TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya pernah berbicara langsung melalui telepon dengan Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa pada Juli 2025, ketika kekerasan terhadap komunitas Druze melanda Provinsi Suwayda. Dalam pernyataan pada Kamis (15/10/2026), Netanyahu mengklaim percakapan singkat itu membantu menghentikan pembantaian.
Dilansir Al Monitor (15/10), pengungkapan itu disampaikan Netanyahu saat menghadiri pertemuan dengan komunitas Druze di Yarka, Israel utara, di tengah kampanye menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober.
Menurut laporan The Jerusalem Post, Netanyahu mengatakan dirinya menelepon asy Syaraa setelah militer 'Israel' menyerang Kementerian Pertahanan Suriah dan sebuah sasaran di sekitar kompleks istana presiden di Damaskus pada Juli 2025.
Netanyahu menggambarkan percakapan tersebut sebagai komunikasi yang “sangat singkat dan tegas”. Ia mengklaim, setelah pembicaraan itu, kekerasan berhenti.
Kekerasan di Suwayda pecah pada Juli 2025, melibatkan kelompok bersenjata Druze, pejuang Badui, serta pasukan keamanan pemerintah Suriah yang kemudian ikut turun tangan. Bentrokan dan serangan balasan menewaskan lebih dari 1.700 orang menurut sejumlah laporan.
Sementara Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mencatat lebih dari 2.000 korban jiwa, termasuk ratusan warga sipil Druze. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut warga sipil Druze menjadi sasaran sejumlah serangan, sekaligus mencatat pelanggaran yang dilakukan berbagai pihak selama konflik.
'Israel' menyatakan serangan militernya saat itu bertujuan melindungi komunitas Druze di Suriah. Israel memiliki sekitar 150.000 warga Druze, dan kekerasan di Suwayda memicu tekanan dari komunitas tersebut agar pemerintah 'Israel' turun tangan. Namun, intervensi militer Israel juga menuai kecaman dari Damaskus, yang menuduh 'Israel' merusak stabilitas dan mengancam kedaulatan Suriah.
Menanggapi isu tersebut, pemerintah Suriah menegaskan bahwa komunitas Druze merupakan bagian integral dari masyarakat Suriah dan menolak politisasi identitas mereka untuk kepentingan propaganda maupun pemilu 'Israel'. (hanoum/arrahmah.id)
