WASHINGTON (Arrahmah.id) - Sejumlah penasihat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mendesaknya untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran sebelum Kongres baru mulai bertugas pada awal tahun depan. Desakan itu muncul di tengah perpecahan di antara para penasihat dan sekutu Trump mengenai pilihan untuk mengakhiri perang dengan Iran atau kembali melancarkan serangan.
NBC News, mengutip sejumlah pejabat, melaporkan bahwa beberapa penasihat Trump menilai peluang untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran semakin menyempit. Mereka meminta Trump mengambil keputusan sebelum Kongres baru mulai menjalankan tugasnya pada Januari mendatang.
Menurut laporan tersebut, para pejabat Pentagon juga telah memberi tahu Trump bahwa perpanjangan pengerahan militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah dapat mengganggu kesiapan militer AS. Mereka menyebut blokade laut terhadap Iran masih dapat dipertahankan dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit di kawasan tersebut.
NBC News menambahkan, Trump belum mengambil keputusan untuk kembali melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump disebut beberapa kali menyetujui rencana serangan besar terhadap negara itu, tetapi kemudian membatalkannya hanya beberapa jam sebelum operasi dijadwalkan berlangsung.
Sementara itu, The Wall Street Journal, mengutip sejumlah pejabat AS, melaporkan adanya perbedaan pandangan di antara penasihat dan sekutu Trump mengenai langkah selanjutnya dalam perang dengan Iran.
Satu kelompok yang terdiri atas Menteri Perang Pete Hegseth dan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper mendukung dimulainya kembali operasi militer berskala besar terhadap Iran. Keduanya disebut menyampaikan dukungan tersebut dalam sejumlah pengarahan terbaru mengenai pilihan militer yang tersedia.
Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent mendukung langkah memperketat sanksi serta melanjutkan blokade terhadap Iran.
Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, berada di kubu yang mendorong upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan belum adanya kesepakatan di lingkaran pemerintahan Trump mengenai apakah AS perlu mengakhiri perang melalui jalur diplomasi atau kembali menggunakan kekuatan militer. (zarahamala/arrahmah.id)
