Memuat...

Eisenkot Dapat Mandat, Era Netanyahu Terancam Berakhir

Hanoum
Senin, 9 November 2026 / 30 Jumadilawal 1448 03:37
Eisenkot Dapat Mandat, Era Netanyahu Terancam Berakhir
Ketua Yashar, Gadi Eisenkot, di markas pemilihan partai di Tel Aviv beberapa jam setelah pemungutan suara ditutup dalam pemilihan umum Israel, pada 28 Oktober 2026. [Foto: Avshalom Sassoni/Flash90]

YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Presiden 'Israel' Isaac Herzog secara resmi menugaskan pemimpin oposisi dan mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot membentuk pemerintahan baru dalam upacara di Yerusalem, Ahad (8/11/2026). Eisenkot punya 28 hari untuk membentuk koalisi, dengan kemungkinan perpanjangan 14 hari. Keputusan itu membuka peluang berakhirnya masa jabatan panjang Benjamin Netanyahu, tetapi belum otomatis menyingkirkannya.

Dilansir Al Jazeera (8/11), Eisenkot menyatakan terbuka memasukkan Netanyahu dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dalam koalisinya. Dalam pidato di kantor Herzog, ia mengatakan jika anggota Likud dan Partai Zionisme Religius benar-benar menganggap ini waktunya persatuan, tidak ada alasan menolak pemerintahan di bawah kepemimpinannya.

Herzog mengingatkan 'Israel' membutuhkan pemerintahan stabil di tengah “realitas politik baru” di Amerika Serikat setelah pemilu sela AS 3 November. Eisenkot memimpin militer 'Israel' pada 2015 hingga 2019 dan menjadi pengamat di kabinet perang Netanyahu pada delapan bulan pertama perang di Gaza.

Herzog memilih Eisenkot setelah dua hari konsultasi dengan semua partai terpilih. Sebanyak 67 dari 120 anggota Knesset merekomendasikan Eisenkot dan 46 merekomendasikan Netanyahu, menurut Axios.

Rekomendasi itu termasuk 19 suara dari dua partai Arab, Daftar Bersama dan Ra’am, sedangkan Herzog menyebut hasil rekomendasi tidak otomatis menentukan siapa yang mampu membentuk pemerintahan karena adanya “veto timbal balik” antarblok. Pada pemilu 27 Oktober, aliansi empat partai Eisenkot meraih 48 kursi dan blok Netanyahu 53 kursi, keduanya di bawah ambang 61 kursi. Partai-partai Arab meraih rekor 19 kursi.

Jalan Eisenkot belum mulus. Ia menolak membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab, kecuali memenuhi syarat tertentu seperti menyebut Hamas organisasi teroris. Sebaliknya, ia berencana membentuk “pemerintahan darurat nasional” dan bisa memimpin pemerintahan minoritas, lalu mencari dukungan partai ultra-Ortodoks lewat konsesi soal wajib militer.

Shas mendukung Netanyahu, sedangkan Yahadut HaTorah memberi sinyal dukungannya bisa diraih. Netanyahu menyerukan pemerintahan persatuan di bawah kepemimpinannya dan memperingatkan pemerintahan yang bergantung pada pendukung terorisme tidak akan melawan terorisme. Eisenkot menolak ajakan itu sebagai manuver politik, menurut Axios.

Netanyahu tetap menjabat perdana menteri sementara hingga pemerintahan baru memenangi mosi percaya Knesset. Jika Eisenkot gagal, Herzog bisa menunjuk Netanyahu atau anggota Knesset lain, dan jika semua gagal, pemilu ulang digelar. Sebagai informasi, ujian pertama Eisenkot adalah pelantikan Knesset baru pada Selasa (10/11). (hanoum/arrahmah.id)