Memuat...

Trump: Model Venezuela Adalah Skenario Terbaik untuk Masa Depan Iran

Zarah Amala
Senin, 2 Maret 2026 / 13 Ramadan 1447 10:07
Trump: Model Venezuela Adalah Skenario Terbaik untuk Masa Depan Iran
Trump: Apa yang kita lakukan di Venezuela adalah skenario sempurna bagi Iran (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Dalam pernyataan yang mencerminkan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan garis besar strategi militer yang bertujuan untuk menundukkan Teheran sepenuhnya di bawah kehendak Amerika Serikat dan 'Israel'. Trump menegaskan bahwa serangan gabungan yang dimulai Sabtu lalu (28/2/2026) hanyalah awal dari operasi yang bisa berlangsung lebih dari sebulan.

Trump mengutip "Model Venezuela" sebagai skenario ideal untuk menangani Teheran, menyerukan angkatan bersenjata dan Garda Revolusi Iran untuk meletakkan senjata dan menyerahkannya kepada rakyat Iran sebagai imbalan atas kekebalan (amnesti), atau menghadapi kematian.

Trump mengklaim memiliki 3 opsi (tokoh) yang siap memimpin masa transisi di Iran, namun ia menolak mengungkapkan nama-nama mereka sampai "misi selesai".

Presiden AS menyatakan kesiapan bersyarat untuk mencabut sanksi ekonomi jika kepemimpinan baru menunjukkan sikap "pragmatis" untuk menjadi mitra Washington.

Trump menyatakan kepuasan penuh atas jalannya operasi militer, mencatat bahwa militer AS bergerak lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Ia mengonfirmasi penghancuran markas besar Angkatan Laut Iran dan 9 kapal perang secara total. Trump menyatakan bahwa Pentagon memiliki jumlah rudal dan bom yang sangat besar yang disimpan di seluruh dunia, memungkinkan serangan berlanjut selama 4 hingga 5 pekan tambahan jika diperlukan.

Trump menilai kemampuan pertahanan Iran telah lumpuh secara signifikan setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan puluhan komandan militer.

Pernyataan Trump muncul di saat kawasan mengalami eskalasi berbahaya, di mana respons Iran tidak hanya menyasar 'Israel', tetapi juga negara-negara Teluk (Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, Oman) serta Yordania. Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggambarkan serangan ini sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan eskalasi yang mengancam stabilitas seluruh kawasan. (zarahamala/arrahmah.id)