KABUL (Arrahmah.id) - Pembicaraan antara Afghanistan dan Rusia mengenai penempatan pekerja Afghanistan di Rusia belum mencapai tahap implementasi, meskipun diskusi sebelumnya telah dilakukan.
Surat kabar Rusia, Izvestia, melaporkan bahwa Zamir Kabulov—Utusan Khusus Rusia untuk Afghanistan—menyatakan belum ada kemajuan konkret dalam pembahasan masalah ini.
Kabulov menyebut persoalan ini rumit dan sebagian besar melibatkan badan-badan migrasi serta keamanan Rusia.
Ia menambahkan bahwa saat ini ia tidak melihat adanya prospek kemajuan.
Zamir Kabulov, Utusan Khusus Rusia untuk Afghanistan, mengatakan: "Ini adalah masalah yang rumit, dan saat ini, saya tidak melihat adanya prospek kemajuan."
Pihak Imarah Islam belum memberikan komentar mengenai masalah ini.
Menurut Izvestia, Afghanistan sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk mengirim pekerja ke Rusia, khususnya untuk sektor pertanian.
Surat kabar tersebut, dengan mengutip pejabat Afghanistan, melaporkan bahwa kurangnya kemampuan berbahasa Rusia menjadi salah satu tantangan utama dalam proses ini.
Berdasarkan hukum Rusia, dalam banyak kasus, pekerja asing yang mengajukan izin kerja diwajibkan memiliki pengetahuan tentang bahasa Rusia, serta sejarah dan konstitusi negara tersebut.
Zabihullah Islami, seorang analis ekonomi, mengatakan: "Afghanistan memiliki tenaga kerja muda yang potensial, namun sayangnya, upaya untuk meningkatkan keterampilan mereka masih minim dan belum ada organisasi khusus yang menangani bidang ini. Akibatnya, negara-negara yang awalnya berminat merekrut pekerja Afghanistan akhirnya beralih ke negara lain setelah menilai situasi dan mendapati kurangnya keterampilan yang dibutuhkan."
Selain Rusia, Afghanistan juga telah melakukan pembicaraan mengenai pengiriman pekerja ke Qatar dan Iran.
Terkait Qatar, Mullah Abdul Ghani Baradar—Wakil Perdana Menteri Urusan Ekonomi—mengumumkan tahun lalu bahwa sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani untuk pengiriman pekerja Afghanistan secara legal ke negara tersebut. Namun, sejak saat itu belum ada pengumuman publik mengenai kemajuan konkret.
Mir Shakib Mir, seorang analis ekonomi, mengatakan: "Setelah kesepakatan ditandatangani, masih ada tahapan lain yang harus diselesaikan, termasuk pendaftaran pekerja, pelaksanaan tes, serta penerbitan visa dan izin kerja. Proses ini bisa memakan waktu. Selain itu, konflik regional mungkin turut memengaruhi situasi ketenagakerjaan di Qatar."
Izvestia melaporkan bahwa sektor pertanian dan pengolahan hasil pertanian dapat menyediakan peluang kerja bagi warga Afghanistan di Rusia, meskipun Rusia belum mengumumkan jumlah spesifik pekerja yang mungkin akan diterima.
Surat kabar tersebut juga melaporkan adanya kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor seperti konstruksi dan transportasi di Rusia. (haninmazaya/arrahmah.id)
