BAKU (Arrahmah.id) -- Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mendesak 'Israel' menghentikan dan membatalkan pendirian permukiman secara paksa di Tepi Barat yang diduduki. Desakan itu disampaikan kepada Presiden 'Israel' Isaac Herzog dalam pertemuan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ke-7 Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in Asia (CICA) di Baku, Azerbaijan, ( 15/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor (16/10), Wang menegaskan bahwa persoalan Palestina merupakan salah satu ketidakadilan historis terbesar pada abad ini. Ia menyatakan solusi dua negara—berdirinya negara Palestina yang merdeka berdampingan dengan 'Israel'—tetap menjadi jalan utama untuk menyelesaikan konflik.
Beijing juga menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan masyarakat internasional guna mendorong pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja dialog dan mencari penyelesaian politik.
Selain persoalan permukiman, Wang mendesak agar akses menuju Jalur Gaza dibuka sepenuhnya untuk mencegah memburuknya krisis kemanusiaan yang dialami sekitar dua juta penduduk wilayah tersebut. Cona menilai penghentian kekerasan, kelancaran bantuan kemanusiaan, dan dimulainya kembali dialog merupakan langkah mendesak untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Pembangunan dan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat telah lama menjadi sumber ketegangan. Permukiman tersebut dibangun di wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak 1967. Pada Juli 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan permukiman 'Israel' di Tepi Barat dan Yerusalem Timur serta rezim yang terkait dengannya bertentangan dengan hukum internasional. ICJ juga menyatakan 'Israel' berkewajiban menghentikan aktivitas permukiman baru. (hanoum/arrahmah.id)
