ADEN (Arrahmah.id) - Serangan rudal kelompok Houtsi menghantam kompleks Istana Al-Maashiq di Aden, ibu kota sementara pemerintah Yaman, pada Kamis (15/10/2026). Sedikitnya empat orang tewas dan 10 lainnya terluka dalam serangan yang menyasar pusat komando militer di kompleks tersebut.
Menurut laporan AFP, seorang menteri Yaman yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan serangan itu menghantam pusat komando pasukan pemerintah Yaman dan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah.
Menteri tersebut menyebut Houtsi meluncurkan tiga rudal ke pusat komando pasukan pemerintah Yaman dan dua rudal lainnya ke pusat komando pasukan koalisi Saudi. Ia mengatakan terdapat korban dari pihak Yaman dan Saudi, tetapi tidak merinci jumlah masing-masing.
Perdana Menteri Yaman, Shaya al-Zindani, dilaporkan berada di kompleks istana saat serangan berlangsung. Namun, menurut menteri tersebut, al-Zindani tidak mengalami cedera.
Jurnalis AFP melihat asap membubung dari lokasi, sementara warga melaporkan mendengar sejumlah ledakan. Serangan ini disebut sebagai yang pertama menghantam kompleks istana sejak konflik Yaman kembali memanas pada Juli lalu.
Media yang berafiliasi dengan Houtsi mengklaim serangan tersebut menargetkan markas operasi militer yang dipimpin perwira Saudi di Istana Al-Maashiq, serta gudang senjata milik pasukan koalisi.
Serangan terhadap Aden terjadi ketika Arab Saudi menuduh Iran mendorong peningkatan serangan Houtsi. Riyadh juga menuding Teheran terus memasok senjata dan memberikan pelatihan kepada kelompok tersebut.
Rayed Krimly, pejabat diplomasi publik di Kementerian Luar Negeri Saudi, mengatakan negaranya masih menjalin komunikasi dengan Iran, tetapi menilai Teheran belum menunjukkan kesediaan untuk memberikan konsesi.
“Kami menilai eskalasi yang dilakukan Houtsi pada tahap terbaru konflik ini didorong oleh Iran,” kata Krimly.
Koalisi pimpinan Saudi juga menyatakan telah mencegat sejumlah drone yang diluncurkan Houtsi ke wilayah selatan Arab Saudi dan Kota Khamis Mushait.
Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman mengatakan Houtsi meluncurkan sejumlah rudal balistik ke Marib, kota di wilayah tengah Yaman yang memiliki posisi strategis dan kaya sumber daya minyak.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Saudi itu juga menuduh Houtsi menolak ajakan pertemuan di Muscat, Oman, ketika eskalasi mulai meningkat. Menurutnya, komunikasi tersebut berlangsung pada Juli lalu.
Serangan ke Arab Saudi dan Dampak Perang
Serangan Houtsi terhadap Arab Saudi juga dilaporkan meningkat. Koalisi pimpinan Saudi menyebut kelompok tersebut telah menyerang Bandara Internasional Riyadh sebanyak 20 kali sepanjang bulan ini.
Pada Sabtu sebelumnya, serangan terhadap bandara tersebut dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai sekitar 300 lainnya.
Juru bicara koalisi Turki al-Maliki mendesak Houtsi segera menghentikan serangan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil, termasuk bandara, pelabuhan, fasilitas minyak, serta infrastruktur lainnya.
Ia juga menuduh kelompok tersebut memperoleh teknologi canggih dengan bantuan aktor regional, termasuk rudal balistik, drone serang dan bunuh diri, serta kapal cepat bermuatan bahan peledak.
Menteri Energi Saudi sebelumnya mengakui bahwa serangan-serangan tersebut menguji ketahanan infrastruktur dan kemampuan negara itu menghadapi tekanan.
Perang Yaman, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan koalisi pimpinan Saudi sejak 2015, kembali memanas setelah gencatan senjata yang bertahan selama beberapa tahun runtuh. Houtsi kemudian melancarkan serangan besar pada September.
Konflik tersebut telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebagian besar penduduk Yaman masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar. (zarahamala/arrahmah.id)
