Memuat...

Menyamar Jadi Pangeran Arab, Pria Lebanon Tipu Banyak Politisi dan Tokoh

Hanoum
Rabu, 24 Desember 2025 / 4 Rajab 1447 08:29
Menyamar Jadi Pangeran Arab, Pria Lebanon Tipu Banyak Politisi dan Tokoh
Abu Omar alias Mustafa al-Hessian. [Foto: X]

BEIRUT (Arrahmah.id) -- Seorang pria Lebanon yang menyamar sebagai pangeran dan perantara Kerajaan Arab Saudi yang berpengaruh telah ditangkap. Dia diduga telah menipu politisi dan tokoh bisnis Lebanon terkemuka dengan janji dukungan politik, pengaruh finansial, dan akses kepada para pembuat keputusan di Riyadh.

Pangeran palsu Arab Saudi itu, yang dikenal luas sebagai "Abu Omar", selama bertahun-tahun diperkenalkan sebagai pejabat senior kerajaan dan memiliki hubungan dekat dengan istana yang mampu membentuk lanskap politik Lebanon.

Sumber keamanan Lebanon mengatakan bahwa pria itu sebenarnya adalah Mustafa al-Hessian, warga negara Lebanon dari wilayah Akkar utara. Dia diduga mengoordinasikan skema infiltrasi tersebut dengan tokoh Muslim Sunni terkemuka Lebanon, Khaldoun Araymet.

Menurut beberapa laporan yang diterbitkan oleh media Lebanon, operasi penyusupan tersebut setidaknya dimulai sejak tahun 2015.

Araymet dilaporkan memperkenalkan "Abu Omar" kepada para politisi sebagai saluran tidak resmi ke otoritas senior Saudi, menggunakan bahasa yang dikalibrasi dengan cermat dan jaminan berulang bahwa "instruksi akan datang pada waktu yang tepat".

Para target si pangeran palsu ini diduga dijanjikan dukungan Arab Saudi untuk mengamankan kursi Parlemen, kembali ke pemerintahan, atau bahkan mendapatkan jabatan perdana menteri. Halaman :

Skema tersebut terutama berfokus pada tokoh-tokoh kaya atau mereka yang memiliki ambisi politik yang kuat, terutama dalam kancah politik Sunni Lebanon, di mana dukungan Arab Saudi telah lama memiliki pengaruh.

Menurut laporan media Lebanon, yang dikutip The New Arab (23/12/2025), mereka yang menjadi korban dugaan penipuan tersebut termasuk tokoh politik dan bisnis senior seperti mantan Menteri Pariwisata Michel Pharaon, mantan Menteri Telekomunikasi dan kepala Federasi Kamar Dagang, Industri, dan Pertanian Lebanon Mohammad Choucair, anggota Parlemen Nabil Badr, Ghassan Hasbani, kepala Pasukan Lebanon Samir Geagea, dan lain-lain.

Beberapa di antaranya dilaporkan telah memberikan bantuan keuangan kepada Araymet atau rekan-rekannya, dengan keyakinan bahwa hal itu terkait dengan jaminan politik dari Riyadh.

Salah satu kasus yang disebutkan melibatkan Pharaon, yang diduga memberikan tunjangan keuangan bulanan sebesar USD4.000 kepada Araymet, dilaporkan sebagai imbalan atas janji dukungan Arab Saudi untuk mengembalikannya ke Parlemen.

Skema tersebut juga dilaporkan meluas ke lembaga-lembaga negara. Media Lebanon mengeklaim putra Araymet memperoleh kontrak di pelabuhan Beirut selama periode manajemen sementara, diduga setelah jaminan palsu dukungan Arab Saudi untuk para pejabat pelabuhan.

Kecurigaan meningkat dalam beberapa bulan terakhir ketika "Abu Omar" berulang kali gagal muncul secara langsung, hanya berkomunikasi melalui telepon.

Terobosan dilaporkan terjadi ketika seorang korban mencoba menelepon "Abu Omar" sambil duduk di sebelah al-Hessian, yang teleponnya berdering pada saat yang sama, menurut situs berita Al-Modon yang berbasis di Beirut.

Investigasi yang menyusul mengarah pada penangkapan al-Hessian oleh intelijen militer Lebanon. Menurut laporan media setempat, dia mengaku selama interogasi bahwa dia telah melakukan panggilan telepon atas permintaan Araymet, menyamar sebagai pangeran Arab Saudi menggunakan aksen Arab Teluk dan beberapa saluran telepon, termasuk nomor Arab Saudi dan Inggris.

Pihak berwenang Arab Saudi dilaporkan telah memberi tahu dinas keamanan Lebanon, yang menyebabkan penangkapan tersebut. Investigasi masih berlangsung, dengan referensi ke tersangka tambahan dan kemungkinan bukti audio dan video yang mendokumentasikan penyamaran tersebut.

Peneliti politik Nidal al-Sabaa, berbicara di platform Spot Shot, mengatakan bahwa al-Hessian sebelumnya bekerja dengan intelijen Suriah dan menggunakan latar belakangnya untuk memperkuat ilusi pengaruh dan akses.

Kasus ini menjadi semakin sensitif di tengah klaim bahwa "Abu Omar" mungkin telah memainkan peran selama konsultasi Parlemen Lebanon yang mengikat untuk menunjuk seorang perdana menteri.

Beberapa anggota Parlemen dilaporkan mengeklaim bahwa mereka menerima "bimbingan Saudi" dalam pilihan politik mereka, menimbulkan kekhawatiran bahwa instruksi asing yang dibuat-buat mungkin telah memengaruhi proses konstitusional. (hanoum/arrahmah.id)