Memuat...

Murah Tapi Mematikan: Drone ‘Shahed’ Iran Paksa AS Mengubah Strategi Perang

Samir Musa
Ahad, 8 Maret 2026 / 19 Ramadan 1447 16:03
Murah Tapi Mematikan: Drone ‘Shahed’ Iran Paksa AS Mengubah Strategi Perang
Drone Iran “Shahed” telah menunjukkan perannya dalam perang Ukraina sebelum kemudian menjadi ciri menonjol dalam respons Teheran terhadap serangan Amerika. (Shutterstock)

WASHINGTON (Arrahmah id) — Perang antara Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya mulai menunjukkan pola baru: perlombaan produksi dan peniruan drone murah yang mampu mengubah arah pertempuran modern.

Menurut laporan The New York Times, sejak dimulainya perang terhadap Iran, militer Amerika Serikat terus mencari cara murah untuk menghadapi gelombang serangan pesawat nirawak Shahed buatan Iran yang diluncurkan ke berbagai wilayah di Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika dan “Israel”.

Dalam perkembangan terbaru, Amerika Serikat bahkan merespons dengan cara yang tak lazim: membuat versi tiruan dari drone tersebut.

Shaheed drone

Laporan itu menyebutkan bahwa militer AS merancang drone yang meniru karakteristik Shahed untuk keperluan pelatihan tembak dan pengembangan sistem pertahanan baru terhadap senjata murah yang kini digunakan Iran bersama sejumlah sekutunya, termasuk Rusia dan Venezuela.

Dari program tersebut lahirlah drone bernama Lucas, sebuah pesawat nirawak berbiaya rendah yang pertama kali digunakan pekan lalu dalam operasi untuk menyerang infrastruktur serta mengacaukan sistem pertahanan udara Iran.

Drone Murah Ubah Pola Perang

The New York Times menilai penggunaan drone murah kini menjadi ciri utama perang modern, khususnya dalam konflik yang melibatkan Iran. Fenomena ini mencerminkan cepatnya proses adaptasi teknologi militer, di mana negara-negara berlomba meniru taktik lawan dan memproduksi senjata murah dalam jumlah besar.

Drone murah seperti Shahed dan Lucas memiliki ukuran dan kemampuan yang hampir serupa. Keduanya memiliki panjang sekitar tiga meter dengan bentang sayap sekitar dua setengah meter. Biaya produksi masing-masing diperkirakan sekitar 35 ribu dolar AS.

LUCAS drone

Drone tersebut membawa bahan peledak di bagian depan yang akan meledak saat menghantam target. Dengan memasukkan koordinat sasaran, pesawat ini mampu terbang secara mandiri hingga ratusan kilometer.

Secara bentuk, drone ini menyerupai jet tempur mini. Kehadirannya memungkinkan serangan yang sebelumnya membutuhkan rentetan rudal mahal kini dapat dilakukan dengan biaya jauh lebih rendah.

Akibatnya, berbagai wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman dari konflik kini menjadi rentan diserang, termasuk kota-kota di kawasan Teluk.

Mantan pejabat militer AS Michael Horowitz mengatakan perkembangan perangkat lunak otonom, kecepatan produksi, dan penyebaran sistem navigasi presisi akan menjadikan drone murah sebagai fitur permanen dalam peperangan masa depan.

Teknologi dan Produksi

Drone Lucas diproduksi oleh perusahaan teknologi militer Spektre Works. Para analis pertahanan memperkirakan pesawat tersebut menggunakan versi militer dari sistem satelit Starlink milik Elon Musk, yang dikenal sebagai Starshield, untuk navigasi.

Lauren Kahn, mantan penasihat kebijakan di Pentagon, menilai fenomena ini mengingatkan pada dinamika awal Perang Dingin.

Menurutnya, ini merupakan salah satu contoh ketika Amerika Serikat melihat teknologi yang dikembangkan oleh lawannya mampu menutup celah militer tertentu, sehingga Washington kemudian memutuskan untuk mengembangkan teknologi yang sama.

