KABUL (Arrahmah.id) - Pameran pertambangan pertama di Afghanistan resmi dibuka di Kabul, yang dihadiri oleh para pejabat senior dari Imarah Islam serta sejumlah perwakilan dari negara-negara tetangga dan kawasan.
Abdul Salam Hanafi, Wakil Perdana Menteri untuk Urusan Administrasi, menyatakan dalam upacara pembukaan bahwa Afghanistan memiliki beragam sumber daya mineral—termasuk litium, emas, batu zamrud, minyak, dan gas—dan pemerintah tengah berupaya menciptakan peluang investasi di sektor tersebut.
Ia menambahkan bahwa berbagai langkah telah disiapkan untuk memfasilitasi investasi, seperti pengurangan pajak, penyederhanaan prosedur perizinan, serta penyediaan lahan bagi para investor, seperti dilansir Tolo News (28/10/2026).
Hanafi mengatakan: “Upaya kami difokuskan untuk memastikan bahwa sumber daya mineral Afghanistan diekstraksi dan diolah secara ilmiah dan profesional, sehingga di satu sisi, negara kita tercinta dapat mencapai kemakmuran, dan di sisi lain, tercipta lapangan kerja bagi warga negara kita.”
Sementara itu, Nooruddin Azizi, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Imarah Islam Afghanistan, menyinggung perihal ekspor mineral negara tersebut di masa lalu.
“Dahulu, marmer, batu lapis lazuli, batu hias, dan berbagai mineral mentah lainnya dari Afghanistan diekspor dengan mengatasnamakan negara lain. Hampir 12.000 ton material tersebut dikumpulkan dan diangkut ke luar negeri dalam setiap pengapalan. Syukurlah, praktik semacam ini kini telah dihentikan,” ujar Azizi.
Menteri Pertambangan dan Perminyakan menyatakan bahwa pemanfaatan sumber daya mineral secara tepat serta pengembangan pengolahan di dalam negeri dapat membantu meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pembangunan ekonomi.
Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 180.000 orang yang bekerja di sektor pertambangan Afghanistan, dengan 350 kontrak pertambangan—baik skala kecil maupun besar—yang sedang berjalan.
Hedayatullah Badri, Menteri Pertambangan dan Perminyakan, mengatakan: “Terdapat lebih dari 350 kontrak pertambangan yang aktif, 44 di antaranya merupakan kontrak untuk operasi skala besar. Selain itu, sebanyak 1.510 izin profesional untuk ekstraksi batu permata telah diterbitkan di seluruh wilayah Afghanistan.” Shahabuddin Delawar, kepala Bulan Sabit Merah Afghanistan, menambahkan: “Hari ini, setelah mengatasi situasi yang sangat sulit, kita melangkah menuju kemajuan—tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga di bidang kelistrikan, layanan publik, urusan kota, dan pertanian.”
Perusahaan-perusahaan dari Afghanistan, India, Iran, dan Tiongkok berpartisipasi dalam pameran ini, menampilkan produk-produk mineral serta layanan terkait di 150 stan.
Mirwais Hotak, salah satu peserta pameran, mengatakan: “Kami sangat senang karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Afghanistan, sektor pertambangan memiliki kesempatan untuk menyelenggarakan pameran, yang memungkinkan para pengusaha di negara ini untuk saling bertukar gagasan.”
Khwaja Sher Wais, peserta pameran lainnya, menambahkan: “Pameran ini membantu kami memperkenalkan produk kami ke pasar dan memperluas hubungan dengan perusahaan-perusahaan asing.”
Pameran yang berlangsung selama empat hari ini, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertambangan dan Perminyakan di Kabul, bertujuan untuk menampilkan potensi mineral Afghanistan, menarik investasi, serta mendorong pengolahan sumber daya mineral di dalam negeri. (haninmazaya/arrahmah.id)
