ANKARA (Arrahmah.id) -- Pemerintah Turki menangkap ratusan orang yang diduga terkait kelompok militan dalam operasi keamanan besar-besaran di berbagai wilayah negara itu, sebagai bagian dari upaya Ankara memperketat pemberantasan jaringan ekstremis.
Kementerian Dalam Negeri Turki menyatakan, seperti dilansir AP (13/5/2026), sedikitnya 324 orang ditahan dalam operasi serentak yang berlangsung di 47 provinsi pada 13 Mei 2026. Para tersangka diduga memiliki hubungan dengan kelompok militan atau terlibat dalam aktivitas pendanaan dan perekrutan kelompok militan tersebut.
Menurut laporan Al Arabiya, aparat keamanan Turki melakukan penggerebekan terkoordinasi di sejumlah kota besar termasuk Istanbul, Ankara, dan Gaziantep.
Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, menegaskan operasi tersebut merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan melawan kelompok ekstremis.
“Demi perdamaian, persatuan, dan solidaritas bangsa kami, operasi terus dilakukan tanpa henti siang dan malam,” ujar Ali Yerlikaya.
Pemerintah Turki tidak mengungkap identitas maupun kewarganegaraan seluruh tersangka, namun menyebut sebagian dari mereka telah lama dipantau aparat keamanan karena diduga aktif dalam jaringan kelompok militan.
Turki dalam beberapa tahun terakhir terus menghadapi ancaman dari kelompok militan khususnya kelompok Islamic State (ISIS), baik melalui serangan langsung maupun aktivitas sel tidur. Negara itu pernah mengalami sejumlah serangan besar ISIS, termasuk penembakan klub malam Reina di Istanbul pada 2017 yang menewaskan puluhan orang.
Ankara juga meningkatkan operasi keamanan setelah beberapa insiden bersenjata terkait ISIS terjadi sepanjang 2025 hingga 2026, termasuk bentrokan aparat dengan militan di wilayah barat laut Turki dan serangan dekat Konsulat Israel di Istanbul.
Pengamat keamanan menilai operasi terbaru menunjukkan Turki masih memandang ancaman ISIS sebagai isu serius di tengah meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat konflik di Suriah dan Irak. (hanoum/arrahmah.id)
