Memuat...

Kesaksian Perwira 'Israel' atas Pertempuran di Rafah, Tinggalkan Trauma Psikologis

Zarah Amala
Jumat, 15 Mei 2026 / 28 Zulkaidah 1447 10:56
Kesaksian Perwira 'Israel' atas Pertempuran di Rafah, Tinggalkan Trauma Psikologis
Tentara Israel menjadi sasaran perlawanan Palestina di Gaza. (Foto: cuplikan video)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' merilis wawancara terbuka namun anonim dengan seorang perwira berpangkat Mayor (A), mantan komandan kompi di Brigade Nahal, yang menggambarkan kengerian pertempuran di lingkungan Tel al-Sultan, Rafah. Dalam wawancara tersebut, sang perwira mengungkapkan penderitaan fisik yang luar biasa, penghinaan diri selama masa perawatan, hingga trauma psikologis yang membekas.

Mayor (A) menggambarkan Tel al-Sultan sebagai medan tempur yang menyesakkan. Dengan bangunan yang padat dan gang-gang yang sangat sempit, ia mengaku pasukannya seringkali harus berjalan menyamping di antara gedung-gedung tinggi sambil menghadapi bahaya yang mengintai dari segala arah.

Insiden yang mengubah hidupnya terjadi saat unitnya terjebak dalam sebuah penyergapan hebat oleh pejuang perlawanan Palestina.

"Saya pernah ditembak beberapa kali dalam hidup saya, tetapi saya belum pernah mendengar rentetan senjata sekuat itu," ujarnya.

Saat mencoba menolong prajuritnya yang tumbang, Mayor (A) terkena tembakan tepat di arteri utama kakinya. Ia menelan trauma mendalam saat dievakuasi di dalam helikopter, di mana ia harus berjuang melawan pendarahan hebat tepat di samping jenazah prajuritnya.

Proses Amputasi yang Menyakitkan

Perjalanan medis sang perwira digambarkan sebagai fase yang menghinakan. Setelah menjalani operasi selama 10 jam dan kehilangan berat badan drastis hingga hanya tersisa 60 kilogram, ia harus bergantung sepenuhnya pada perawat untuk tugas dasar harian.

Luka tembaknya mengalami infeksi parah dan arterinya berulang kali pecah di ruang perawatan.

Dokter akhirnya memberikan dua pilihan: mempertahankan kaki dengan risiko kematian akibat pendarahan terus-menerus, atau amputasi. Ia akhirnya memilih amputasi demi mempertahankan nyawanya.

Trauma Psikologis dan Rasa Takut yang Menetap

Meskipun kini telah menggunakan kaki palsu, penderitaannya belum berakhir. Ia mengaku mengalami phantom limb pain (rasa sakit pada bagian tubuh yang sudah tidak ada) dan kesulitan beradaptasi dengan alat bantu jalan.

Selain luka fisik, sang perwira mengakui bahwa mentalnya terganggu oleh insiden di Shuja'iyya pada Desember 2023, di mana tentara 'Israel' secara tidak sengaja menembak mati tiga tawanan 'Israel' sendiri. Kejadian tersebut terus menghantuinya selama penugasan dan ia menegaskan bahwa rasa takut serta ketegangan tinggi adalah teman setia bagi setiap tentara 'Israel' yang beroperasi di Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)