Memuat...

Bandara Aden Diserang Rudal, Koalisi Saudi Cegat Rudal Menuju Pusat Minyak Yanbu

Zarah Amala
Sabtu, 17 Oktober 2026 / 7 Jumadilawal 1448 12:22
Bandara Aden Diserang Rudal, Koalisi Saudi Cegat Rudal Menuju Pusat Minyak Yanbu
Rudal menghantam bandara Aden ketika pasukan Saudi mencegat rudal balistik yang menuju Yanbu, pusat ekspor minyak utama, di tengah meningkatnya ketegangan regional. [Getty]

ADEN (Arrahmah.id) - Dua rudal menghantam area Bandara Internasional Aden di Yaman selatan pada Jumat (16/10/2026), sementara koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengumumkan telah mencegat sebuah rudal balistik yang mengarah ke Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama Saudi di pesisir Laut Merah.

Departemen Keamanan Aden menyatakan dua rudal jatuh di area bandara dan menuding kelompok Houtsi yang bersekutu dengan Iran sebagai pelakunya. Serangan tersebut disebut sebagai insiden kedua yang menyasar fasilitas itu dalam waktu kurang dari sepekan. Hingga laporan ini diterbitkan, Houtsi belum mengklaim bertanggung jawab.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Menurut Departemen Keamanan Aden, sebuah pesawat Yemenia Airways yang dijadwalkan terbang ke Kairo sedang bersiap lepas landas ketika rudal-rudal tersebut menghantam area bandara.

Secara terpisah, koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat rudal balistik yang menuju Yanbu. Koalisi itu juga mengumumkan penghancuran dua rudal jelajah di atas Laut Merah serta tiga drone di wilayah selatan dan Riyadh, Arab Saudi. Koalisi tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Yanbu merupakan salah satu jalur utama ekspor minyak Arab Saudi. Pelabuhan tersebut memungkinkan kerajaan menyalurkan minyak mentah ke pasar internasional melalui Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Pada Jumat (15/10), harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 110 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah turut memicu kecemasan mengenai potensi pengetatan pasokan minyak global.

Sebelumnya, otoritas Pertahanan Sipil Saudi mengeluarkan peringatan keamanan di wilayah Jazan dan kota Khamis Mushait di barat daya negara itu. Peringatan serupa dilaporkan semakin sering muncul sejak pertempuran kembali meningkat bulan lalu.

Konflik Yaman Kian Memanas

Pertempuran antara kelompok Houtsi dan koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman menimbulkan kekhawatiran akan memburuknya krisis kemanusiaan di negara tersebut. Sejumlah organisasi bantuan memperingatkan bahwa kondisi warga sipil semakin memburuk.

Konflik Yaman kini menjadi salah satu medan dalam perang regional yang lebih luas, yang bermula setelah serangan Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap Iran pada Februari lalu.

Perang Yaman sendiri pecah pada 2014, ketika kelompok Houtsi merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah yang diakui secara internasional bergerak ke wilayah selatan. Arab Saudi kemudian memimpin intervensi militer pada tahun berikutnya. Konflik berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian, sebelum gencatan senjata pada 2022 bertahan hingga eskalasi kembali terjadi tahun ini.

Sejak pertempuran kembali meningkat, kelompok Houtsi berulang kali meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Saudi, dengan sasaran yang mencakup bandara, fasilitas minyak, dan infrastruktur lainnya. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok tersebut juga dilaporkan menyerang sejumlah lokasi di wilayah Yaman yang dikuasai pemerintah, termasuk Bandara Aden dan istana presiden di kota itu, yang berfungsi sebagai ibu kota sementara.

Juru bicara Kementerian Kesehatan yang dikelola Houtsi pada Jumat (15/10) menyatakan bahwa 124 warga sipil tewas dan 327 lainnya terluka akibat apa yang disebutnya sebagai “agresi Saudi” sejak eskalasi dimulai pada 3 September. (zarahamala/arrahmah.id)