Kelemahan Drone Murah

Meski efektif, drone murah juga memiliki sejumlah kelemahan. The New York Times mencatat bahwa pesawat ini relatif lambat dan mengeluarkan suara dengung yang cukup keras, sehingga lebih mudah dideteksi.

Selain itu, ukurannya yang kecil membatasi kapasitas bahan peledak yang dapat dibawa, sehingga daya rusaknya terbatas. Drone semacam ini juga rentan terhadap gangguan perang elektronik yang dapat mengacaukan sistem navigasinya.

Namun para analis memperkirakan kemampuan drone murah akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan.

Para anggota parlemen berselisih mengenai alasan di balik serangan Trump terhadap Iran, seiring Kongres berupaya membatasi kekuasaan eksekutif dalam perang. (Foto: Ilustrasi oleh Palestine Chronicle)

Presiden AS Donald Trump bahkan mengalokasikan dana sekitar 1,1 miliar dolar pada tahun lalu untuk program pengembangan dan pengendalian drone, dengan tujuan memproduksi ribuan drone serang murah yang dapat digunakan dalam perang modern.

Militer AS juga telah menandatangani kontrak dengan sejumlah perusahaan teknologi militer swasta untuk memasok drone canggih yang dapat beroperasi bersama drone murah, sehingga tercipta kombinasi antara presisi tinggi dan kemampuan serangan massal.

Senjata untuk Menciptakan Kekacauan

Laporan tersebut juga menyoroti penggunaan drone Iran dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat dan “Israel”. Berbagai video yang beredar menunjukkan drone tersebut menyerang sasaran di sejumlah negara Teluk, bahkan menyebabkan gangguan besar terhadap lalu lintas penerbangan di kawasan tersebut.

Selain kerusakan fisik, tujuan utama penggunaan drone ini adalah menciptakan kekacauan dan menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat, sehingga memicu ketidakstabilan ekonomi.

Farzin Nadimi

Hal ini disampaikan oleh Farzin Nadimi, pakar keamanan Iran dan peneliti senior di Washington Institute.

Ia menyebut Iran menyimpan ribuan drone di berbagai lokasi tersembunyi seperti gua dan bunker. Dengan persediaan tersebut, Iran diperkirakan mampu meluncurkan serangan ratusan drone setiap hari selama beberapa minggu.

Drone tersebut juga relatif mudah diluncurkan karena biasanya hanya membutuhkan peluncur berbentuk kontainer yang dipasang di atas truk.

Menariknya, meski bergerak lambat dan terbang rendah, drone jenis ini justru sulit dideteksi oleh sistem pertahanan udara modern. Di sisi lain, biaya untuk mencegatnya sangat mahal—satu rudal pencegat bisa menelan biaya hingga 3 juta dolar.

Pelajaran dari Ukraina

Penggunaan drone Shahed sebelumnya telah meluas dalam perang Rusia melawan Ukraina. Rusia bahkan membangun pabrik khusus untuk memproduksi drone tersebut secara lokal.

Beberapa modifikasi yang dikembangkan Rusia, seperti sensor yang lebih baik serta sistem navigasi dan penargetan otomatis, kemudian turut diadopsi oleh Iran.

Sementara itu, Ukraina mengembangkan metode deteksi alternatif untuk menghadapi drone tersebut, termasuk menggunakan kamera optik dan sensor suara.

Untuk menjatuhkan drone, Ukraina menggunakan berbagai cara mulai dari senapan mesin, sistem perang elektronik, jaring penangkap, hingga drone lain.

Di tengah meningkatnya ancaman ini, sejumlah pejabat Amerika serta para pemimpin di Uni Emirat Arab dan Qatar dilaporkan tertarik memperoleh teknologi pertahanan baru untuk menghadapi drone Iran, terutama karena persediaan sistem pertahanan mahal semakin terbatas.

Dengan biaya produksi yang murah namun kemampuan mengganggu yang besar, drone kini menjadi salah satu senjata paling menentukan dalam peperangan modern.

(Samirmusa/arrahmah.id)