WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi meluncurkan strategi baru untuk melumpuhkan ekonomi Iran dengan mengadopsi Model Venezuela, sebuah blokade laut total di Selat Hormuz. Langkah ini secara resmi dimulai oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari ini, 13 April 2026, dan menempatkan keamanan energi global dalam posisi siaga tinggi.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa militer AS akan segera mencegat setiap kapal di perairan internasional yang kedapatan membayar biaya lintas (transit fees) kepada Iran. Selain itu, angkatan laut AS diperintahkan untuk menghancurkan ranjau laut yang dipasang pihak Iran dan bersiap melakukan tindakan ofensif untuk menghabisi sisa-sisa kekuatan Iran.
CENTCOM mengumumkan bahwa blokade laut ini akan mencakup seluruh pelabuhan Iran yang menghadap Teluk Arab dan Teluk Oman. Namun, untuk menghindari kekacauan perdagangan global, blokade ini bersifat "selektif", target utama adalah kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Pelayaran menuju pelabuhan non-Iran tetap diizinkan lewat guna meminimalkan gesekan dengan negara-negara tetangga dan perdagangan dunia.
Tantangan Geografis: Hormuz vs Karibia
Pakar militer, Brigadir Jenderal Elias Hanna, memberikan analisis mendalam mengenai risiko strategi ini. Ia memperingatkan bahwa Model Venezuela di Karibia sangat berbeda dengan realita di Selat Hormuz.
Berbeda dengan Venezuela, Iran memiliki geografi pesisir yang panjang dan pulau-pulau strategis yang memungkinkan mereka mengganggu pengawasan AS dari jarak dekat.
Hormuz adalah urat nadi dunia bagi minyak, gas, helium, hingga pupuk. Gangguan di sini akan berdampak langsung pada keamanan pangan dan energi global.
Hanna juga menyoroti bahwa Iran dalam doktrin militer AS diklasifikasikan sebagai bahaya strategis, bukan sekadar masalah keamanan regional seperti kasus Venezuela di 2025.
Mengenai sikap diam Tiongkok, Hanna menilai Beijing mungkin melihat eskalasi ini sebagai peluang untuk menguras sumber daya AS. Saat ini, Washington telah menarik sistem pertahanan udara dan amunisi dari Jepang serta Korea Selatan untuk memperkuat konsentrasi pasukan di Timur Tengah. Pengalihan kekuatan ini dianggap menguntungkan kepentingan jangka panjang Tiongkok di Pasifik.
Hingga saat ini, Selat Hormuz tetap menjadi kartu truf terkuat Iran untuk meningkatkan biaya bagi setiap petualangan militer AS yang melampaui batas ancaman verbal. (zarahamala/arrahmah.id)
