YERUSALEM (Arrahmah.id) - Ribuan pemukim 'Israel' menggelar Pawai Bendera yang provokatif melalui wilayah Yerusalem Timur yang diduduki untuk memperingati Hari Yerusalem. Aksi ini diwarnai dengan serangan terhadap warga sipil, jurnalis, serta retorika keras dari menteri kabinet 'Israel' yang menuntut penghancuran masjid-masjid di kompleks Al-Aqsha.
Di bawah penjagaan ketat ribuan polisi, para peserta pawai bergerak melewati pemukiman Palestina sambil meneriakkan slogan-slogan rasis seperti "Mampus Arab". Massa juga dilaporkan menyerang penduduk setempat dan jurnalis yang meliput di Kota Tua.
Situasi mencapai puncak ketegangan ketika Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Yitzhak Wasserlauf memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa.
Di depan Kubah Batu (Dome of the Rock), Ben-Gvir mengibarkan bendera 'Israel' dan mendeklarasikan, "Hari ini, lebih dari sebelumnya, Temple Mount (Al-Aqsha) ada di tangan kita!"
Anggota parlemen Yitzhak Kroizer, yang mendampingi Ben-Gvir, bahkan secara terbuka menyerukan penghancuran masjid. "Sudah waktunya untuk menyingkirkan semua masjid dan mulai membangun Kuil (Yahudi)!" tulisnya dalam unggahan media sosial.
Kekerasan Terhadap Jurnalis dan Warga
Sebelum pawai resmi dimulai, gerombolan remaja 'Israel' dilaporkan telah melakukan pelecehan sistematis di Kota Tua Yerusalem.
Massa melemparkan kursi, air, hingga kopi ke arah pejalan kaki dan jurnalis. Wartawan Haaretz, Linda Dayan, dilaporkan didorong oleh petugas polisi dan diserang dengan siraman air oleh massa meski mengenakan kartu pers.
Ponsel milik seorang jurnalis dilaporkan dicuri oleh massa di tengah kekacauan tersebut.
Selama pawai berlangsung, pasukan 'Israel' secara kasar menghalangi jemaah Palestina untuk mengakses Masjid Al-Aqsa, sementara di saat yang sama memfasilitasi penyerbuan skala besar oleh para pemukim.
"Pawai Bendera" merupakan acara tahunan untuk memperingati pendudukan 'Israel' atas Yerusalem Timur pada Perang Enam Hari 1967. Bagi warga Palestina, aksi ini dianggap sebagai penghinaan nasional dan simbol penindasan, karena rute pawai sengaja melewati area sensitif Palestina guna menegaskan kendali sepihak 'Israel' atas kota suci tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
