Sungguh ironis kondisi hutan yang dahulu hijau kini dilalap api, rumah bagi banyak kehidupan perlahan menjadi abu. Karhutla bukan sekadar membakar pepohonan, tetapi juga merenggut habitat, mengancam kesehatan, dan meninggalkan luka bagi alam serta manusia. Jika hari ini membiarkan hutan terus dibakar, akankah esok anak cucu kita masih bisa menikmati hijaunya hutan, atau hanya mengenalnya dari cerita?
Tidak cukup sampai cerita, kini kabut asap karhutla masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan selama hampir dua bulan terakhir.
Kabut asap yang mulai menyebar ke Palembang membuat salah satu warga yang bekerja hariannya sebagai ojol (ojek online) mengalami sesak nafas dan meninggal dunia. Rita Yunita mengatakan suaminya, almarhum Ardiansyah, memang memiliki riwayat asma, yang membuat kondisinya makin parah. Meski sudah ditangani secara medis namun nyawanya tetap tidak tertolong. (CNN Indonesia, 3/10/2026)
Kondisi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan keselamatan jiwa. kualitas udara yang berada pada fase “membahayakan” menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas melampaui kawasan kebakaran.
Bagaimana tidak dibilang "membahayakan" jika asap yang mengandung partikel halus, terutama PM2.5 (adalah partikel udara yang berukuran sangat kecil, yaitu kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer (μ m) (sekitar 1/30 hingga 1/20 dari diameter rambut manusia) dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan mencapai aliran darah.
Paparan tersebut dapat memicu iritasi saluran pernapasan, memperburuk penyakit paru-paru, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular (sistem organ pada tubuh manusia yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah). Dengan demikian, masyarakat yang tinggal jauh dari titik api pun dapat terdampak apabila asap menyebar ke wilayah permukiman.
Sehingga makin memperburuk bagi kelompok rentan, yang punya penyakit bawaan seperti asma. Kasus warga kehilangan nyawa diduga akibat asap terus bermunculan. Fakta yang terjadi pada pengemudi ojol dan kasus warga lainnya, yang diduga tiba-tiba sesak nafas dan akhirnya meninggal.
Mari gunakan akal sehat, dan ketajaman berpikir agar kritis menyikapi setiap masalah di tengah negeri ini, begitupun dengan masalah karhutla. Sudah 4 bulan hal tersebut terus meluas, dan mustahil akan meluas jika diatasi dengan benar. Namun faktanya negara gagal melindungi keselamatan masyarakat yang terdampak.
Sampai kapan hanya disibukkan dengan memadamkan api, sementara sebab utamanya terus dipelihara?
Inilah sistem sekuler kapitalisme yang tidak sesuai fitrah manusia, di mana sebagai manusia yang memiliki naluri berkasih sayang, peduli dengan sesama maupun lingkunan. Namun hal tersebut tidak berfungsi lagi pada sistem buatan manusia ini.
Ya kebijakan yang dibuat dalam pengelolaan hutan dalam sistem sekuler kapitalis ini membawa petaka lingkungan, ekonomi dan kesehatan. Hampir tiap tahun bencana kebakaran hutan terjadi dengan pola yang sama, dari akibat pembuangan puntung rokok yang sembarangan ataupun alasan cuaca ekstrem (Elnino). Jikapun tersangka yang menyebabkan hutan terbakar tertangkap, sanksi yang dijatuhkan tidak tegas dan tidak memberi efek jera sehingga hal yang serupa terulang kembali.
Kebakaran lahan gambut bawah tanah ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan dampak nyata dari eksploitasi lahan yang ugal-ugalan demi syahwat kapitalistik. Ketika lahan dan hutan diserahkan kepada oligarki korporasi atas nama investasi, keseimbangan runtuh. Para relawan dan rakyat berjibaku untuk memadamkan api dibawah kepulan asap. Sementara para pemilik modal duduk manis menikmati keuntungan di ruang ber AC.
Inilah wajah asli sistem sekuler kapitalis, tidak ada yang mampu mengehentikan api yang terus meluas. Negara pun setengah hati melalukan upaya-upaya pemadaman, ada pun yang berkomentar "jika karhutla sudah membaik", sebenarnya yang mereka pimpin rakyat yang mana? Dengan leluasa mengucapkan sudah "membaik". Sungguh kata-kata tidak pantas dan seharusnya tidak dikeluarkan dari para pemangku jabatan.
Berbeda dalam sistem
Islam hadir bukan hanya sekadar mengatur ibadah mahdah saja (syahadat, sholat, puasa, zakat, haji atau umroh) namun Islam mengatur seluruh kehidupan, dari bangun tidur sampai bangun negara. Begitupan dengan kesehatan yang merupakan hak dasar yang wajib dijamin oleh negara. Terlebih dalam kondisi darurat karhutla, penanganan kesehatan harus menjadi prioritas.
Sebagaimana kisah pada ke khalifahan Umar bin Khattab yang merasa khawatir jika ada hewan yang terperosok ke dalam jalan yang berlubang: "Seandainya ada seekor keledai (atau anak kambing) terperosok di kota Bagdad (atau di wilayah Syam/Irak) karena jalanan rusak, aku takut Allah akan menuntutku di hari kiamat kelak dengan pertanyaan: 'Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'"
Inilah kemuliaan sistem Islam sampai binatang akan diperhatikan apalagi manusia, begitupun dengan hutannya akan dijaga agar tetap lestari.
Syariat menetapkan negara sebagai ra'in (pengurus atau pengembala) dan junnah (pelindung) pelaksanaannya harus maksimal. Karena setiap apa yang dipimpinnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Tugas pemimpin negara (khalifah) memastikan, agar rakyatnya mendapatkan perlindungan, keamanan, keadilan, serta terpenuhinya hak-hak mereka sesuai dengan syariat Islam. Serta mengembalika naluri nya sesuai fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. yaitu naluri Nau (berkasih sayang dan kepedulian terhadap sesama) sehingga tidak akan ditemukan pemimpin yang pro terhadap oligarki. Karena keselamatan rakyat menjadi prioritas.
Jika masih ada yang melakukan kerusakan, maka penerapan sanksi terhadap pelaku kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sistem Islam dilakukan secara tegas, dan adil sesuai dengan syariat Islam.
Pelaku yang terbukti melakukan pembakaran hutan hingga merusak lingkungan dan merugikan masyarakat dapat dikenai sanksi (ta’zir) yaitu hukuman yang ditetapkan oleh khalifah atau pihak berwenang, disertai kewajiban mengganti kerugian sesuai ketentuan yang berlaku.
Allah Swt. telah mengingatkan dalam Ayat-Nya: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-A'raf:56)
Sungguh Allah Swt. Yang Maha Rahman Rahim, senantiasa memberi peringatan agar manusia segera menyadari kesalahannya, bertobat, dan kembali kepada jalan yang benar. Agar bencana alam (seperti kebakaran, kekeringan, banjir), hilangnya keberkahan, pencemaran, hingga kerusakan moral dan nilai-nilai kehidupan, tidak terulang.
Karena semua kerusakan yang terjadi akibat ulah tanga manusia, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS-Ar-Rum:41)
Mari kita jaga sumber daya alam negeri ini dengan sistem Islam, cara nya berjuang bersama dengan para pengemban dakwah ideologis yang semata-mata mengharap ridha Allah. Bukan popularitas atau jabatan semata.
Wallahua'lam bis shawwab
