Sumatera (Medan, Aceh) hingga memakan jalan dan menimbulkan kemacetan. Antrean itu terjadi usai pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan stok bahan bakar minyak Indonesia hanya cukup untuk 20-25 hari karena penutupan Selat Hormuz Iran. Untuk meredam situasi itu, Bahlil meminta masyarakat untuk tetap tenang, tidak panic buying karena cadangan BBM nasional cukup aman untuk Ramadan-Idul Fitri. Ia menegaskan cadangan 20-25 hari bukan situasi darurat. (Kompas.com, 8/3/2026)
Bukti Rentannya Sistem Energi Dunia
Fenomena panic buying BBM sejatinya menunjukkan betapa rentannya sistem energi global hari ini yang bergantung pada jalur distribusi yang panjang sehingga tidak kuat terhadap gejolak geopolitik. Tak bisa dimungkiri, negara-negara di dunia memang bergantung pada Timur Tengah dalam hal BBM dan minyak mentah. Sebab kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia sekaligus jalur distribusi energi internasional yang sangat strategis. Alhasil, ketika terjadi eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah seperti Iran dan As-Israel, secara signifikan mempengaruhi ketahanan energi dunia. Dampaknya langsung terasa hingga ke negara-negara yang jauh dari pusat konflik, termasuk Indonesia.
Inilah yang terjadi ketika sebuah negara tidak memiliki kemandirian dan selalu bergantung pada negara lain serta pasar global. Ketika negara mitra mengalami guncangan baik ekonomi maupun konflik geopolitik, ia pun turut terguncang dan tidak bisa menjaga stabilitas domestik, apalagi mampu bertahan menghadapi krisis global.
Bagi Indonesia ini adalah ironi. Karena Indonesia adalah negara yang terkenal kaya akan SDA dan minyak bumi. Indonesia memiliki cadangan minyak bumi 3,6-4 miliar barel yang terkonsentrasi di Sumatera (Blok Rokan), Jawa Timur (Blok Cepu), Kalimantan, dan Papua Barat. Dengan semua itu semestinya Indonesia tidak mengalami panic buying BBM dan mampu bertahan menghadapi berbagai krisis global. Sayangnya, sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini menjadikan negara tidak mampu berdaulat. Kapitalisme meniscayakan negara lemah di bawah para korporasi raksasa internasional dan selalu bergantung pada impor serta mekanisme pasar global.
Kemandirian Islam dan Visi Negara Adidaya
Sejatinya panic buying BBM yang menimpa dunia terutama negeri-negeri muslim terjadi karena posisi negeri-negeri kaum muslim saat ini sebagai pengekor (client state). Posisi seperti ini memungkinkan negara secara politik, ekonomi, maupun militer bergantung pada negara lain yang lebih kuat (penguasa Barat dengan kapitalismenya). Ia kehilangan kedaulatan dan kemandiriannya serta tidak memiliki kemampuan untuk menentukan kebijakan dalam negerinya sendiri karena harus selaras dengan negeri yang diikutinya.
Ini sangat jauh berbeda dengan negara berlandaskan Islam yang memiliki visi historis dan standar sebagai negara adidaya yang kuat serta tangguh dalam berbagai hal. Visi tersebut menjadikan negara mampu mengatasi persoalan dalam negeri tanpa ada intervensi asing. Di samping itu ia juga akan memberikan keadilan, kemakmuran, serta mewujudkan ketenangan bagi warga negara.
Islam memandang energi (BBM) sebagai kebutuhan vital rakyat dan bagian dari kepemilikan umum. Prinsip ini didasarkan pada hadis: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam konteks modern, istilah ‘api’ diartikan sebagai sumber energi; BBM, listrik, gas, dan sejenisnya. Sumber daya ini milik umat, dan ada 3 prinsip pengelolaannya yang ditetapkan Islam.
Pertama, negara yang diamanahi untuk mengelolanya secara mandiri secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan atau menghilangkan hak generasi mendatang. Islam pun melarang menyerahkan pengelolaannya pada swasta baik lokal maupun asing, apalagi diprivatisasi ataupun dimonopoli sekelompok individu.
Kedua, hasil pengelolaannya wajib didistribusikan kepada rakyat secara adil dan merata dalam bentuk pemenuhan kebutuhan kolektif seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara gratis. berorientasi pada laba semata. Aktivis distribusi ini bukan hanya soal logistik namun bagian tanggung jawab negara atas rakyatnya.
Ketiga, Islam melarang model neoliberal sektor energi pada mekanisme pasar. Negara memiliki otoritas penuh menjaga ketersediaan energi sebagai kebutuhan publik.
Demikianlah pandangan Islam terhadap energi dan kedaulatan yang dimiliki negara Islam. Selain mandiri secara ekonomi dan politik, negara ini mampu menjadi corong peradaban bagi bangsa asing sebagaimana era Rasulullah dan kekhilafahan. Maka ketika Islam diterapkan sebagai aturan kehidupan, dapat dipastikan hegemoni Barat dan intervensinya akan menjadi lemah dan berpotensi tunduk pada daulah Islam.
Wallahu a'lam bis shawwab
