PROBOLINGGO (Arrahmah.id) – Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, bertambah menjadi empat orang.
Sebelumnya, tiga orang dilaporkan meninggal dunia setelah terjebak saat melakukan pemadaman kebakaran.
Tiga korban meninggal dunia merupakan petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yakni Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, dan Hendra Rony. Sementara itu, satu korban lainnya bernama Sefriel Ardiansyah, yang bekerja di hotel Artotel Bromo.
Bupati Probolinggo Muhammad Haris mengatakan, tiga korban meninggal dunia di lokasi kejadian saat berupaya memadamkan kebakaran. Sementara satu korban lainnya meninggal dunia ketika dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas.
"Tiga korban meninggal dunia di lokasi kejadian saat memadamkan kebakaran dan satu korban meninggal saat dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas," kata Haris dalam konferensi pers di RSUD Tongas, Kamis malam.
Selain korban meninggal dunia, terdapat dua korban lainnya, yakni Munawi dan Suraji, yang mengalami luka bakar serius. Keduanya dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya untuk mendapatkan perawatan intensif.
Haris berharap kedua korban yang mengalami luka bakar tersebut dapat memperoleh penanganan medis secara optimal dan segera membaik.
Ia memastikan biaya pengobatan keduanya akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo dengan berkoordinasi bersama pihak TNBTS.
"Mudah-mudahan kedua relawan tersebut dapat ditangani dengan baik dan kondisinya bisa membaik. Pengobatan sepenuhnya akan ditanggung Pemkab Probolinggo dan tentunya berkoordinasi dengan pihak TNBTS," tuturnya.
Haris menjelaskan, kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo bukan kali pertama terjadi. Karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut disebut rutin terjadi hampir setiap tahun. Namun, peristiwa kali ini menjadi perhatian serius karena menimbulkan korban jiwa.
Atas kejadian tersebut, Haris menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban yang meninggal dunia saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran.
Ia juga menjelaskan bahwa pada awalnya terdapat 12 orang yang dikerahkan untuk memadamkan karhutla di kawasan Bromo. Tim tersebut menjalankan tugas sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Namun, kondisi kebakaran yang semakin meluas membuat tim terpaksa terpisah. Sebanyak enam orang dilaporkan terjebak kobaran api akibat perubahan arah angin yang berlangsung sangat cepat.
Peristiwa ini menjadi duka bagi para petugas dan relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman karhutla di kawasan Gunung Bromo.
Penanganan terhadap korban luka bakar pun terus menjadi perhatian, sementara upaya pemadaman kebakaran membutuhkan kewaspadaan tinggi terhadap perubahan kondisi angin dan meluasnya api.
(ameera/arrahmah.id)
