HEBRON (Arrahmah.id) - Keluarga Salem al-Hathaleen, warga Khirbet Umm al-Khair di kawasan Masafer Yatta, selatan Tepi Barat yang diduduki, menghadapi tekanan dan intimidasi berulang dari pemukim 'Israel'. Serangkaian tindakan tersebut membatasi kebebasan mereka di rumah sendiri, bahkan membuat mereka tak bisa menggunakan kamar mandi selama sekitar empat bulan.
Dalam laporan yang diterbitkan Al Jazeera pada Rabu (14/10/2026), Salem al-Hathaleen (53), mengatakan bahwa ia dan keluarganya terus mengalami gangguan dari pemukim 'Israel' yang berulang kali mendatangi rumah mereka. Ia menilai tekanan itu bertujuan memaksa keluarganya meninggalkan tanah yang telah mereka tempati selama beberapa generasi.
“Saya lahir dan tinggal di sini. Saya punya dokumen kepemilikan tanah dan semuanya. Mereka ingin mengusir kami dengan cara apa pun,” kata Salem. Ia menegaskan bahwa keluarganya tidak akan meninggalkan tanah tersebut.
Menurut Salem, rumahnya memiliki luas sekitar 80 meter persegi. Namun, para pemukim mengklaim sebagian area rumahnya berada di atas tanah yang mereka sebut sebagai “tanah negara 'Israel'”.
Tekanan juga meluas ke lahan sekitar, padang penggembalaan, dan kandang domba yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga. Salem mengatakan para pemukim memasang pagar di dalam kandang dan menutup sebagian areanya sehingga ia kesulitan menjangkau serta merawat ternaknya.
Ia mengaku tak lagi leluasa memeriksa kondisi domba, memisahkan domba yang sedang hamil, atau memanggil dokter hewan ketika diperlukan. Salem mengatakan hanya bisa mendatangi ternaknya selama beberapa menit setiap hari. Sejumlah domba bahkan telah mati, sementara padang penggembalaan di sekitar rumah juga ditutup.
Menurut Salem, kehadiran tentara dan polisi 'Israel' di kawasan itu tidak menghentikan intimidasi. Ia mengatakan para pemukim kerap mendekati rumah, melontarkan kata-kata kasar kepada perempuan dan anak-anak perempuannya, serta berulang kali memasuki halaman rumah.
Kondisi tersebut membuat keluarganya terus diliputi ketakutan dan kesulitan tidur, baik siang maupun malam. Meski demikian, Salem menolak pergi karena tidak memiliki tempat lain untuk dituju.
Istri Salem, Ikhlas al-Hathaleen, mengatakan keluarganya tidak bisa menggunakan kamar mandi selama sekitar empat bulan. Pembatasan juga membuat mereka khawatir untuk membuka jendela atau sekadar mengulurkan tangan ke luar rumah karena takut ditangkap.
Menurut Ikhlas, area di sekitar rumah mereka telah diberlakukan pembatasan ketat dan dianggap sebagai zona militer 'Israel'. Ia juga mengatakan para pemukim kerap mendekati jendela pada malam hari, termasuk ketika putrinya, Sarah, sedang belajar atau tidur di kamarnya.
Ikhlas menuturkan bahwa Sarah mengalami ketakutan serupa ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah. Kini, saat melanjutkan kuliah, ia masih menghadapi situasi yang sama.
Selain itu, Ikhlas menuduh para pemukim mengambil kayu bakar dan pemanas milik keluarganya serta menutup jendela menggunakan berbagai bahan dan penutup. Tindakan tersebut semakin menyulitkan kehidupan sehari-hari mereka.
Ancaman Pengusiran di Tepi Barat
Khirbet Umm al-Khair berada di Area C Tepi Barat, wilayah yang mencakup sekitar 61 persen dari luas Tepi Barat dan berada di bawah kendali administratif serta keamanan 'Israel' berdasarkan pengaturan Oslo. Kawasan ini menghadapi tekanan terkait perluasan permukiman, pembatasan pembangunan, penghancuran bangunan, serta akses terhadap lahan pertanian dan padang penggembalaan.
Pada 7 November 2025, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia memperingatkan bahwa perintah pembongkaran terhadap 11 rumah dan fasilitas penting di Umm al-Khair berpotensi memaksa penduduk meninggalkan kawasan tersebut.
Menurut kantor PBB itu, sebagian besar bangunan milik warga Palestina di wilayah tersebut dianggap tidak memiliki izin pembangunan dari 'Israel', sementara izin semacam itu sulit diperoleh warga Palestina.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dalam laporan yang diterbitkan pada September 2026, mencatat lebih dari 1.600 serangan pemukim 'Israel' di Tepi Barat sejak awal tahun hingga pertengahan Agustus. Serangan tersebut mengakibatkan korban luka, kerusakan properti, atau keduanya, dan berdampak pada 275 komunitas Palestina.
OCHA juga memperingatkan bahwa serangan pemukim dan pembatasan akses ke lahan dapat mengisolasi warga serta menghambat akses mereka ke rumah, lahan pertanian, layanan dasar, dan sumber penghidupan.
Di kawasan Masafer Yatta, pembatasan yang berkaitan dengan penetapan sebagian wilayah sebagai zona militer tertutup turut membatasi pembangunan, pergerakan warga, dan akses ke lahan.
Data resmi yang dikutip Al Jazeera menyebutkan sekitar 750.000 pemukim 'Israel' tinggal di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur yang diduduki. Mereka tersebar di 194 permukiman dan sekitar 400 pos permukiman. (zarahamala/arrahmah.id)
