YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir kembali memicu kontroversi setelah mengibarkan bendera 'Israel' di kompleks Masjid Al-Aqsa bersama anggota parlemen sayap kanan yang menyerukan penghancuran masjid-masjid di kawasan tersebut untuk membangun kembali Kuil Yahudi.
Aksi itu terjadi di kompleks Masjid Al-Aqsa atau Temple Mount di Yerusalem Timur pada peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem Timur. Ben Gvir memasuki kawasan suci tersebut dengan pengawalan ketat aparat keamanan Israel bersama anggota Knesset dari kelompok kanan jauh.
Dilansir Anadolu Agency dan The Times of Israel (15/5/2026), salah satu politikus yang mendampingi Ben Gvir secara terbuka menyerukan penghapusan seluruh masjid di kompleks tersebut dan pembangunan “Third Temple” Yahudi.
https://www.youtube.com/shorts/vICUIRLsWtM
“Kita harus menyingkirkan semua masjid dan membangun Bait Suci,” ujar anggota parlemen sayap kanan itu sebagaimana dikutip The Times of Israel.
Kunjungan Ben Gvir ke Al-Aqsa langsung memicu kecaman dari Palestina dan sejumlah negara Muslim. Otoritas Palestina menyebut tindakan tersebut sebagai “provokasi berbahaya” yang dapat memperburuk ketegangan di Yerusalem.
“Penyerbuan ini adalah upaya memaksakan realitas baru di situs suci Islam,” ujar pejabat Palestina sebagaimana dikutip Anadolu Agency.
Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga umat Islam dan juga dianggap suci oleh Yahudi sebagai lokasi bekas kuil kuno Yahudi. Status kawasan tersebut selama puluhan tahun menjadi sumber ketegangan antara 'Israel' dan Palestina.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ben Gvir berulang kali melakukan kunjungan kontroversial ke Al-Aqsa yang memicu kecaman internasional. Kelompok sayap kanan 'Israel' juga semakin terbuka menyerukan perubahan status quo kawasan suci tersebut.
Pengamat Timur Tengah menilai meningkatnya aktivitas politikus kanan jauh di Al-Aqsa berpotensi memperbesar konflik agama dan politik di Yerusalem, terutama di tengah situasi keamanan kawasan yang masih sangat rapuh akibat perang Gaza dan ketegangan regional. (hanoum/arrahmah.id)
