KABUL (Arrahmah.id) - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa Rusia memandang pemerintah Afghanistan sebagai “kenyataan yang harus diterima,” seraya menambahkan bahwa semakin banyak negara yang mulai beralih ke posisi tersebut.
Dalam sebuah pertemuan yang membahas isu-isu keamanan di Asia Tengah dan Afghanistan—yang dihadiri oleh perwakilan dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS), dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO)—Lavrov menegaskan bahwa Moskow berupaya memperkuat dukungan internasional bagi pihak berwenang di Kabul serta inisiatif keamanan regional. Ia juga menyerukan terwujudnya Afghanistan yang merdeka, bersatu, dan damai, yang bebas dari perang serta narkoba, lansir Tolo News (16/10/2026).
Lavrov menyatakan: “Seiring berjalannya waktu, kita harus mengerahkan upaya yang semakin besar. Dalam kaitan ini, kami bekerja sama dengan seluruh negara Asia Tengah sekaligus menjalin komunikasi dengan rekan-rekan kami di Kabul.”
Perwakilan dari Tajikistan dan Kazakhstan juga menekankan pentingnya stabilitas di Afghanistan, serta menyerukan dukungan regional dan internasional yang ditujukan untuk rekonstruksi ekonomi negara tersebut.
Dauren Abayev, Duta Besar Kazakhstan untuk Rusia, menyatakan: “Kazakhstan menginginkan Afghanistan yang damai, bersatu, dan stabil—sebuah negara yang menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangganya serta berpartisipasi aktif dalam dialog ekonomi regional.”
Mirzasharif Jalolov, Kepala Studi Strategis di Kementerian Luar Negeri Tajikistan, menambahkan: “Republik Tajikistan senantiasa mendukung upaya konstruktif dari komunitas regional maupun internasional yang ditujukan untuk rekonstruksi ekonomi Afghanistan.”
Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Saeed Muradzada, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Shanghai, mengatakan bahwa pembentukan pemerintahan inklusif dengan partisipasi luas dari berbagai kelompok etnis dan politik di Afghanistan merupakan satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian dan stabilitas yang langgeng di negara tersebut.
Kepala Pusat Anti-Terorisme CIS menggambarkan situasi di Afghanistan sebagai sesuatu yang kompleks dan terkadang kontradiktif. Yevgeny Sysoyev, Kepala Pusat Anti-Terorisme CIS, mengatakan: “Saat mencermati perkembangan di Afghanistan, kita tidak bisa mengabaikan sifat situasi yang kompleks dan terkadang kontradiktif. Sejak Taliban berkuasa pada tahun 2021, kemajuan telah dicapai di beberapa bidang, dan langkah-langkah yang diperlukan telah diambil untuk mengendalikan situasi serta mengeluarkan perekonomian dari krisis.”
Duta Besar Imarah Islam untuk Rusia menyatakan dalam pertemuan tersebut bahwa keamanan di Afghanistan telah terjamin dan wilayah negara itu tidak menimbulkan ancaman bagi pihak lain. Ia juga menuduh Pakistan sebagai pihak yang mengancam keamanan regional.
Gul Hassan Hassan, Duta Besar Imarah Islam untuk Rusia, menambahkan: “Kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa ancaman terhadap keamanan dan stabilitas regional saat ini justru datang dari Pakistan. Negara ini tidak hanya menampung kelompok bersenjata yang menentang pemerintah Afghanistan, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan aktivitas ISIS serta perdagangan narkoba.”
Rusia baru-baru ini menjadi tuan rumah pertemuan lain dalam kerangka Format Moskow, di mana para peserta membahas situasi politik, keamanan, dan ekonomi Afghanistan, serta berbagai cara untuk memperkuat stabilitas di negara tersebut. (haninmazaya/arrahmah.id)
