Memuat...

Ribuan Pasukan Elit AS Tiba di Teluk, Penarikan Pasukan Hanya Isapan Jempol?

Zarah Amala
Rabu, 1 April 2026 / 13 Syawal 1447 11:00
Ribuan Pasukan Elit AS Tiba di Teluk, Penarikan Pasukan Hanya Isapan Jempol?
Tentara AS di atas kapal induk USS George H.W. Bush (Getty - Arsip)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Di tengah pernyataan Presiden Donald Trump bahwa militer Amerika Serikat akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga pekan, laporan intelijen dan militer justru menunjukkan adanya mobilisasi pasukan besar-besaran menuju Timur Tengah. Langkah ini mencakup pengiriman kapal induk dan ribuan pasukan elit lintas udara, yang memicu spekulasi mengenai rencana penyelesaian akhir atau persiapan untuk skenario terburuk jika negosiasi gagal.

Kapal induk USS George H.W. Bush telah berangkat dari Norfolk pada Selasa (31/3/2026) didampingi tiga kapal perusak. Gugus tempur ini membawa lebih dari 6.000 personel laut untuk memperkuat armada di Teluk yang sebelumnya sudah diisi oleh USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.

Ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division) mulai tiba di kawasan tersebut. Sekitar 1.500 prajurit infanteri diterjunkan secara darurat, melengkapi pasukan yang sudah ada. Kehadiran divisi ini sangat signifikan karena spesialisasi mereka adalah merebut bandara dan objek vital di wilayah musuh melalui penerjunan payung.

Tambahan 2.500 personel Marinir sedang dikerahkan dari California untuk bergabung dengan 2.500 rekan mereka yang sudah lebih dulu tiba di Timur Tengah. Total kekuatan darat baru ini diprediksi akan difokuskan pada pengamanan jalur logistik atau kemungkinan penguasaan titik strategis seperti Pulau Kharg.

Meskipun Trump berkali-kali menyebut misi telah tercapai dalam mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Menteri Pertahanan (Secretary of War) Pete Hegseth menolak memberikan jawaban pasti mengenai operasi darat. Hegseth hanya memberikan pernyataan samar: "Musuh kita saat ini berpikir ada 15 cara berbeda bagi kita untuk menyerang mereka dengan pasukan darat (boots on the ground)."

Para analis militer melihat ada dua kemungkinan: pertama, pengiriman ini adalah gertakan terakhir untuk memaksa Iran menandatangani perjanjian 15 poin dari Trump. Kedua, AS sedang bersiap untuk mengunci kemenangan militernya dengan menempatkan pasukan di lokasi-lokasi kunci sebelum benar-benar menarik diri. (zarahamala/arrahmah.id)