GAZA (Arrahmah.id) - Di antara kobaran api dan reruntuhan bangunan, tangisan seorang balita bernama Maryam menjadi satu-satunya petunjuk bagi orang-orang yang berusaha menemukannya di dalam sebuah apartemen yang menjadi sasaran serangan 'Israel' di Gaza barat.
Jurnalis Palestina, Ali al-Ja'farawi, yang semula merekam kejadian tersebut, akhirnya meninggalkan kameranya dan menerobos masuk untuk menyelamatkan Maryam, bocah berusia dua setengah tahun yang terjebak di tengah kobaran api.
Dalam laporan yang disusun jurnalis Ahmad Jalal untuk Al Jazeera dan diterbitkan pada Sabtu (17/10/2026), Maryam diceritakan selamat dari kebakaran tersebut, tetapi mengalami luka bakar serius dan kehilangan ibunya akibat serangan itu. Kini, ia masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara kakeknya, Mahmoud Ghanem, menceritakan tragedi yang merenggut kedua orang tua cucunya.
Ghanem mengatakan serangan terjadi sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Sebuah helikopter Apache 'Israel' dilaporkan menyerang apartemen di sekitar Kompleks Medis Al-Shifa, Gaza barat. Apartemen itu dihuni istri almarhum putranya, Ahmad, bersama Maryam.
Serangan tersebut menewaskan ibu Maryam, sementara bocah itu mengalami luka bakar tingkat dua dan tiga.
Tragedi keluarga ini bermula pada November 2023, ketika Ahmad gugur dalam perang yang berlangsung di Gaza. Saat itu, istrinya sedang mengandung Maryam. Bocah itu pun lahir tanpa sempat mengenal ayahnya dan selama ini tinggal bersama ibunya di sebuah kamar di Kota Gaza.
Kini, serangan 'Israel' kembali merenggut sosok yang selama ini merawatnya.
Menurut Ghanem, Maryam sedang tidur di samping ibunya ketika serangan terjadi. Guncangan akibat pengeboman membuatnya terjatuh dari tempat tidur. Ia kemudian menangis dan berteriak meminta pertolongan di tengah kobaran api.
Sementara itu, ibunya tetap terbaring di tempat tidur dengan luka bakar parah yang akhirnya merenggut nyawanya.
Tinggalkan Kamera demi Menyelamatkan Maryam
Al-Ja'farawi, yang merekam detik-detik awal kebakaran, mengatakan dirinya segera meminta bantuan penghuni gedung dan para tetangga untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalam apartemen. Pada menit-menit awal, tim penyelamat belum tiba sehingga warga berusaha melakukan evakuasi sendiri.
Mereka kemudian bergerak menuju kamar yang dipenuhi api dan asap tebal. Di dalamnya, mereka menyingkirkan perabotan yang terbakar, pecahan bangunan, dan puing-puing untuk mencari kemungkinan adanya korban selamat.
Di tengah upaya tersebut, mereka mendengar tangisan Maryam.
Al-Ja'farawi mengatakan mereka menemukan bocah itu duduk sendirian di antara api dan abu, menangis meminta pertolongan. Pemandangan itu membuatnya tak sanggup melanjutkan proses perekaman.
Ia pun meninggalkan kameranya, mengangkat Maryam, lalu memeluknya sebelum menyerahkan bocah tersebut kepada warga yang menunggu di luar kamar.
Suasana di luar seketika dipenuhi seruan lega setelah Maryam berhasil diselamatkan.
Al-Ja'farawi mengatakan api melahap seluruh kamar sekitar satu menit setelah Maryam berhasil dibawa keluar. Kasur tempat bocah itu ditemukan pun ikut terbakar. Ibu Maryam telah meninggal akibat luka bakarnya, sedangkan sang anak segera dibawa untuk mendapatkan perawatan medis.
Maryam mengalami luka pada wajah, punggung, kedua tangan, dan kakinya.
Rekaman kejadian memperlihatkan warga berulang kali memanggil kemungkinan korban selamat dan berusaha menembus kepulan asap serta reruntuhan. Di tengah situasi itu, kamera yang semula digunakan untuk mendokumentasikan serangan akhirnya ditinggalkan demi menyelamatkan nyawa seorang anak.
Diasuh Keluarga Setelah Kehilangan Kedua Orang Tua
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Maryam berusaha dihibur oleh kakeknya. Ghanem membawakannya mainan dan lilin mainan berwarna-warni untuk membantu mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit.
Di balik luka bakar dan perban yang menutupi tubuhnya, Maryam kini harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tuanya pada usia yang masih sangat dini.
Ghanem mengatakan musibah yang menimpa cucunya terasa begitu berat untuk ditanggung. Namun, ia berusaha bersabar dengan berpegang pada keyakinannya dan berharap Maryam segera pulih dari luka-lukanya.
Ia menegaskan Maryam akan tinggal bersama keluarga dari pihak ayahnya. Seluruh anggota keluarga berkomitmen merawatnya seperti anak mereka sendiri, mendampinginya hingga tumbuh besar, mendapatkan pendidikan, dan melanjutkan hidup.
Maryam masih menghadapi perjalanan panjang untuk pulih dari luka fisik dan trauma akibat serangan tersebut. Di tengah penantian itu, seorang anggota keluarga berusaha menghiburnya dengan menggerakkan balon merah muda di hadapannya, berharap dapat menghadirkan senyum di wajah kecil yang masih dibalut perban. (zarahamala/arrahmah.id)
