Militer 'Israel' menyebutkan, seperti dilansir Reuters (21/3/2026), bahwa serangan udara menargetkan fasilitas militer pemerintah Suriah, termasuk pusat komando dan gudang senjata di wilayah selatan. Aksi ini dilakukan setelah laporan adanya serangan terhadap warga sipil Druze di Sweida, yang menurut 'Israel' tidak dapat ditoleransi.
Sejumlah laporan media internasional juga menguatkan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari kebijakan 'Israel' untuk melindungi komunitas Druze, yang memiliki keterkaitan historis dan sosial dengan Druze di 'Israel'. Pemerintah 'Israel' menegaskan akan terus memantau perkembangan di wilayah tersebut dan siap melakukan tindakan lanjutan jika ancaman terhadap Druze berlanjut.
Di sisi lain, situasi di Sweida sendiri dilaporkan memanas akibat bentrokan antara pasukan pemerintah Suriah dan kelompok Druze lokal. Insiden kekerasan sebelumnya disebut menewaskan dan melukai sejumlah warga Druze, yang kemudian memicu respons militer 'Israel'.
Pemerintah Suriah mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Sejumlah negara Arab juga turut mengutuk tindakan 'Israel' dan mendesak intervensi internasional untuk meredakan eskalasi konflik di kawasan.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa meningkatnya aksi militer di Suriah selatan berpotensi memperluas konflik regional yang sudah melibatkan banyak aktor. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik lokal di Sweida kini telah berkembang menjadi isu geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)